USD/IDR: Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.880, tapi Melemah 0,31% Sepekan di Tengah Sikap Hawkish The Fed


  • Kurs Rupiah menguat tipis 0,03% ke Rp17.880 pada Jumat, tetapi masih melemah 0,31% dari penutupan Senin.
  • Dolar AS tetap kokoh dengan DXY di sekitar 101,13, ditopang nada hawkish The Fed, sementara imbal hasil Treasury 10-tahun bertahan tinggi di 5,17%.
  • Tekanan eksternal sedikit mereda setelah harga minyak terkoreksi, sementara gencatan dagang AS–Tiongkok dan langkah stabilisasi BI menopang Rupiah.

Rupiah Indonesia (IDR) menutup perdagangan terakhir pekan ini dengan penguatan terbatas terhadap Dolar AS (USD). Pada Jumat, 25 September 2026, USD/IDR turun ke Rp17.880, dari Rp17.885 pada Kamis, yang berarti Rupiah menguat tipis 5 poin atau sekitar 0,03%. Namun, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia bergerak berlawanan dengan naik ke Rp17.917 dari Rp17.898 sehari sebelumnya. Dibandingkan dengan penutupan Senin di Rp17.825, Rupiah masih melemah 55 poin atau sekitar 0,31% sepanjang pekan.

Tekanan mingguan pada USD/IDR masih dipengaruhi penguatan Dolar AS. Indeks Dolar AS (DXY) berada di sekitar 101,28 pada Jumat, naik sekitar 0,85% dari posisi 100,43 pada Senin, didukung ekspektasi suku bunga The Fed yang tetap tinggi dan imbal hasil Treasury AS yang masih bertahan di level tinggi.

The Fed Hawkish Menopang Dolar AS

Nada hawkish datang dari beberapa pejabat The Fed pada Kamis. Presiden The Fed Philadelphia Anna Paulson menilai kenaikan suku bunga September telah membawa kebijakan ke posisi yang lebih tepat untuk melawan inflasi, tetapi pengetatan tambahan masih mungkin diperlukan. Paulson menegaskan, “Saya akan mendukung melakukan apa yang diperlukan untuk membawa inflasi kembali ke 2%.”

Pandangan serupa disampaikan Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack. Ia melihat aktivitas ekonomi dan permintaan AS tetap solid, sementara tekanan harga belum cukup mereda dan risiko inflasi masih cederung naik. Hammack memperingatkan bahwa “semakin lama inflasi tinggi bertahan, semakin menantang dan mahal untuk menurunkannya kembali.”

Presiden The Fed New York John Williams turut menilai risiko pelemahan pasar tenaga kerja telah berkurang di tengah ketahanan ekonomi AS, sehingga perhatian bank sentral tetap tertuju pada inflasi. Menurut Williams, “masuk akal untuk melihat satu lagi kenaikan suku bunga pada akhir tahun.” Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan moneter AS masih dapat diperketat lebih lanjut.

Pasar obligasi sedikit lebih tenang pada Jumat setelah aksi jual tajam sehari sebelumnya. Imbal hasil Treasury 10-tahun turun sekitar 3,4 basis poin ke 5,17%, sementara tenor 2-tahun turun sekitar 2,7 basis poin ke 4,91%. Meski terkoreksi, tingkat imbal hasil tersebut masih tinggi dan mempertahankan daya tarik aset berdenominasi Dolar AS.

Minyak Turun, BI Menjaga Stabilitas Rupiah

Dari pasar energi, tekanan terhadap Rupiah sedikit mereda. Minyak mentah WTI turun 1,89% ke US$92,82 per barel, sedangkan Brent melemah 1,10% ke US$105,43. Koreksi tersebut mengurangi tekanan harian dari biaya energi, meski harga Brent yang masih berada di atas US$100 tetap menjadi risiko bagi Indonesia sebagai pengimpor minyak.

Sentimen risiko juga mendapat penyeimbang setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping mencapai perpanjangan gencatan dagang selama dua bulan. Kesepakatan tersebut mencegah tarif kembali meningkat dalam waktu dekat, meski sejumlah persoalan utama mengenai perdagangan dan teknologi masih akan dibahas lebih lanjut.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia pekan ini mempertahankan BI-Rate di 5,75% dan memperluas insentif pengurangan premi lindung nilai hingga mencakup pinjaman luar negeri perbankan dan investasi langsung asing. Memasuki pekan depan, perhatian pasar akan beralih ke sejumlah data ekonomi Indonesia pada Kamis, 1 Oktober, terutama inflasi September, PMI Manufaktur, serta neraca perdagangan Agustus. Sebelumnya, inflasi tahunan tercatat 3,19%, inflasi inti 2,92%, sementara PMI Manufaktur berada di 49,8. Data ekspor dan impor Agustus juga akan dicermati setelah sebelumnya masing-masing tumbuh 6,05% dan 27,02% secara tahunan. Hasil data tersebut dapat memberi petunjuk baru mengenai prospek kebijakan BI dan arah Rupiah di tengah Dolar AS yang masih kuat.

USD/IDR Dekati Resistance Rp17.934, Momentum Bullish Masih Terjaga

Grafik Harian USD/IDR
Grafik Harian USD/IDR

USD/IDR masih mempertahankan fase rebound setelah bangkit dari area Rp17.500 pada awal September. Penutupan di Rp17.890 membawa pasangan mata uang ini mendekati resistance penting di Rp17.926–Rp17.934, yang bertepatan dengan batas atas Bollinger Band dan garis tren menurun. Relative Strength Index (RSI) di 60,62 menunjukkan momentum bullish masih terjaga dan belum memasuki area jenuh beli. Jika mampu menembus zona tersebut, USD/IDR berpeluang menguji Rp17.986 (terendah 3–4 Agustus), kemudian resistance lebih tinggi di sekitar Rp18.090 (area yang sebelumnya membatasi pergerakan pada akhir Juli).

Di sisi bawah, area Rp17.878 (yang merupakan resistance pada 22–23 September), kini menjadi support terdekat. Penurunan di bawah level tersebut dapat membuka ruang koreksi menuju Rp17.774 (sebelumnya merupakan resistance pada awal September), disusul area Rp17.710–Rp17.703 yang berdekatan dengan garis tengah Bollinger Band dan Moving Average (MA) 100 periode. Support berikutnya terlihat di Rp17.685 (terendah 28 Agustus). Selama USD/IDR bertahan di atas area Rp17.774, bias jangka pendek masih cenderung mengarah ke atas.


Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Bertahan di Bawah US$4.300, Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed Imbangi Pelemahan USD

Emas Bertahan di Bawah US$4.300, Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed Imbangi Pelemahan USD

Emas (XAU/USD)  berusaha keras untuk mendapatkan traksi dan tetap terbatas dalam kisaran sempit di dekat terendah mingguan hingga awal sesi Eropa pada hari Jumat di tengah latar belakang fundamental yang bearish. Dolar AS (USD) mundur sedikit setelah reli kuat ke level tertinggi hampir dua bulan dan memberikan sedikit dukungan bagi komoditas ini.
USD/IDR: Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.880, tapi Melemah 0,31% Sepekan di Tengah Sikap Hawkish The Fed

USD/IDR: Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.880, tapi Melemah 0,31% Sepekan di Tengah Sikap Hawkish The Fed

Rupiah Indonesia (IDR) menutup perdagangan terakhir pekan ini dengan penguatan terbatas terhadap Dolar AS (USD). Pada Jumat, 25 September 2026, USD/IDR turun ke Rp17.880, dari Rp17.885 pada Kamis, yang berarti Rupiah menguat tipis 5 poin atau sekitar 0,03%. Namun, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia bergerak berlawanan dengan naik ke Rp17.917 dari Rp17.898 sehari sebelumnya.
Xi Mendesak Trump untuk Menentang Kemerdekaan Taiwan

Xi Mendesak Trump untuk Menentang Kemerdekaan Taiwan

Dalam geopolitik, sejauh ini hanya sedikit hasil konkret yang muncul dari pertemuan Xi–Trump di Washington, meskipun lebih banyak perincian bisa menyusul saat Xi meninggalkan AS hari ini, karena penjelasan resmi sering kali muncul setelah kunjungan berakhir.
Ripple, Cardano, Solana: Arus Masuk ETF dan Permintaan Paus Memberi Sinyal Reli Lebih Lanjut

Ripple, Cardano, Solana: Arus Masuk ETF dan Permintaan Paus Memberi Sinyal Reli Lebih Lanjut

Ripple (XRP), Cardano (ADA), dan Solana (SOL) terus mengalami pemulihan yang stabil dengan kenaikan dua digit sejauh bulan ini. Ripple dan Solana mengalami permintaan institusional yang kuat, sementara persentase pasokan ADA yang berada dalam posisi untung meningkat, ditopang oleh minat dari investor dompet besar, yang umumnya disebut sebagai whales.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Jumat, 25 September:

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Jumat, 25 September:

Indeks Dolar AS melanjutkan reli mingguan dan menyentuh level tertingginya sejak akhir Juli di dekat 101,40 sebelum memasuki fase konsolidasi dan terkoreksi lebih rendah menuju 101,00 pada hari Jumat. Kalender ekonomi AS akan menampilkan data Pesanan Barang Tahan Lama untuk bulan Agustus dan University of Michigan akan menerbitkan revisi terhadap Indeks Sentimen Konsumen bulan September.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA