- Rupiah melemah tipis 8 poin atau 0,04% ke Rp18.000 per USD pada Rabu, setelah ditutup di Rp17.992 pada Selasa.
- BI mempertahankan BI-Rate di 5,75%, tetapi menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00% dan memperbesar insentif lindung nilai valas.
- Penguatan Dolar AS, lonjakan harga minyak, dan kekhawatiran arus modal keluar akibat evaluasi MSCI masih membayangi Rupiah.
Rupiah Indonesia (IDR) kembali melemah terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Rabu, 21 Oktober 2026, dengan ditutup di Rp18.000 per USD, turun 8 poin atau sekitar 0,04% dari penutupan Selasa di Rp17.992. Pelemahan tipis ini mengembalikan Rupiah ke level psikologis Rp18.000, ketika pasar mencerna keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan sekaligus memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar.
Tekanan terhadap Rupiah belum sepenuhnya mereda meski BI mengambil langkah tambahan untuk menarik modal asing. Kenaikan harga minyak dunia, ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), serta kekhawatiran terhadap prospek pasar saham Indonesia setelah peringatan MSCI masih menjadi sumber risiko. Di sisi lain, komitmen BI menjaga stabilitas valas dan penguatan instrumen lindung nilai berpotensi membantu menahan tekanan lebih lanjut.
BI Tahan Suku Bunga, Perbesar Insentif untuk Menarik Modal Asing
Rapat Dewan Gubernur BI pada 20–21 Oktober memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% untuk keempat kalinya secara berturut-turut. Namun, bank sentral menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 5,00%, sementara Lending Facility tetap 6,50%. Keputusan mempertahankan suku bunga acuan tersebut sesuai dengan prakiraan 15 dari 29 ekonom dalam survei Reuters, sedangkan sisanya memprakirakan kenaikan setidaknya 25 basis poin.
Alih-alih menaikkan suku bunga acuan, BI memperkuat daya tarik instrumen lindung nilai untuk mendorong aliran modal asing. Potongan premi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Lindung Nilai kepada BI dinaikkan dari 25% menjadi 40% untuk tenor enam bulan dan dari 30% menjadi 45% untuk tenor 12 bulan. BI juga mempertahankan intervensi melalui pasar spot, DNDF domestik, serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri untuk menjaga stabilitas Rupiah.
Tekanan arus modal keluar dari pasar saham masih berlangsung pada Oktober, tetapi investasi asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) membantu mengimbangi tekanan tersebut. Menurut BI, investasi portofolio asing pada triwulan IV hingga 19 Oktober mencatat arus masuk bersih sebesar US$0,66 miliar. Sementara itu, berbagai insentif lindung nilai yang diberlakukan sejak Juni telah menarik aliran modal asing sebesar US$9,9 miliar hingga 20 Oktober 2026.
Minyak Melonjak, Dolar AS Bertahan di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Harga minyak mentah Brent naik 0,99% menjadi US$109,78 per barel pada perdagangan Rabu di sesi Eropa, didorong kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah. Lonjakan harga energi memperbesar risiko inflasi dan membengkaknya biaya impor Indonesia, sementara permintaan aset safe haven turut menopang Dolar AS. Indeks Dolar AS (DXY) rebound ke sekitar 101,76 setelah menyentuh level terendah sejak 1 Oktober di 101,50 pada sesi sebelumnya.
Di sisi lain, data ekonomi AS yang dirilis Selasa memperlihatkan tanda-tanda perlambatan. Rata-rata empat minggu perubahan ketenagakerjaan ADP turun menjadi 18.500 dari 24.750 sebelumnya. Pembangunan rumah baru pada September melemah menjadi 1,221 juta unit, di bawah prakiraan 1,3 juta, sementara penjualan rumah tertunda anjlok 7,3% secara bulanan, jauh melampaui estimasi penurunan 0,5%. Izin mendirikan bangunan menjadi pengecualian dengan kenaikan menjadi 1,4 juta unit, sedikit di atas konsensus 1,39 juta. Lemahnya sejumlah indikator tersebut berpotensi meredam ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Namun, peluang pemulihan Rupiah masih dibatasi prospek kebijakan moneter global yang ketat. BI memprakirakan suku bunga AS dan imbal hasil obligasi pemerintahnya tetap tinggi lebih lama, sementara ancaman penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone oleh MSCI menambah kekhawatiran terhadap arus modal asing.
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada efektivitas langkah stabilisasi BI, pergerakan harga minyak, dan keputusan suku bunga The Fed pada 27–28 Oktober. Ketiga faktor tersebut berpotensi menentukan apakah USD/IDR mampu kembali turun di bawah level psikologis 18.000 atau melanjutkan penguatannya.
USD/IDR Uji Resistance 18.000, Momentum Penguatan Masih Terjaga

Dari perspektif teknis, grafik harian menunjukkan USD/IDR kembali menguat dan menguji resistance psikologis 18.000, yang berhimpitan dengan garis tren menurun serta batas atas Bollinger Band di 17.993. Penembusan dan penutupan yang konsisten di atas area ini berpotensi membuka jalan menuju target resistance berikutnya di 18.090 (tertinggi 28 dan 30 Juli). Relative Strength Index (RSI) yang merangkak naik ke posisi 63,34 menegaskan momentum penguatan Dolar AS yang masih dominan, meski belum menyentuh wilayah overbought.
Risiko koreksi tetap membayangi jika USD/IDR gagal mengamankan level 18.000, dengan support terdekat berada di 17.943 (batas bawah empat sesi perdagangan), diikuti 17.860 (terendah 30 September) dan 17.795 (terendah 23 September). Selama harga bergerak di atas garis tengah Bollinger Band di sekitar 17.920, kecenderungan penguatan USD/IDR masih terjaga. Namun, posisi harga yang mendekati batas atas Bollinger Band mengisyaratkan potensi konsolidasi sebelum pasangan mata uang ini menentukan arah selanjutnya.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Tertekan Dekat Terendah Mingguan, Penjual Incar Tembus US$4.100 saat USD Naik
USD/IDR: Rupiah Melemah Tipis ke Rp18.000 meski BI Perkuat Kebijakan Stabilisasi
Prakiraan Emas: Dua Analis Lihat Tekanan Lanjutan, Satu Nilai Perdagangan Asimetris
Pembalikan naik Zcash mengincar puncak $1.698 pada upgrade NU7
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Rabu, 21 Oktober:
Pasar keuangan tetap relatif tenang di pertengahan pekan di tengah minimnya rilis data makroekonomi utama. Meskipun Pound Inggris menunjukkan sedikit volatilitas menyusul data inflasi, mata uang ini berusaha keras untuk membuat pergerakan tegas ke salah satu arah terhadap mata uang lainnya.