USD/IDR: Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.890 saat Minyak Turun, Yield AS Masih Tinggi


  • Kurs Rupiah menguat tipis 5 poin ke Rp17.890 per USD pada Selasa, sementara JISDOR naik ke Rp17.910.
  • Harga minyak yang kembali turun memberi dukungan bagi Rupiah, tetapi DXY di sekitar 102,2 dan imbal hasil Treasury AS yang tetap tinggi membatasi penguatan.
  • Pasar mencermati data ketenagakerjaan ADP serta pidato pejabat The Fed malam ini, sebelum cadangan devisa Indonesia September yang dirilis Rabu.

Rupiah Indonesia (IDR) ditutup sedikit menguat terhadap Dolar AS pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026, ke Rp17.890 per USD, naik 5 poin atau sekitar 0,03% dari penutupan Senin di Rp17.895. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) turut menguat ke Rp17.910 dari Rp17.917. Penurunan harga minyak memberi ruang bagi Rupiah untuk pulih, meski penguatan Dolar AS dan imbal hasil Treasury yang masih tinggi membuat pergerakannya tetap terbatas.

Harga minyak melanjutkan penurunan pada Selasa. Berdasarkan data Bloomberg, West Texas Intermediate (WTI) turun 1,12% ke US$88,43 per barel, sedangkan Brent terkoreksi 0,66% ke US$99,66. Pelemahan minyak menjadi faktor yang relatif positif bagi Rupiah mengingat posisi Indonesia sebagai importir neto minyak, tetapi dukungan tersebut berhadapan dengan kondisi pasar obligasi AS yang masih ketat.

Imbal hasil Treasury AS 10-tahun berada di sekitar 5,29%, sementara tenor 30-tahun sekitar 5,64%. Level tersebut tetap tinggi setelah keduanya sempat menyentuh puncak 24 tahun pada perdagangan sebelumnya. Sebagai perbandingan, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10-tahun berada di sekitar 7,17% dan tenor 30-tahun di 7,25%, sehingga selisih imbal hasil Indonesia–AS masing-masing sekitar 188 dan 161 basis poin. Spread tersebut masih menawarkan premi bagi aset Rupiah, tetapi imbal hasil AS yang tinggi membuat daya tarik relatifnya lebih terbatas. Dolar AS juga bertahan kuat, dengan Indeks Dolar AS (DXY) berada di sekitar 102,2 setelah naik sekitar 0,9% dalam sepekan.

Data AS yang dirilis Senin malam memberikan sinyal beragam. PMI Jasa ISM September turun ke 54,9 dari 55,4 dan sedikit di bawah konsensus 55,0, sementara indeks pesanan baru melambat ke 59,8 dari 60,9. Namun, indeks ketenagakerjaan meningkat ke 50,1 dari 47,8 dan komponen harga yang dibayar melonjak ke 74 dari 72,6. Kombinasi aktivitas jasa yang sedikit melambat tetapi tekanan harga yang tetap tinggi membantu menjelaskan mengapa imbal hasil Treasury belum turun secara berarti, meski laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Jumat lalu hanya menunjukkan tambahan 29.000 pekerjaan dibandingkan ekspektasi 90.000.

OCBC: Pemulihan Rupiah Masih Bergantung pada Imbal Hasil dan Minyak

Christopher Wong, ahli strategi Valas OCBC, menilai Rupiah masih memiliki ruang untuk membaik dalam jangka pendek, ditopang data payrolls AS yang lebih lemah, surplus perdagangan Indonesia yang melebar, serta fokus BI dan pemerintah pada stabilitas IDR. Namun, imbal hasil Treasury AS jangka panjang dan harga Brent yang masih tinggi tetap membatasi ruang penguatan. Wong menilai pemulihan yang lebih berkelanjutan kemungkinan membutuhkan “moderasi yang lebih jelas pada imbal hasil AS dan harga minyak.”

Fokus pasar berikutnya beralih ke perubahan ketenagakerjaan ADP rata-rata empat minggu AS pada Selasa malam, setelah sebelumnya tercatat 20.000, serta pidato pejabat Federal Reserve John Williams dan Michelle Bowman. Dari dalam negeri, BI dijadwalkan merilis data Cadangan Devisa September pada Rabu, posisi cadev pada Agustus tercatat US$146,5 miliar.

