USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp18.177, Lagi-Lagi Cetak Rekor Terlemah Baru di Tengah Turunnya Cadangan Devisa


  • Rupiah melemah 0,95% terhadap Dolar AS, dengan USD/IDR naik dan diperdagangkan di Rp18.177 pada Senin.
  • Cadangan devisa Indonesia turun ke US$144,9 miliar pada akhir Mei, dari US$146,2 miliar pada bulan sebelumnya.
  • Tekanan eksternal menguat setelah NFP AS naik 172 ribu, jauh di atas konsensus 85 ribu, sementara fokus pasar bergeser ke inflasi AS pekan ini.

Rupiah membuka perdagangan Senin dengan tekanan yang kembali menebal, bahkan sempat mencetak rekor terlemah baru terhadap Dolar AS saat mendekati akhir sesi Asia. Berdasarkan data pasar terbaru, pasangan mata uang USD/IDR naik 171 poin atau 0,95% ke Rp18.177, dari posisi sebelumnya di Rp18.006, setelah rilis cadangan devisa Indonesia menunjukkan penurunan. Dalam perdagangan harian, USD/IDR berayun di rentang Rp17.984-Rp18.197, dengan level tertinggi tersebut menjadi rekor terlemah baru bagi Rupiah.

Pergerakan ini mempertegas tekanan yang masih membayangi Rupiah sejak awal tahun. Dalam jangka lebih panjang, Rupiah tercatat melemah sekitar 11,66% terhadap Dolar AS. Pola tersebut menunjukkan pasar belum menemukan pijakan yang cukup kuat untuk membangun pemulihan, terutama ketika tekanan eksternal kembali meningkat setelah rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang masih solid.

Cadangan Devisa Turun, tetapi BI Tetap Menilai Posisi Aman

Dari domestik, Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 turun menjadi US$144,9 miliar, dari US$146,2 miliar pada bulan sebelumnya. Penurunan ini memberi sinyal bahwa stabilisasi Rupiah masih membutuhkan ruang intervensi cukup besar di tengah ketidakpastian global dan permintaan valuta asing musiman.

Meski demikian, posisi cadangan devisa masih dinilai memadai karena setara dengan 5,6 bulan impor. Dengan kata lain, data ini belum memberi sinyal tekanan ekstrem terhadap ketahanan eksternal Indonesia, tetapi tetap menjadi pengingat bahwa ruang pertahanan Rupiah perlu dijaga lebih hati-hati ketika kurs bergerak semakin jauh dari area psikologis Rp18.000 per Dolar AS.

Pada 6 Juni, BI dan Kementerian Keuangan menyepakati langkah untuk meningkatkan daya tarik imbal hasil aset Rupiah agar aliran modal portofolio kembali masuk. Reuters mencatat rencana ini muncul setelah Rupiah menyentuh rekor terendah, sementara kepemilikan asing di obligasi Indonesia turun mendekati level terendah dalam hampir dua dekade.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan Indonesia tidak sedang menuju kondisi seperti krisis 1997/1998. Ia menyebut kondisi fiskal dan ekonomi masih baik, sementara tekanan terhadap Rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen negatif yang menurutnya dapat diperbaiki melalui koordinasi lebih kuat antara pemerintah, Kemenkeu, dan BI.

NFP AS Perkuat Dolar, Ruang Pemangkasan Suku Bunga The Fed Menyempit

Dari sisi eksternal, tekanan terhadap Rupiah ikut dipengaruhi data tenaga kerja AS yang masih kuat. Nonfarm Payrolls (NFP) Mei bertambah 172 ribu, jauh di atas konsensus 85 ribu, meski sedikit melambat dari 179 ribu pada bulan sebelumnya. Data ini memperlihatkan bahwa pasar tenaga kerja AS belum melemah cukup dalam untuk memberi ruang besar bagi The Fed menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.

Namun, sinyal dari upah terlihat lebih seimbang. Pendapatan rata-rata per jam secara bulanan tetap 0,3%, sesuai prakiraan, sementara laju tahunan turun ke 3,4% dari 3,6%. Kombinasi ini membuat pasar membaca data tenaga kerja AS sebagai kuat, tetapi tidak terlalu agresif dari sisi inflasi upah. Bagi Rupiah, gambaran tersebut tetap kurang bersahabat karena menjaga Dolar AS dan imbal hasil obligasi AS tetap menarik dibandingkan aset negara berkembang.

