- Kurs Rupiah menguat 15 poin ke Rp17.910 ketika Dolar AS tetap tertahan di bawah level 100.
- Pasar mencermati pergantian Gubernur BI, sedangkan stabilitas Rupiah mendukung suku bunga tetap dipertahankan.
- Data tenaga kerja AS yang melemah menahan pemulihan Dolar menjelang rilis Nonfarm Payrolls Jumat.
Rupiah Indonesia (IDR) menutup perdagangan antarbank domestik Kamis dengan penguatan 15 poin atau sekitar 0,08%, membawa pasangan mata uang USD/IDR turun ke Rp17.910 dari Rp17.925 pada Rabu. JISDOR Bank Indonesia turut turun ke Rp17.919 dari Rp17.937.
Rupiah tetap tangguh meski Indeks Dolar AS (DXY) pulih tipis 0,07% ke 99,76 pada awal sesi Eropa. Greenback masih tertahan di bawah level 100 setelah turun tajam dalam beberapa hari terakhir, karena pelemahan data ketenagakerjaan membatasi pemulihannya. Namun, kenaikan tekanan harga sektor jasa menahan penurunan Dolar lebih lanjut. Harga minyak relatif stabil, dengan WTI di US$75,11 dan Brent di US$79,45, sementara dari dalam negeri pasar mencermati proses penunjukan Gubernur BI yang baru dan arah kebijakan selama masa transisi.
Stabilitas Rupiah Mendukung BI Mempertahankan Suku Bunga
Ekonom DBS Group Research Radhika Rao mengatakan perhatian pasar domestik tertuju pada penunjukan Gubernur Bank Indonesia yang baru setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri. Selama masa transisi, Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti diprakirakan lebih memprioritaskan instrumen non-suku bunga dan pengelolaan likuiditas Rupiah.
Menurut Rao, pendekatan tersebut didukung oleh kondisi pasar valas yang relatif stabil. “Penurunan harga minyak dan tidak adanya pemicu negatif baru telah membuat USD/IDR bergerak dalam kisaran sempit Rp17.900–Rp18.000 pekan ini,” katanya. Stabilitas Rupiah, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29% secara tahunan pada kuartal II, dan perkembangan inflasi yang beragam dinilai membuat BI tidak perlu terburu-buru mengubah suku bunga, meski neraca eksternal cenderung melemah. Komitmen pemerintah mempertahankan harga Pertalite hingga akhir tahun turut mengurangi risiko kenaikan inflasi domestik.
Dari kawasan, Ekonom DBS Philip Wee menilai perhatian investor mulai bergeser menuju potensi apresiasi mata uang Asia setelah Amerika Serikat mendukung stabilisasi Yen dan Uni Eropa menyoroti nilai Yuan yang dinilai terlalu rendah. Menurutnya, tekanan terhadap Jepang dan Tiongkok untuk menahan pelemahan mata uang dapat mengurangi risiko depresiasi serentak di Asia. Bagi Rupiah, perkembangan tersebut lebih berpotensi meredakan tekanan dari pergerakan mata uang regional daripada menjadi pendorong penguatan secara langsung.
Tenaga Kerja AS Melemah, Tekanan Harga Bertahan
Data AS semalam menunjukkan pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum. Penambahan tenaga kerja swasta ADP hanya mencapai 44.000 pada Juli, di bawah prakiraan 70.000, sedangkan indeks ketenagakerjaan jasa ISM turun ke wilayah kontraksi di 47,4. Namun, PMI Jasa ISM bertahan di 54,1 dan indeks harga yang dibayar meningkat ke 70,3, menunjukkan tekanan biaya masih tinggi.
Pelaku pasar selanjutnya menunggu Klaim Tunjangan Pengangguran awal, laporan PHK Challenger, dan biaya tenaga kerja AS pada Kamis malam menjelang Nonfarm Payrolls Jumat. Klaim awal diprakirakan meningkat menjadi 202.000 dari 197.000, sedangkan biaya tenaga kerja per unit diprakirakan naik menjadi 2,0%. Pelemahan data tenaga kerja dapat menekan Dolar, tetapi tekanan biaya yang tinggi berpotensi membatasi penurunannya.
Indikator Ekonomi
Laporan PHK Challenger (Thn/Thn)
PHK Challenger, yang dirilis oleh Challenger, Grey & Christmas setiap bulan, memberikan informasi tentang jumlah PHK perusahaan yang diumumkan menurut industri dan wilayah. Laporan tersebut merupakan indikator yang digunakan oleh investor untuk menentukan kekuatan pasar tenaga kerja. Biasanya, pembacaan yang tinggi dianggap negatif (atau bearish) bagi Dolar AS (USD), sedangkan pembacaan yang rendah dianggap positif (atau bullish).
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Kam Agu 06, 2026 11.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: -
Sebelumnya: 45.849Rb
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Bertahan Pertahankan Kenaikan Moderat, Tetap di Bawah US$4.300 di Tengah Kekuatan Moderat USD
USD/IDR: Rupiah Lanjut Naik ke Rp17.910, Dolar AS Bertahan di Bawah 100 jelang NFP
Fokus pada $4.350 dan NFP AS: Pembeli Emas Perketat Cengkeraman di Balik Harapan Pembukaan Kembali Hormuz
Altcoin Teratas: Ripple, Cardano, dan Solana Rentan terhadap Kerugian Lebih Dalam
Ripple, Cardano, dan Solana diperdagangkan di zona merah pada hari Kamis, menghadapi tekanan sisi negatif. Prospek teknis untuk altcoin bersifat bearish, karena XRP berisiko jatuh di bawah $1,00, ADA mengincar Exponential Moving Average (EMA) 50 hari di $0,1766, dan SOL tetap terbatas di bawah kumpulan level resistance.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 6 Agustus
Setelah aksi positif risiko yang terlihat di awal minggu, pasar mengambil sikap hati-hati pada hari Kamis. Kalender ekonomi AS akan menampilkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) Challenger untuk Juli, Klaim Tunjangan Pengangguran Awal mingguan, dan data Biaya Unit Buruh kuartal kedua menjelang laporan ketenagakerjaan resmi penting pada hari Jumat, yang akan menampilkan angka Nonfarm Payrolls.