USD/IDR: Rupiah Menguat Tipis ke Rp18.045 per Dolar AS Jelang The Fed, Minyak Batasi Pemulihan


  • Kurs Rupiah ditutup menguat tipis ke Rp18.045 per Dolar AS pada perdagangan antarbank domestik Rabu.
  • USD/IDR kembali naik ke Rp18.079 di pasar offshore ketika investor menunggu keputusan dan pesan kebijakan The Fed.
  • Eskalasi konflik Timur Tengah mendorong harga minyak melonjak, sementara Commerzbank melihat USD/IDR tetap didukung dalam jangka pendek.

Rupiah Indonesia (IDR) ditutup menguat tipis ke Rp18.045 per Dolar AS (USD) pada perdagangan antarbank domestik Rabu, naik 10 poin atau sekitar 0,06% dari penutupan Selasa di Rp18.055. Mata uang Garuda bergerak dalam rentang Rp18.030–Rp18.105 dan mengakhiri perdagangan dekat level terkuat hariannya, sementara JISDOR Bank Indonesia ditetapkan di Rp18.087. Penguatan berlangsung ketika Dolar AS terkoreksi dari level tertinggi satu bulan sepanjang sesi Asia menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve, meski eskalasi konflik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak membatasi ruang pemulihan Rupiah.

Setelah perdagangan antarbank domestik berakhir, pasangan mata uang USD/IDR di pasar offshore berbalik naik ke Rp18.079 pada awal sesi Eropa, bertambah 34 poin atau sekitar 0,19% dari penutupan domestik di Rp18.045. Indeks Dolar AS bergerak di sekitar 101,30 setelah menyentuh 101,64 pada Selasa, level tertinggi sejak 24 Juni. Pelaku pasar memprakirakan peluang sekitar 30% bahwa The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Pasar Menunggu Pesan The Fed

Sebagian besar pelaku pasar masih memprakirakan The Fed mempertahankan suku bunga. Namun, perhatian akan tertuju pada pernyataan kebijakan dan konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh. Pesan yang menegaskan risiko inflasi dan membuka peluang kenaikan suku bunga berikutnya dapat mempertahankan dukungan terhadap Dolar AS sekaligus menekan mata uang negara berkembang. Survei Reuters sebelumnya menunjukkan seluruh 104 ekonom memprakirakan suku bunga dipertahankan pada kisaran 3,50%–3,75%.

Konflik Timur Tengah Mendorong Harga Minyak

Tekanan eksternal bertambah setelah konflik Timur Tengah kembali memanas. Perdana Menteri Irak menyerukan rapat keamanan darurat menyusul serangan AS dan Arab Saudi terhadap kelompok yang didukung Iran di wilayahnya. Pada saat yang sama, penolakan Teheran terhadap proposal Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz serta klaim penghentian tiga kapal tanker—yang belum diverifikasi secara independen—kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi.

Memasuki sesi Eropa, West Texas Intermediate kontrak September naik 3,29% ke USD81,87 per barel, sedangkan Brent dengan tenor yang sama menguat 3,29% ke USD86,86. Bagi Indonesia, kenaikan minyak menjadi faktor negatif bagi Rupiah melalui meningkatnya kebutuhan Dolar untuk impor energi serta risiko bertambahnya beban subsidi bahan bakar.

Commerzbank Melihat USD/IDR Tetap Didukung

Commerzbank menilai ketidakpastian mengenai kesinambungan kebijakan dan kredibilitas institusional masih membatasi ruang pemulihan Rupiah. Ekonom Commerzbank Moses Lim mengatakan tekanan terhadap IDR juga mencerminkan kenaikan harga minyak, kekhawatiran mengenai independensi BI, serta risiko fiskal akibat meningkatnya biaya subsidi bahan bakar.

“Dalam jangka pendek, USD/IDR kemungkinan akan tetap didukung, membatasi ruang bagi pemulihan IDR yang berkelanjutan,” ujar Lim.

Fitch Ratings juga melihat risiko tekanan eksternal lebih lanjut akibat sentimen investor yang masih rapuh, di tengah ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter dan persepsi terhadap independensi bank sentral. Namun, Fitch belum mengambil tindakan pemeringkatan baru menyusul pengunduran diri Perry Warjiyo; peringkat Indonesia tetap BBB dengan prospek negatif.

Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada keputusan The Fed yang dirilis setelah perdagangan domestik berakhir. Pernyataan yang lebih hawkish dari prakiraan serta kenaikan harga minyak lebih lanjut berpotensi membawa USD/IDR kembali menguji area Rp18.100, sedangkan meredanya ketegangan geopolitik dapat membuka ruang bagi Rupiah untuk menguat ke bawah level psikologis Rp18.000.

Indikator Ekonomi

Konferensi Pers FOMC

Konferensi pers berlangsung sekitar satu jam dan memiliki dua bagian. Pertama, Ketua Federal Reserve (The Fed) membacakan pernyataan yang telah disiapkan, kemudian konferensi dibuka untuk pertanyaan dari pers. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali menghasilkan jawaban yang tidak terduga yang menciptakan volatilitas pasar yang besar. The Fed mengadakan konferensi pers setelah seluruh dari delapan pertemuan kebijakan tahunannya.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Jul 29, 2026 18.30

Frekuensi: Tidak teratur

Konsensus: -

Sebelumnya: -

Sumber: Federal Reserve

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Kehilangan Momentum Pemulihan di Dekat $4.050 saat Pedagang Menanti Keputusan FOMC

Emas Kehilangan Momentum Pemulihan di Dekat $4.050 saat Pedagang Menanti Keputusan FOMC

Emas (XAU/USD) berusaha keras untuk memanfaatkan pemulihan dalam perdagangan harian dari level terendah lebih dari satu minggu dan diperdagangkan di bawah level $4.050 sepanjang paruh pertama sesi Eropa pada hari Rabu.
USD/IDR: Rupiah Menguat Tipis ke Rp18.045 per Dolar AS Jelang The Fed, Minyak Batasi Pemulihan

USD/IDR: Rupiah Menguat Tipis ke Rp18.045 per Dolar AS Jelang The Fed, Minyak Batasi Pemulihan

Rupiah Indonesia (IDR) ditutup menguat tipis ke Rp18.045 per Dolar AS (USD) pada perdagangan antarbank domestik Rabu, naik 10 poin atau sekitar 0,06% dari penutupan Selasa di Rp18.055. Mata uang Garuda bergerak dalam rentang Rp18.030–Rp18.105 dan mengakhiri perdagangan dekat level terkuat hariannya, sementara JISDOR Bank Indonesia ditetapkan di Rp18.087.
Pratinjau FOMC: Suku Bunga Diprakirakan Ditahan di Tengah Prospek yang Masih Tidak Pasti

Pratinjau FOMC: Suku Bunga Diprakirakan Ditahan di Tengah Prospek yang Masih Tidak Pasti

Federal Reserve (The Fed) diprakirakan akan mempertahankan suku bunga saat mengumumkan keputusan kebijakannya pada Rabu. Meskipun suku bunga diperkirakan tetap berada di kisaran 3,50%–3,75%, kenaikan harga minyak telah mendorong pasar berjangka memperhitungkan peluang yang lebih besar terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan kali ini.
Bitcoin turun di bawah support, Ethereum dan XRP menunjukkan sinyal bearish

Bitcoin turun di bawah support, Ethereum dan XRP menunjukkan sinyal bearish

Bitcoin, Ethereum dan Ripple masih berada di bawah tekanan pada hari Rabu setelah koreksi ringan awal minggu ini. BTC turun di bawah zona support utama, dan ETH sedang menguji zona resistance utama. Sementara itu, XRP bergerak menuju level support penting psikologis $1,00.

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Rabu, 29 Juli

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Rabu, 29 Juli

Pasar beralih ke penghindaran risiko di pertengahan minggu seiring meluasnya krisis di Timur Tengah. Kemudian di sesi Amerika, Federal Reserve (The Fed) akan mengumumkan keputusan suku bunga dan mempublikasikan pernyataan kebijakan setelah rapat dua hari.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA