USD Melemah, Sementara ECB dan BoJ Tetap Hawkish dengan Mempertahankan Suku Bunga
Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga acuannya kemarin, sesuai ekspektasi. Namun, perhatian utama pasar tampaknya bukan tertuju pada kebijakan moneternya, melainkan pengunduran diri Presiden ECB Christine Lagarde, yang akan meninggalkan jabatannya pada Februari 2027, lima bulan sebelum masa jabatannya berakhir. Dalam sesi perdagangan Asia hari ini, Bank Sentral Jepang (BoJ) juga mempertahankan suku bunga, sesuai perkiraan, tetapi merevisi naik proyeksi inflasinya, memberikan sinyal hawkish yang moderat kepada pasar. Hari ini, kami mencermati rilis estimasi awal inflasi HICP Jerman untuk Oktober sebagai salah satu faktor yang berpotensi menggerakkan Euro. Sementara itu, di AS, baik sikap hawkish The Fed maupun pertumbuhan PDB yang melampaui ekspektasi gagal menopang Dolar AS. Mata uang tersebut justru terperosok ke level terendah dalam enam pekan terhadap Dolar Kanada (CAD), ketika selisih imbal hasil obligasi AS dan Kanada semakin menyempit.
Alphabet Anjlok, Intel, Amazon Diprakirakan Menyusul
Alphabet turun 12,5% setelah laporan pendapatan yang lemah yang dirilis pada jam perdagangan setelah penutupan pasar hari Rabu. Selain itu, Amazon juga berada di bawah ekspektasi pasar baik pada angka EPS maupun pendapatan, sementara Intel mengeluarkan panduan ke depan yang lemah. Amazon diprakirakan turun 7% dan Intel berpotensi kehilangan 22% dari nilainya. Semakin terlihat bahwa perusahaan-perusahaan teknologi AS telah mengambil risiko lebih besar daripada yang mampu mereka tanggung, dari sisi investasi AI. Perkembangan ini tampaknya membebani sentimen pasar yang pada gilirannya dapat menyebabkan pasar saham AS melemah menjelang akhir pekan.
Harga Emas Bergerak Turun
Harga emas bergerak turun kemarin dan secara fundamental, kenaikan harga minyak cenderung meningkatkan kekhawatiran pasar atas tekanan inflasi di ekonomi AS dan dengan demikian membebani harga logam mulia tersebut. Selain itu, data pertumbuhan dan inflasi AS yang lebih tinggi yang dirilis kemarin cenderung memperkuat kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan Desember. Jika kekhawatiran pasar terhadap harga minyak yang tinggi dan dampaknya terhadap tekanan inflasi semakin meningkat, kita mungkin akan melihat harga emas kehilangan lebih banyak pijakan.
Harga Minyak Kembali Naik
Saham Alphabet anjlok 12,5% setelah laporan keuangan yang mengecewakan dirilis dalam perdagangan setelah jam bursa pada Rabu. Amazon juga gagal memenuhi ekspektasi pasar, baik dari sisi laba per saham (EPS) maupun pendapatan, sementara Intel memberikan proyeksi kinerja ke depan yang lemah. Saham Amazon diperkirakan akan merosot 7%, sedangkan Intel berpotensi kehilangan hingga 22% nilainya. Semakin terlihat bahwa perusahaan-perusahaan teknologi AS mungkin telah mengambil komitmen investasi kecerdasan buatan (AI) yang melampaui kemampuan mereka. Perkembangan tersebut tampaknya membebani sentimen pasar, yang pada gilirannya dapat menyeret pasar saham AS menjelang penutupan pekan.
Sorotan Lain untuk Hari Ini
Hari ini kita mendapatkan tingkat PDB Kanada untuk bulan Agustus dan pada hari Senin, kita mendapatkan izin pembangunan Australia untuk bulan September, serta angka PMI Manufaktur Australia, Jepang, Tiongkok, dan Jerman untuk bulan Oktober.
Grafik yang Perlu Diperhatikan
Nasdaq melanjutkan penurunannya dan mendekati garis support 28.750 (S1). Kami mencatat bahwa garis tren menurun telah ditembus secara meyakinkan pada Selasa, tetapi kecenderungan bearish indeks tampaknya kembali menguat. Indikator Relative Strength Index (RSI) turun mendekati level 30, mengindikasikan semakin intensifnya sentimen bearish di pasar. Untuk saat ini, support S1 tampaknya masih bertahan. Agar kami mengubah pandangan dari pergerakan mendatar (sideways) menjadi bearish, indeks perlu menembus support 28.750 (S1) secara meyakinkan dan mulai membidik level 27.050 (S2). Sebaliknya, jika pembeli mengambil alih kendali, Nasdaq berpotensi membalikkan pelemahan selama dua hari terakhir dan menembus resistance 29.735 (R1), sehingga membuka peluang kenaikan menuju hambatan berikutnya di 30.770 (R2).
WTI bergerak naik secara meyakinkan melewati level 101,00 kemarin, yang sebelumnya merupakan resistance dan kini berubah menjadi support (S1). Kenaikan tersebut kembali menghidupkan prospek bullish, terutama karena indikator RSI juga meningkat dan kembali mendekati level 70, mengindikasikan semakin kuatnya sentimen bullish di pasar. Jika pembeli tetap memegang kendali, harga WTI berpeluang menguji, bahkan menembus, resistance 108,85 (R1). Sebaliknya, apabila penjual mengambil alih, WTI berpotensi menembus support 101,00 (S1) dan melanjutkan penurunan menuju level 94,30 (S2).
Kalender Berikutnya

Grafik Harian US 100 Cash

- Support: 28750 (S1), 27050 (S2), 25375 (S3).
- Resistance: 29735 (R1), 30770 (R2), 32500 (R3).
Grafik Harian WTI

- Support: 101.00 (S1), 94.30 (S2), 87.55 (S3).
- Resistance: 108.85 (R1), 114.00 (R2), 119.50 (R3).
Analisa Terkini
Pilihan Editor
Emas Anjlok ke Terendah Tahunan meski Risk-Off, Taruhan Kenaikan The Fed Membebani
0,8336: Euro Menyentuh Terendah 19 Bulan terhadap Pound Inggris meskipun PDB Zona Euro Menguat
Harga Produsen Naik 6,3%. Harga Konsumen hanya 3,7%. Grafik Ini Tunjukkan Siapa yang Tanggung Silisihnya
The Fed yang Hawkish Tak Lagi Mampu Mengangkat Dolar AS
Valas Hari Ini: BoJ Pertahankan Pengaturan Kebijakan Tidak Berubah, Emas Turun di Bawah US$4.000
Pasar mengalami volatilitas yang sedikit lebih tinggi di awal hari Jumat saat para investor menilai keputusan bank sentral terbaru, rilis data makroekonomi, sambil terus mencermati pergerakan pada kontrak berjangka indeks saham AS.