USD/IDR Tertahan di Bawah 17.932, Support Terdekat di 17.860

Grafik Harian USD/IDR
Grafik Harian USD/IDR

Dari perspektif teknis, grafik harian menunjukkan USD/IDR berada di sekitar 17.895 dan masih bertahan di atas support 17.860 (terendah 30 September). Namun, pergerakan naik tertahan di bawah 17.932, membuat pasangan mata uang ini cenderung berkonsolidasi dalam kisaran 17.860–17.932. Resistance berikutnya berada di level psikologis 18.000 yang berdekatan dengan garis tren menurun. Penembusan area tersebut dapat membuka jalan menuju batas atas Bollinger Band di sekitar 18.079, kemudian 18.090 (tertinggi 30 Juli). Relative Strength Index (RSI) berada di 55,49, menunjukkan momentum bullish mulai kehilangan tenaga meski belum berbalik bearish.

Di sisi bawah, penembusan 17.860 dapat membawa USD/IDR kembali menguji 17.795 (terendah 23 September), yang hampir berimpit dengan garis tengah Bollinger Band. Support berikutnya terlihat di sekitar MA 100 periode 17.732, sebelum 17.685 (terendah 28 Agustus). Jika tekanan jual semakin dalam, batas bawah Bollinger Band di sekitar 17.511 menjadi area berikutnya yang perlu diperhatikan.

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Pulih Lebih Lanjut dari Terendah Dua Bulan di Tengah Aksi Profit-Taking USD

Emas Pulih Lebih Lanjut dari Terendah Dua Bulan di Tengah Aksi Profit-Taking USD

Emas (XAU/USD) melanjutkan pemantulan moderatnya dalam perdagangan harian dari sekitar area US$4.100, atau terendah dua bulan, dan naik di atas US$4.150 selama paruh pertama sesi Eropa pada hari Selasa. Dolar AS (USD) beristirahat sejenak setelah reli kuat baru-baru ini dari swing low bulanan September dan memberikan sedikit dukungan bagi logam mulia ini.
USD/IDR: Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.890 saat Minyak Turun, Yield AS Masih Tinggi

USD/IDR: Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.890 saat Minyak Turun, Yield AS Masih Tinggi

Rupiah Indonesia (IDR) ditutup sedikit menguat terhadap Dolar AS pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026, ke Rp17.890 per USD, naik 5 poin atau sekitar 0,03% dari penutupan Senin di Rp17.895. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) turut menguat ke Rp17.910 dari Rp17.917.
Ringkasan Pagi: EUR/USD Bearish di Bawah 1,1300

Ringkasan Pagi: EUR/USD Bearish di Bawah 1,1300

Indeks Dolar terlihat bullish untuk jangka pendek sementara Euro bearish di bawah 1,13. USDJPY dapat naik perlahan menuju 159 sementara EURJPY terlihat lemah. EURINR bisa memiliki penurunan yang terbatas dan segera memantul kembali dalam sesi-sesi mendatang, sementara USDCNY tutup hari ini. USDINR memiliki ruang untuk menguji 96,00–95,80 selama berada di bawah 96,35/50.
Ripple dan Stellar melemah saat posisi derivatif memudar

Ripple dan Stellar melemah saat posisi derivatif memudar

Ripple (XRP) dan Stellar (XLM) menghadapi tekanan dengan diperdagangkan di bawah US$1,499 dan US$0,220, masing-masing, pada hari Selasa setelah koreksi tipis di awal pekan. Para pedagang harus berhati-hati karena metrik derivatif yang melemah dan momentum bullish yang memudar mengindikasikan koreksi lebih lanjut untuk XRP dan XLM. Data derivatif menunjukkan sinyal yang melemah dan hati-hati di kalangan para pedagang.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada Selasa, 6 Oktober:

Berikut yang perlu Anda ketahui pada Selasa, 6 Oktober:

Dolar AS tetap tangguh terhadap mata uang lainnya pada awal perdagangan Selasa, dengan Indeks USD tetap berada di wilayah positif setelah membukukan kenaikan moderat pada hari Senin. Nanti di sesi ini, Eurostat akan mempublikasikan data Penjualan Ritel Zona Euro untuk bulan Agustus. Pada sesi Amerika, data neraca perdagangan dari Kanada dan AS akan menjadi sorotan dalam kalender ekonomi. Para investor juga akan terus memperhatikan komentar-komentar dari para pengambil kebijakan ECB dan The Fed pada paruh kedua hari ini.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA