- Kurs Rupiah melemah ke Rp18.155 per Dolar AS, di tengah perubahan peta politik Washington setelah pemilu sela AS.
- Partai Demokrat merebut kendali kedua kamar Kongres AS, menekan Dolar dan mengguncang sentimen terhadap saham teknologi.
- UOB dan MUFG menyoroti meningkatnya risiko eksternal Indonesia serta kemungkinan BI menaikkan suku bunga jika tekanan terhadap Rupiah berlanjut.
Rupiah kembali kehilangan pijakan pada perdagangan Rabu (4/11), ditutup di Rp18.155 per Dolar AS di pasar domestik, melemah 20 poin dari penutupan Selasa di Rp18.135. Tekanan terhadap mata uang Indonesia belum mereda meskipun Dolar AS mengalami aksi jual di pasar global menyusul kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat. Perbedaan arah tersebut mencerminkan tantangan yang masih dihadapi Rupiah, ketika ketidakpastian pasar keuangan internasional bertemu dengan kekhawatiran terhadap prospek neraca eksternal Indonesia dan arah kebijakan Bank Indonesia (BI).
Demokrat Kuasai Kongres AS, Pasar Menimbang Risiko Kebijakan Trump
Pemilu sela AS pada Selasa (3/11) menghasilkan perubahan besar dalam peta kekuasaan Washington setelah Partai Demokrat berhasil merebut mayoritas di Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat, mengakhiri dominasi Partai Republik di Kongres. Reuters melaporkan kemenangan tersebut membuka peluang kebuntuan politik yang dapat membatasi agenda Presiden Donald Trump, sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap pengawasan lebih ketat pada industri kecerdasan buatan (AI). Reaksi awal pasar terlihat dari pelemahan saham teknologi dan perburuan obligasi pemerintah AS. Indeks Dolar AS (DXY) sempat merosot 0,6% ke 101,25, terendah dalam sebulan, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun mendekati 4,92%. Namun, pelemahan Dolar belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi penguatan mata uang negara berkembang karena investor masih menilai konsekuensi ekonomi dari perubahan politik tersebut.
Di tengah pergolakan politik itu, data ekonomi AS yang dirilis Selasa malam justru menunjukkan ketahanan aktivitas bisnis dan pasar tenaga kerja. Jumlah lowongan pekerjaan dalam laporan JOLTS September mencapai 7,523 juta, melampaui prakiraan 7,13 juta, sedangkan pesanan pabrik tumbuh 1,8% secara bulanan, lebih tinggi daripada ekspektasi 1,2%. Angka tersebut mempertahankan perdebatan mengenai seberapa lama Federal Reserve (The Fed) perlu menjaga suku bunga tetap tinggi. Perhatian investor selanjutnya tertuju pada laporan ketenagakerjaan swasta ADP Oktober dan ISM Jasa yang dijadwalkan Rabu malam, disusul klaim pengangguran awal pada Kamis serta laporan ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) Oktober pada Jumat (6/11). Rangkaian rilis ini akan menjadi penentu penting bagi penyesuaian ekspektasi kebijakan The Fed setelah gejolak akibat pemilu.
Surplus Perdagangan Menyusut, BI Menghadapi Dilema Rupiah
Dari dalam negeri, Enrico Tanuwidjaja dari UOB menyoroti surplus perdagangan Indonesia sebesar US$3,36 miliar pada September, dengan ekspor tumbuh 11,9% secara tahunan, tertinggal dari kenaikan impor sebesar 18,4%. "Meskipun surplus perdagangan terbaru menggembirakan, hal itu tidak menandakan kembalinya surplus yang sangat besar dan persisten seperti yang terlihat selama 2021–2025," ujarnya. Percepatan impor akibat meningkatnya permintaan domestik dan investasi diprakirakan terus mempersempit surplus perdagangan, sehingga defisit transaksi berjalan berpotensi melebar dalam beberapa kuartal mendatang.
Sementara itu, MUFG menilai perlambatan inflasi Oktober menjadi 3,23% secara tahunan, dengan inflasi inti turun ke 2,56%, mengurangi urgensi pengetatan moneter. Namun, USD/IDR yang bertahan di atas 18.000 dan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun yang mencapai 7,7% membuat BI tetap menghadapi tekanan. "Kami tetap berhati-hati terhadap IDR, dan kenaikan suku bunga BI tidak dapat dikesampingkan pada pertemuan kebijakan berikutnya jika tekanan mata uang semakin intensif," tulis analis MUFG. Menjelang keputusan BI pada 18 November, pasar akan mencermati PDB Indonesia kuartal III pada Kamis (5/11) dan cadangan devisa Oktober pada Jumat (6/11).
USD/IDR Dekati Resistance 18.183, Momentum Bullish Masih Terjaga

Menilik grafik harian ICE, USD/IDR masih mempertahankan bias bullish setelah berhasil menembus garis tren menurun jangka menengah yang terbentuk sejak Juni. Pasangan mata uang ini ditutup di 18.155, setelah bergerak dalam rentang 18.135–18.170, tetapi kembali tertahan di bawah resistance kuat 18.183 (tertinggi 29 Oktober). Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) naik tipis ke 66,15, mengindikasikan momentum beli Dolar AS masih solid meskipun semakin mendekati wilayah jenuh beli.
Pergerakan harga yang tertahan di bawah 18.183 menunjukkan pasar masih membutuhkan katalis baru untuk melanjutkan reli. Penembusan meyakinkan di atas level tersebut berpotensi mendorong USD/IDR menuju 18.200, dengan target berikutnya di 18.300. Sebaliknya, kegagalan melampaui resistance dapat memicu koreksi menuju support 18.090 (puncak 28 dan 30 Juli), disusul level psikologis 18.000 dan 17.943 (pembatas pada 16–23 Oktober). Selama USD/IDR bertahan di atas 18.090, struktur kenaikan jangka pendek masih terjaga, meskipun posisi RSI yang dekat dengan wilayah jenuh beli meningkatkan risiko konsolidasi.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Laporan ADP Diprakirakan Tunjukkan Perlambatan Pertumbuhan Lapangan Kerja AS pada Oktober
USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp18.155 meski Dolar AS Tertekan usai Kemenangan Demokrat dalam Pemilu Sela
Prakiraan Harga Dolar Australia: Salahkan RBA
Bitcoin Menguji Support Kritis, Ethereum Kesulitan di Bawah Resistance, XRP Lanjutkan Pelemahan
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Rabu, 4 November:
Dolar AS melemah terhadap mata uang-mata uang utama saingannya pada awal hari Rabu saat pasar menilai hasil pemilihan paruh waktu. Kalender ekonomi Eropa akan menampilkan data inflasi pendahuluan bulan Oktober dari Zona Euro. Di kemudian hari, data Perubahan Ketenagakerjaan ADP dan Indeks Manajer Pembelian Jasa Institute for Supply Management dari Amerika Serikat akan diawasi dengan cermat oleh para pelaku pasar.