USD/IDR: Rupiah Menguat ke Rp17.990, Pasar Tunggu Ekspektasi Inflasi AS dan Data Indonesia


  • Kurs Rupiah menguat 0,47% ke Rp17.990 per Dolar AS, berbalik dari penurunan pada perdagangan Kamis.
  • Pelemahan tajam Dolar AS selama dua sesi sebelumnya menjadi penopang utama setelah data pertumbuhan dan inflasi AS lebih rendah dari prakiraan.
  • Bank Indonesia meningkatkan stabilisasi nilai tukar, meski ketidakpastian mengenai gubernur definitif masih membayangi sentimen.

Rupiah Indonesia (IDR) ditutup menguat 85 poin atau sekitar 0,47% ke Rp17.990 per Dolar AS (USD) pada perdagangan Jumat, dari penutupan Kamis di Rp18.075. Mata uang Garuda mendapat dukungan dari pelemahan tajam Dolar AS selama dua sesi sebelumnya setelah data pertumbuhan ekonomi dan inflasi AS lebih rendah dari prakiraan. Komitmen Bank Indonesia untuk meningkatkan stabilisasi nilai tukar turut menopang sentimen, meski pasar masih mencermati ketidakpastian mengenai kepemimpinan bank sentral definitif.

Rupiah bergerak sejalan dengan mayoritas mata uang Asia, sementara Won Korea menjadi pengecualian. Pola tersebut menunjukkan data aktivitas bisnis Tiongkok yang lemah tidak memicu tekanan regional secara luas. Pasangan mata uang USD/IDR tetap melemah meski Indeks Dolar AS mencoba pulih tipis ke sekitar 100,19 pada sesi Eropa setelah merosot tajam dalam dua hari sebelumnya. JISDOR Bank Indonesia ditetapkan di Rp18.058 pada Jumat.

BI Meningkatkan Stabilisasi Rupiah

Dari dalam negeri, BI menyatakan telah meningkatkan optimalisasi bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Hutapea mengatakan bank sentral tidak hanya mengandalkan suku bunga, tetapi juga intervensi di pasar spot, NDF di pasar luar negeri, dan DNDF domestik. BI juga akan mengelola penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia sesuai kebutuhan likuiditas dan upaya menarik arus modal asing.

Wee Khoon Chong, ahli strategi pasar senior Asia-Pasifik di BNY, menilai pernyataan tersebut relatif standar, tetapi sinyal mengenai penyempurnaan instrumen di luar suku bunga patut diperhatikan. Menurutnya, langkah itu dapat mengindikasikan bahwa BI akan mempertahankan suku bunga untuk sementara waktu dan lebih mengandalkan instrumen lain guna menyeimbangkan stabilitas Rupiah dengan dukungan terhadap pertumbuhan.

Meski demikian, ketidakpastian mengenai kepemimpinan BI definitif masih menjadi risiko bagi Rupiah. Destry Damayanti kini menjalankan tugas sebagai pejabat gubernur sementara setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri, sedangkan Presiden Prabowo Subianto belum mengajukan nama calon pengganti kepada DPR. Pasar akan mencermati apakah gubernur berikutnya mempertahankan fokus pada stabilitas nilai tukar dan kesinambungan kebijakan moneter.

Data AS Menekan Dolar

Dolar kehilangan dukungan setelah Produk Domestik Bruto (PDB) AS tumbuh pada laju tahunan 1,5% pada kuartal II, di bawah prakiraan 2,1%. Inflasi inti PCE Juni juga hanya naik 0,1% secara bulanan, sementara laju tahunannya melandai menjadi 3,3% dari 3,4%. Inflasi PCE utama turun 0,1% secara bulanan dan melambat menjadi 3,7% secara tahunan, meski kenaikan indeks harga PDB menunjukkan risiko tekanan harga belum sepenuhnya mereda.

Sementara itu, PMI Manufaktur dan Non-Manufaktur Tiongkok yang masing-masing turun ke 49,2 dan 49,0 lebih banyak membatasi sentimen kawasan daripada menggerakkan USD/IDR secara langsung.

Pasar Tunggu Data AS dan Indonesia

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada Indeks Biaya Tenaga Kerja AS kuartal II yang diprakirakan melambat menjadi 0,8% dari 0,9%, serta ekspektasi inflasi konsumen University of Michigan pada Jumat malam. Memasuki awal pekan depan, investor akan mencermati PMI Manufaktur Indonesia, inflasi Juli, serta neraca perdagangan Juni setelah sebelumnya mencatat defisit US$1,61 miliar. Data biaya tenaga kerja AS yang lebih tinggi atau kembali lemahnya indikator domestik berpotensi membatasi penguatan lanjutan Rupiah.

Indikator Ekonomi

Indeks Ekspektasi Konsumen Michigan

Pengukur Ekspektasi Inflasi dari Universitas Michigan mengukur seberapa besar konsumen mengantisipasi perubahan harga selama 12 bulan mendatang. Pengukur ini dirilis dalam dua tahap—rilis pendahuluan yang cenderung memberikan dampak yang lebih besar, diikuti oleh pembaruan yang direvisi dua minggu kemudian.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Jum Jul 31, 2026 14.00

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 54

Sebelumnya: 54

Sumber: University of Michigan

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Melemah saat Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed dan Risiko Iran Menopang USD

Emas Melemah saat Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed dan Risiko Iran Menopang USD

Emas (XAU/USD) mempertahankan tekanan jual sepanjang sesi Asia pada hari Jumat dan tampak rentan setelah gagal melanjutkan kenaikan selama dua hari sebelumnya di atas level US$4.100. Dolar AS (USD) kembali memperoleh momentum positif dan memangkas sebagian penurunan tajam pada hari sebelumnya ke level terendah sejak 17 Juni.
USD/IDR: Rupiah Menguat ke Rp17.990, Pasar Tunggu Ekspektasi Inflasi AS dan Data Indonesia

USD/IDR: Rupiah Menguat ke Rp17.990, Pasar Tunggu Ekspektasi Inflasi AS dan Data Indonesia

Rupiah Indonesia (IDR) ditutup menguat 85 poin atau sekitar 0,47% ke Rp17.990 per Dolar AS (USD) pada perdagangan Jumat, dari penutupan Kamis di Rp18.075. Mata uang Garuda mendapat dukungan dari pelemahan tajam Dolar AS selama dua sesi sebelumnya setelah data pertumbuhan ekonomi dan inflasi AS lebih rendah dari prakiraan.
Prospek Pertengahan Tahun Yen Jepang: Mengapa Kenaikan Suku Bunga BoJ Tak Selamatkan Yen—dan Apa yang Sebenarnya Dapat Menyelamatkannya?

Prospek Pertengahan Tahun Yen Jepang: Mengapa Kenaikan Suku Bunga BoJ Tak Selamatkan Yen—dan Apa yang Sebenarnya Dapat Menyelamatkannya?

Yen Jepang (JPY) telah mengalami tren turun yang tajam sejak awal 2026, menyentuh serangkaian level terendah multi-dekade terhadap Dolar AS (USD) menjelang semester dua tahun ini. Pemerintah Jepang turun tangan untuk menopang mata uang domestik, menggelontorkan ¥11,73 Triliun yang memecahkan rekor (sekitar $74 Miliar) antara akhir April dan akhir Mei untuk melawan depresiasi mata uang yang tajam.
Mengapa IDR Mendekati Posisi Terendah Historis Meskipun Suku Bunga Bank Indonesia 5,75%

Mengapa IDR Mendekati Posisi Terendah Historis Meskipun Suku Bunga Bank Indonesia 5,75%

Bitcoin, Ethereum, dan Ripple diperdagangkan di dekat level-level teknis utama pada hari Jumat saat pasar mata uang kripto (cryptocurrency) yang lebih luas berhenti sejenak setelah pemulihan minggu lalu. BTC mendekati Exponential Moving Average (EMA) 50 hari sementara ETH terus konsolidasi di antara dua EMA utama.

Valas Hari Ini: Yen Jepang mundur setelah reli karena dugaan intervensi, BoJ tetap stabil

Valas Hari Ini: Yen Jepang mundur setelah reli karena dugaan intervensi, BoJ tetap stabil

Yen Jepang kehilangan sebagian kekuatannya pada awal hari Jumat setelah menguat di sesi Amerika pada hari Kamis, kemungkinan didorong oleh intervensi pasar valuta asing oleh otoritas Jepang. Kemudian dalam sesi tersebut, data HICP awal bulan Juli dari Zona Euro akan menjadi sorotan dalam kalender ekonomi.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA