Berikut adalah yang perlu diketahui untuk perdagangan Rupiah pada Senin, 2 November:
Rupiah Indonesia (IDR) mengawali pekan pertama November dengan tantangan mempertahankan pemulihan terbatas pada akhir Oktober. Pasangan mata uang USD/IDR terakhir ditutup di Rp18.120 pada Jumat (30/10), turun dari Rp18.125 pada perdagangan sebelumnya. Meski Dolar AS (USD) melemah di pasar global, mata uang Indonesia belum mampu bangkit secara berarti setelah kehilangan sekitar 0,44% sepanjang pekan lalu. Perhatian investor kini beralih ke serangkaian data ekonomi domestik yang akan dirilis hari ini, terutama inflasi Oktober dan neraca perdagangan September.
Indeks Dolar AS (DXY) mencatatkan penurunan selama tiga sesi berturut-turut hingga ditutup di sekitar 101,88 pada Jumat, memberikan peluang bagi Rupiah untuk memperbaiki posisinya. Namun, sentimen eksternal masih rapuh setelah harga minyak mentah Brent menembus US$116 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) melampaui US$103, dipicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Inflasi dan Neraca Perdagangan Indonesia Jadi Fokus Pasar
Perhatian investor hari ini tertuju pada inflasi Oktober yang diprakirakan naik tipis menjadi 3,29% secara tahunan dari 3,28%, sementara inflasi inti diprakirakan melambat menjadi 2,75% dari 2,84%. Data PMI Manufaktur S&P Global Oktober juga akan dirilis setelah mencatatkan ekspansi di level 52,4 pada September.
Sementara itu, surplus neraca perdagangan September diprakirakan menyusut menjadi US$1,9 miliar dari US$3,55 miliar pada Agustus. Pertumbuhan ekspor diproyeksikan melambat menjadi 6,45% secara tahunan, sedangkan impor diprakirakan meningkat 20,83%. Penyempitan surplus berpotensi menambah tekanan terhadap Rupiah di tengah tingginya harga energi global.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi memprakirakan Rupiah bergerak dalam kisaran Rp18.000–Rp18.320 per Dolar AS sepanjang pekan ini. Mengutip Liputan6, Minggu (1/11), Ibrahim menyoroti ketidakpastian geopolitik global, arah kebijakan suku bunga AS, serta ketegangan politik domestik sebagai faktor yang membayangi Rupiah.
Indikator Ekonomi
Inflasi (Thn/Thn)
Indeks Inflasi dirilis oleh Indonesia Statistik adalah ukuran pergerakan harga dengan perbandingan antara harga eceran contoh perwakilan barang dan jasa. Kekuatan pembelian Rupiah Indonesia terseret oleh inflasi. IHK digunakan sebagai indikator kunci untuk mengukur inflasi dan perubahan dalam tren pembelian. Secara umum, pembacaan yang tinggi dipandang sebagai positif (atau bullish) untuk mata uang Rupiah, sementara pembacaan yang rendah dipandang sebagai negatif (atau bearish).
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Sen Nov 02, 2026 04.00
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 3.29%
Sebelumnya: 3.2%
Sumber: Statistics Indonesia
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Dolar Australia Melemah di Bawah 0,7050 akibat Risk-Off, Pasar Tunggu PMI Manufaktur Tiongkok
Forex Hari Ini di Indonesia: Rupiah di Sekitar Rp18.120, Inflasi dan Neraca Perdagangan Jadi Sorotan
Prakiraan Mingguan Emas: Penjual Mendominasi meskipun Imbal Hasil AS Turun jelang Pemilu Sela
Prakiraan Harga Ripple: Para pembeli XRP mempertahankan US$1,20 saat tekanan sisi jual memicu likuidasi
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Jumat, 30 Oktober:
Pasar mengalami volatilitas yang sedikit lebih tinggi pada Jumat pagi saat para investor menilai keputusan bank sentral terbaru, rilis data makroekonomi, sambil terus mengamati pergerakan indeks saham berjangka AS. Di akhir sesi, data inflasi awal Oktober dari Jerman, pembacaan Produk Domestik Bruto kuartal ketiga dari Zona Euro dan data Indeks Biaya Ketenagakerjaan kuartal ketiga dari AS akan ditampilkan dalam kalender ekonomi. Selain itu, pengambil kebijakan dari Bank Sentral Eropa dan Federal Reserve dijadwalkan akan menyampaikan pidato.