• IHSG melanjutkan penurunan 0,33% ke 6.277 pada pukul 09.52 WIB setelah sempat menguat hingga 6.328 pada awal perdagangan Jumat.
  • Teknologi tetap melaju 1,30%, tetapi pelemahan meluas dengan sektor industri turun 1,22% dan infrastruktur 1,00%.
  • Bursa Asia bergerak beragam, sementara pasar mencerna hasil Trump–Xi, imbal hasil Treasury AS yang tinggi, dan koreksi harga minyak

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka lebih kuat di 6.315 pada perdagangan Jumat, 25 September 2026, tetapi gagal mempertahankan penguatan tersebut. Setelah sempat menyentuh 6.328, IHSG berbalik turun 20 poin atau 0,33% ke 6.277 pada pukul 09.52 WIB, dengan level terendah sementara di 6.273. Tekanan meluas ke sebagian besar sektor, meski saham teknologi masih bertahan kuat, di tengah koreksi harga minyak dan sentimen global yang tetap bercampur setelah pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Teknologi Pimpin Penguatan, Kredit Indonesia Tetap Solid

Sektor teknologi masih menonjol dengan kenaikan 1,30%, disusul siklikal yang bertambah 0,31%. Namun, keduanya belum cukup menahan tekanan dari sektor lain. Industri menjadi sektor dengan penurunan terdalam sebesar 1,22%, diikuti infrastruktur 1,00%, transportasi 0,68%, serta konsumer nonprimer 0,48%.

Tekanan juga muncul pada properti yang turun 0,46%, keuangan 0,34%, energi 0,30%, kesehatan 0,19%, dan bahan baku 0,11%. Indeks saham berkapitalisasi besar ikut berbalik melemah, dengan LQ45 turun 0,19% ke 622 dan IDX30 kehilangan 0,19% ke 344.

Di tingkat saham, DSSA naik Rp10 ke Rp1.100, sementara BBCA stagnan di Rp6.225. BUMI turun Rp1 ke Rp184, TLKM melemah Rp20 ke Rp2.390, dan BULL turun 2% atau Rp8 menjadi Rp372.

Dari dalam negeri, data Bank Indonesia kemarin menunjukkan uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp10.448,1 triliun pada Agustus, tumbuh 8,2% secara tahunan, sedikit melambat dari 8,3% pada Juli. Di sisi lain, pertumbuhan kredit meningkat menjadi 13,3% dari 13,0%, menunjukkan penyaluran pembiayaan masih menguat meskipun laju pertumbuhan likuiditas sedikit berkurang.

Asia Beragam, Pertemuan Trump–Xi Belum Membawa Terobosan Besar

Pergerakan IHSG berlangsung ketika bursa Asia tidak menunjukkan arah seragam. Nikkei Jepang naik 1,27% ke 66.342 dan Kospi Korea Selatan menguat 0,90% ke 7.080. Sebaliknya, Hang Seng Hong Kong merosot 1,50% ke 24.389 dan Shanghai Composite turun 1,22% ke 3.888. ASX Australia melemah 0,46%, sedangkan Straits Times Singapura turun 0,12%.

Pasar juga mencerna hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Xi menyatakan kedua pihak mencapai kesepakatan luas dalam sejumlah isu dan menghasilkan pengaturan baru dari perundingan perdagangan. Sementara itu, AS dan Tiongkok memperpanjang gencatan perdagangan hingga 10 Januari 2027. Namun, pertemuan tersebut belum menunjukkan terobosan besar dalam persoalan yang lebih rumit seperti perdagangan, AI, Taiwan, dan Iran. Perpanjangan gencatan dagang hingga Januari telah dikonfirmasi oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent.

Wall Street sebelumnya bergerak nyaris datar. Dow Jones turun 0,31% ke 51.349 dan S&P 500 melemah tipis 0,025% ke 7.704, sementara Nasdaq naik 0,012% menjadi 26.939. Di pasar obligasi, yield US Treasury 10 tahun berada di 5,192% dan tenor 30 tahun di 5,48%. Level tersebut tetap tinggi meskipun keduanya turun tipis pada Jumat pagi.

Harga minyak, sementara itu, mulai terkoreksi setelah kenaikan sebelumnya. WTI turun 1,47% ke US$93,22 per barel dan Brent melemah 0,72% menjadi US$105,83. Penurunan minyak memberi sedikit kelegaan bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia, tetapi belum cukup mengimbangi kehati-hatian pasar terhadap tingginya imbal hasil AS dan minimnya terobosan dari pertemuan Trump–Xi.

IHSG Masih dalam Descending Channel, Support 6.230 jadi Kunci

Grafik Harian IHSG
Grafik Harian IHSG

IHSG Jumat pagi masih berada dalam tekanan bearish setelah berbalik turun ke sekitar 6.277 dan tetap bergerak di dalam descending channel. Indeks kini mendekati batas bawah Bollinger Band di sekitar 6.245 serta support horizontal 6.230 (terendah 11 Agustus), sehingga area 6.245–6.230 menjadi zona pertahanan terdekat. Relative Strength Index (RSI) berada di 38,89, menunjukkan momentum jual masih dominan meski belum memasuki wilayah jenuh jual (oversold). Jika 6.230 ditembus secara meyakinkan, tekanan berpotensi berlanjut menuju support berikutnya di sekitar 6.029 (terendah 29 Juli).

Di sisi atas, pemulihan IHSG perlu terlebih dahulu menembus 6.462 (terendah 11 September, yang sekarang menjadi resistance) untuk meredakan tekanan jangka pendek. Resistance berikutnya berada di kisaran 6.504–6.544, yang berdekatan dengan garis tengah Bollinger Band dan Moving Average 100 periode pada grafik. Selama indeks bertahan di bawah zona tersebut dan descending channel belum dipatahkan, kenaikan masih cenderung menjadi rebound terbatas daripada perubahan tren yang lebih kuat.

Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia

Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.

Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.

Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.

Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Turun di Bawah US$4.300 karena Kenaikan Minyak dan Sikap Hawkish The Fed Menekan Daya Tarik

Emas Turun di Bawah US$4.300 karena Kenaikan Minyak dan Sikap Hawkish The Fed Menekan Daya Tarik

Harga emas (XAU/USD) turun mendekati US$4.275 selama awal sesi Asia pada hari Jumat. Logam mulia ini memperpanjang penurunan di tengah meningkatnya spekulasi atas kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) lebih lanjut tahun ini. Presiden The Fed New York John Williams dan Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack dijadwalkan berbicara nanti pada hari ini.
WTI Turun Mendekati US$92,50 karena Potensi Kesepakatan AS–Iran

WTI Turun Mendekati US$92,50 karena Potensi Kesepakatan AS–Iran

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun setelah dua hari kenaikan, diperdagangkan di sekitar US$92,60 per barel selama sesi perdagangan Asia pada hari Jumat. Harga minyak mentah terdepresiasi di tengah laporan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran sedang mempertimbangkan kesepakatan bertahap untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mencabut blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Prakiraan Harga Dolar Australia: Bias Bearish di Bawah 0,7000

Prakiraan Harga Dolar Australia: Bias Bearish di Bawah 0,7000

Dolar Australia (AUD) tetap berada dalam posisi defensif untuk hari keempat berturut-turut pada hari Kamis, mendorong AUD/USD berada di bawah tekanan tambahan dan mendekati zona kunci 0,7000.
Bitcoin Rebut Kembali US$84.000, Ethereum Menuju Level Tertinggi Baru-Baru Ini, XRP Melanjutkan Pemulihan

Bitcoin Rebut Kembali US$84.000, Ethereum Menuju Level Tertinggi Baru-Baru Ini, XRP Melanjutkan Pemulihan

Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan Ripple (XRP) melanjutkan pemulihan mereka pada hari Jumat setelah pullback baru-baru ini, karena para investor menunjukkan minat beli yang kembali meningkat. BTC merebut kembali level US$84.000, ETH bergerak kembali di atas US$2.688 sementara XRP melanjutkan kenaikan baru-baru ini. Aksi harga dari tiga mata uang kripto teratas ini akan menjadi krusial saat para bull berupaya mempertahankan rebound dan menantang level-level resistance utama.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Jumat, 25 September:

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Jumat, 25 September:

Dolar AS (USD) diperdagangkan dengan kenaikan untuk hari keempat berturut-turut pada hari Kamis, berhasil kembali ke level yang terakhir terlihat pada akhir Juli. Sementara itu, pengetatan lebih lanjut oleh The Fed tetap menjadi pusat hampir setiap perdebatan, sementara ketidakpastian yang terus berlanjut di front geopolitik juga turut berkontribusi pada kenaikan dolar.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA