- Rupiah turun 0,58% ke 17.801,9 per Dolar AS, sedangkan JISDOR ditetapkan di Rp17.826.
- BI menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 5,75% dan kembali memperketat transaksi valas.
- Nada hawkish The Fed dan kekhawatiran MSCI menutupi dukungan dari harga minyak yang bertahan di bawah US$80.
Rupiah ditutup melemah di atas 18.000 terhadap Dolar AS pada perdagangan Jumat. USD/IDR naik 101,9 poin atau 0,58% ke 17.802 setelah bergerak dalam rentang 17.705-17.867,6. Pasangan mata uang tersebut dibuka di 17.780, dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.700. JISDOR Bank Indonesia ditetapkan di Rp17.826 per Dolar AS, sekitar Rp24 di atas harga pasar.
Pelemahan juga melanda sebagian besar mata uang Asia. Ringgit Malaysia turun 0,43% terhadap Dolar AS, disusul Peso Filipina 0,33%, Baht Thailand 0,24%, Rupee India 0,09%, dan Dolar Taiwan 0,03%. Won Korea Selatan menjadi pengecualian dengan menguat 0,77%.
Kenaikan Suku Bunga BI Belum Menahan Rupiah
Bank Indonesia pada Kamis menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%, sesuai konsensus pasar. Suku bunga Deposit Facility ikut dinaikkan menjadi 4,75% dan Lending Facility menjadi 6,50%. Pertumbuhan kredit pada Mei juga meningkat menjadi 11,51% secara tahunan dari 9,98% sebelumnya.
BI turut memperketat transaksi valuta asing mulai 1 Juli. Batas pembelian valas tunai terhadap Rupiah tanpa dokumen pendukung diturunkan menjadi US$10.000 dari US$25.000 per pelaku setiap bulan. Untuk transfer valas ke luar negeri, dokumen pendukung akan diwajibkan pada transaksi di atas US$25.000, dibandingkan US$50.000 sebelumnya.
Tekanan eksternal belum mereda. The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%, tetapi menaikkan proyeksi inflasi PCE 2026 menjadi 3,6% dari 2,7%. Median suku bunga akhir tahun juga bergeser ke 3,8% dari 3,4%. Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmennya mengembalikan inflasi ke target 2% tanpa memberikan petunjuk mengenai keputusan berikutnya.
Data AS semalam turut menunjukkan klaim tunjangan pengangguran turun menjadi 226.000, sementara Indeks Manufaktur The Fed Philadelphia melonjak ke 10,3 pada Juni dari -0,4.
MSCI dan Hormuz Menjaga Pasar Tetap Waspada
Sentimen domestik juga dibayangi hasil tinjauan aksesibilitas pasar MSCI. Lembaga tersebut menurunkan penilaian arus informasi Indonesia dari “positif” menjadi “negatif”. Lembaga indeks tersebut menyoroti terbatasnya transparansi struktur kepemilikan saham serta perilaku perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga. MSCI juga kembali mencatat belum tersedianya pasar Rupiah offshore yang efisien dan masih adanya pembatasan di pasar valas domestik.
Sementra itu, harga minyak memberi sedikit ruang bagi Rupiah setelah bertahan di bawah US$80 per barel. WTI Juli naik 0,90% ke US$77,29, sedangkan Brent Agustus turun 0,64% ke US$79,34. Sejumlah tanker mulai kembali melintasi Selat Hormuz, tetapi perundingan lanjutan AS-Iran pada Jumat dibatalkan dan arus pelayaran belum pulih sepenuhnya. Aktivitas pasar global juga lebih tipis karena pasar saham dan obligasi AS tutup untuk memperingati Juneteenth.
Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Perak Pertahankan Pelemahan di Dekat $64,50 saat Optimisme Perdamaian AS-Iran Memudar
USD/IDR: Rupiah Ditutup Turun ke 17.802, MSCI Soroti Transparansi Pasar Indonesia
Emas Tetap dalam Situasi yang Tidak Menguntungkan meskipun Ada Kesepakatan Damai AS-Iran
GBP/USD memantul kembali di atas 1,3200 setelah data Penjualan Ritel Inggris yang kuat
GBP/USD melanjutkan rebound di atas level 1,3200 pada awal sesi Eropa hari Jumat. Data Penjualan Ritel Inggris yang lebih kuat dari prakiraan memberikan dorongan yang sangat dibutuhkan bagi Pound Inggris dan pasangan mata uang ini di tengah lingkungan politik Inggris yang kacau.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Jumat, 19 Juni
Dolar AS mendapat manfaat dari sentimen pasar yang menghindari risiko pada awal hari Jumat dan memperkuat kenaikannya selama minggu ini terhadap mata uang utama lainnya. Pada paruh kedua hari ini, Penjualan Ritel bulan April dari Kanada akan menjadi satu-satunya data yang ditampilkan dalam kalender ekonomi.