Fokus Bergeser ke Inflasi AS Pekan Ini

Setelah NFP AS menunjukkan pasar tenaga kerja masih kuat, fokus pekan ini bergeser ke inflasi AS. IHK (CPI) Mei pada Rabu diprakirakan naik ke 4,2% YoY dari 3,8%, meski secara bulanan melambat ke 0,5% dari 0,6%. Inflasi inti diproyeksikan naik 0,3% MoM, lebih rendah dari sebelumnya 0,4%, tetapi secara tahunan meningkat tipis ke 2,9% dari 2,8%. Jika data kembali lebih panas dari prakiraan, ekspektasi suku bunga The Fed yang lebih lama tinggi dapat menguat lagi dan menahan ruang pemulihan Rupiah. Selain IHK, pasar juga menanti data harga produsen AS pada Kamis dan Sentimen Konsumen Michigan pada Jumat, yang diprakirakan naik ke 46 dari 44,8.

Indikator Ekonomi

Cadangan Devisa

Laporan Aset Cadangan Resmi Indonesia yang diterbitkan oleh Bank Indonesia setiap bulan menunjukkan perubahan aset cadangan dalam mata uang Dolar AS. Bank Indonesia juga menyampaikan pandangannya tentang apakah tingkat cadangan tersebut memadai untuk terus mendukung ketahanan sektor eksternal dan stabilitas keuangan.

Baca lebih lanjut

Rilis terakhir: Sen Jun 08, 2026 03.00

Frekuensi: Bulanan

Aktual: $144.9

Konsensus: -

Sebelumnya: $146.2

Sumber: Bank of Indonesia

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

$4.300: Emas Tampak Rentan Dekat Terendah Maret saat Geopolitik dan Prakiraan Kenaikan Suku Bunga The Fed Dukung USD

$4.300: Emas Tampak Rentan Dekat Terendah Maret saat Geopolitik dan Prakiraan Kenaikan Suku Bunga The Fed Dukung USD

Emas (XAU/USD) menarik penjual baru setelah kenaikan moderat pada perdagangan sesi Asia ke area $4.350-$4.355 dan menyentuh level terendah sejak 23 Maret pada hari pertama minggu baru. Pembaruan permusuhan di Teluk mendorong harga Minyak Mentah lebih tinggi, memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat prakiraan bank sentral lebih hawkish.
USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp18.177, Lagi-Lagi Cetak Rekor Terlemah Baru di Tengah Turunnya Cadangan Devisa

USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp18.177, Lagi-Lagi Cetak Rekor Terlemah Baru di Tengah Turunnya Cadangan Devisa

Rupiah membuka perdagangan Senin dengan tekanan yang kembali menebal, bahkan sempat mencetak rekor terlemah baru terhadap Dolar AS saat mendekati akhir sesi Asia. Berdasarkan data pasar terbaru, pasangan mata uang USD/IDR naik 171 poin atau 0,95% ke Rp18.177, dari posisi sebelumnya di Rp18.006, setelah rilis cadangan devisa Indonesia menunjukkan penurunan.
Emas Bersiap Mengalami Tekanan di Tengah Pembaruan Ketegangan Timur Tengah

Emas Bersiap Mengalami Tekanan di Tengah Pembaruan Ketegangan Timur Tengah

Emas sedang memulihkan diri, menggantung dekat terendah tiga bulan $4.300 di perdagangan sesi Asia pada hari Jumat. Logam mulia ini sedang berkonsolidasi sebelum melanjutkan sell-off Jumat di tengah eskalasi baru di Timur Tengah dan ekspektasi hawkish Federal Reserve (The Fed) AS.
Dogecoin: Uang pintar meninggalkan DOGE, mengungkap risiko penurunan 12%

Dogecoin: Uang pintar meninggalkan DOGE, mengungkap risiko penurunan 12%

Harga Dogecoin berfluktuasi di sekitar $0,0850 pada saat berita ini ditulis pada hari Senin, bertahan stabil setelah rebound 5% pada hari sebelumnya dari level terendah 6 Februari di $0,08000. Data on-chain menunjukkan bahwa para investor dompet besar dengan 100 juta hingga 1 miliar DOGE telah mengurangi kepemilikan mereka ke level terendah lima bulan, memberikan tekanan ke sisi bawah.

Berikut adalah yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 8 Juni

Berikut adalah yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 8 Juni

Aliran safe-haven kembali ke pasar untuk memulai minggu baru saat para investor bereaksi terhadap berita eskalasi konflik Timur Tengah yang diperbarui. Kalender ekonomi tidak akan menampilkan rilis data berdampak tinggi pada hari Senin, memungkinkan para pelaku pasar tetap fokus pada headline geopolitik.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA