USD/IDR: Rupiah Menguat ke Rp17.885 saat DXY dan Minyak Turun, BI Jaga Stabilitas


  • Kurs Rupiah menguat 10 poin atau 0,06% ke Rp17.885 per USD pada Selasa, setelah sempat tertekan pada awal perdagangan.
  • Indeks Dolar AS (DXY) turun ke 102,32 dari level tertinggi 102,60 pada Senin, sementara harga minyak Brent dan WTI terkoreksi lebih dari 1%.
  • Bank Indonesia memperkuat pengelolaan likuiditas valas, sementara Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan independensi kebijakan moneter dan komitmen menjaga stabilitas Rupiah.

Rupiah Indonesia (IDR) ditutup menguat terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026, ke Rp17.885 per USD, naik 10 poin atau sekitar 0,06% dari penutupan Senin di Rp17.895. Penguatan tipis tersebut terjadi setelah Rupiah sempat melemah ke sekitar Rp17.930 pada awal perdagangan. Meredanya penguatan Dolar AS dan koreksi harga minyak dunia membantu mengurangi tekanan terhadap mata uang Indonesia, sementara langkah stabilisasi Bank Indonesia (BI) tetap menjadi perhatian pasar.

Indeks Dolar AS (DXY) turun ke 102,32 setelah mencapai 102,60 pada Senin, level tertinggi dalam sekitar 18 bulan. Pelemahan Dolar AS terjadi meski Presiden Federal Reserve (The Fed) Cleveland, Beth Hammack, kembali menyerukan kenaikan suku bunga lebih lanjut untuk mengendalikan inflasi. Dalam pernyataannya pada Senin, Hammack memperingatkan bahwa tekanan harga telah meluas, tidak lagi terbatas pada sektor energi, sementara kuatnya aktivitas ekonomi memungkinkan The Fed mempertahankan kebijakan yang lebih ketat. Ia juga menilai suku bunga netral kemungkinan lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, meskipun tetap terbuka terhadap penyesuaian laju kenaikan suku bunga. Namun, pasar masih memprakirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober hanya sekitar 19%, sementara probabilitas kenaikan pada Desember mencapai sekitar 85%.

Harga minyak dunia terkoreksi setelah sebelumnya melonjak akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan di Timur Tengah. Brent turun 1,41% menjadi US$105,17 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,61% ke US$92,23. Penurunan tersebut memberikan sedikit kelegaan bagi Rupiah mengingat Indonesia merupakan pengimpor minyak neto. Namun, Brent yang masih bertahan di atas US$105 per barel menunjukkan bahwa risiko kenaikan biaya impor energi belum sepenuhnya mereda.

BI Perkuat Stabilitas Rupiah, Destry Tegaskan Independensi Moneter

Bank Indonesia (BI) terus menjaga stabilitas Rupiah melalui operasi moneter, termasuk transaksi foreign exchange swap (FX swap) senilai US$540 juta pada Selasa, menurut Bloomberg Technoz. Transaksi bertenor satu hingga 12 bulan tersebut membantu pengelolaan likuiditas valas perbankan. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun 1,9 basis poin ke 7,19%.

Gubernur BI Destry Damayanti pada Senin (12/10) menegaskan bahwa kebijakan suku bunga tetap independen dan berbasis data, dengan fokus menjaga volatilitas Rupiah, bukan mempertahankan kurs tertentu. Menurut Destry, insentif lindung nilai valas dapat meningkatkan imbal hasil investor asing dari aset Rupiah sekitar 40 basis poin tanpa menaikkan suku bunga. Cadangan devisa sebesar US$146,3 miliar juga dinilai memadai, sementara transaksi mata uang lokal sepanjang Januari–Agustus mencapai US$49,42 miliar, melampaui US$25,74 miliar sepanjang 2025.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara pada Jumat (9/10) menyebut aliran modal asing masuk ke pasar keuangan Indonesia mencapai Rp131,1 triliun sepanjang 2026. Sementara itu, penjualan eceran Agustus tumbuh 1,3% secara tahunan, naik dari 1,1% pada Juli. BI memprakirakan pertumbuhan September meningkat menjadi 1,4%, meski secara bulanan masih berpotensi terkontraksi 2,3%.

Selanjutnya, perhatian pasar tertuju pada pidato Pejabat The Fed, Christopher Waller, serta sejumlah data ekonomi AS yang dijadwalkan pada Selasa, termasuk laporan perubahan ketenagakerjaan ADP rata-rata empat mingguan, penjualan rumah lama September, dan laporan anggaran bulanan. Angka ADP sebelumnya tercatat 23,75 ribu, sementara penjualan rumah lama turun 2% secara bulanan pada Agustus. Namun, sorotan utama pekan ini tetap tertuju pada Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) AS September yang akan dirilis Rabu. Kombinasi data ketenagakerjaan, inflasi, dan pernyataan pejabat The Fed tersebut berpotensi mengubah ekspektasi suku bunga sekaligus menentukan arah Dolar AS dan pergerakan USD/IDR dalam beberapa sesi mendatang.

USD/IDR Masih Sideways di Bawah 17.932

Grafik Harian USD/IDR
Grafik Harian USD/IDR

Dari perspektif teknis, grafik harian menunjukkan pasangan mata uang USD/IDR masih bergerak sideways di sekitar 17.890 setelah gagal mempertahankan kenaikan menuju level psikologis 18.000 pada akhir September. Resistance terdekat berada di 17.932 (tertinggi 2 Oktober), disusul area 18.000–18.013 yang berdekatan dengan garis tren menurun dan batas atas Bollinger Band. Penembusan area tersebut diperlukan untuk membuka peluang kenaikan menuju 18.090 (tertinggi 28 dan 30 Juli). Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) berada di 54,79, menunjukkan momentum kenaikan USD/IDR mulai melemah meskipun indikator masih bertahan di atas level netral 50.

Di sisi bawah, support terdekat berada di 17.860, disusul 17.795. Penembusan di bawah kedua level tersebut dapat meningkatkan tekanan jual menuju area 17.747, yang berdekatan dengan Moving Average (MA) 100 hari, sebelum 17.685 (terendah 28 Agustus). Namun, selama USD/IDR bertahan di atas 17.860 dan belum mampu menembus 17.932, pergerakan konsolidasi diprakirakan masih mendominasi dalam jangka pendek.

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Tertahan Dekat US$4.200, Taruhan Kenaikan The Fed dan Risiko Iran Batasi Pelemahan USD

Emas Tertahan Dekat US$4.200, Taruhan Kenaikan The Fed dan Risiko Iran Batasi Pelemahan USD

Emas (XAU/USD) berusaha keras untuk memanfaatkan kenaikannya dan tetap dibatasi di bawah level angka bulat US$4.200 menjelang sesi Eropa hari Selasa. Dolar AS (USD) mundur dari level tertingginya sejak April 2025 di tengah beberapa aksi ambil untung, sehingga memberikan dukungan kepada logam mulia ini.
Valas Hari Ini: Dolar AS Mundur dari Tertinggi 18 Bulan karena Imbal Hasil Obligasi, Harga Minyak Turun

Valas Hari Ini: Dolar AS Mundur dari Tertinggi 18 Bulan karena Imbal Hasil Obligasi, Harga Minyak Turun

Indeks Dolar AS (DXY) mundur dari tertinggi 18 bulan ke sekitar 102,35 setelah libur di beberapa pasar AS. Imbal hasil obligasi Treasury bertenor 10 tahun melemah, sementara harga minyak turun. Data Ketenagakerjaan ADP dan Penjualan Rumah Lama (Existing Home Sales) AS akan dirilis nanti pada hari ini.

Mengapa Tiongkok Menimbun Emas?

Mengapa Tiongkok Menimbun Emas?

Tiongkok sedang menimbun emas. Mengapa?
Solana Merebut Kembali EMA 50-Hari di Tengah Ekspansi Tokenisasi

Solana Merebut Kembali EMA 50-Hari di Tengah Ekspansi Tokenisasi

Solana (SOL) diperdagangkan di atas $107 pada hari Selasa, merebut kembali EMA 50 hari setelah ditutup di bawahnya pada hari sebelumnya. Sementara itu, ekspansi tokenisasi Solana dan pencatatan yang akan datang dari Exchange Traded Fund Solana spot kedua di Hong Kong menyoroti meningkatnya minat institusional.

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Selasa, 13 Oktober:

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Selasa, 13 Oktober:

Indeks Dolar AS (DXY) mundur dari tertinggi 18 bulan ke sekitar 102,35 setelah libur di beberapa pasar AS. Imbal hasil obligasi Treasury bertenor 10 tahun melemah, sementara harga minyak turun. Data Ketenagakerjaan ADP AS dan Penjualan Rumah Lama (Existing Home Sales) akan dirilis nanti pada hari ini. Perhatian akan beralih ke laporan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) AS pada hari Rabu, diikuti oleh data Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI) dan Penjualan Ritel pada hari Kamis. Laporan-laporan ini dapat memberikan arah lebih lanjut bagi jalur kebijakan Federal Reserve.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA