- Kurs Rupiah melemah 0,51% ke Rp17.885 per Dolar AS pada penutupan Kamis, USD/IDR mendekati resistance Rp17.900.
- Pertumbuhan kredit Indonesia meningkat menjadi 13,3% pada Agustus, meskipun pertumbuhan uang beredar melambat tipis menjadi 8,2%.
- Penguatan Dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia menambah tekanan terhadap Rupiah saat fokus tertuju ke pertemuan Trump–Xi.
Rupiah Indonesia (IDR) kembali melemah terhadap Dolar AS (USD) pada penutupan perdagangan Kamis, 24 September 2026, di tengah penguatan Dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia yang menambah tekanan terhadap mata uang negara pengimpor energi seperti Indonesia. Kurs Rupiah berakhir di Rp17.885 per Dolar AS, turun 90 poin atau 0,51% dari penutupan Rabu di Rp17.795, sementara kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) naik dari Rp17.803 menjadi Rp17.898. Pelemahan ini terjadi meskipun BI telah mempertahankan suku bunga acuannya di 5,75% dan memperbesar insentif lindung nilai, sementara data terbaru menunjukkan pertumbuhan kredit domestik meningkat menjadi 13,3% pada Agustus. Investor kini menantikan hasil pertemuan Trump–Xi, sedangkan secara teknis USD/IDR mendekati area resistance Rp17.900.
Kredit Indonesia Tumbuh Lebih Cepat, BI Perkuat Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia melaporkan uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp10.448,1 triliun pada Agustus 2026, tumbuh 8,2% secara tahunan (yoy), sedikit melambat dari 8,3% pada Juli. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh uang beredar sempit (M1) sebesar 9,0% dan uang kuasi sebesar 6,5%. Namun, penyaluran kredit justru meningkat 13,3% (yoy), dibandingkan 13,0% pada bulan sebelumnya, menunjukkan aktivitas kredit tetap berkembang di tengah perlambatan pertumbuhan likuiditas perekonomian.
Perkembangan ini muncul sehari setelah BI mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% sekaligus memperbesar insentif lindung nilai untuk menarik modal asing dan menjaga stabilitas Rupiah. Insentif pengurangan premi swap yang sebelumnya sebesar 12,5% untuk seluruh tenor ditingkatkan menjadi 15% untuk tenor tiga bulan, 20% untuk enam bulan, dan 25% untuk 12 bulan. BI juga memperbesar insentif DNDF serta memperluas cakupan transaksi yang memperoleh fasilitas tersebut, termasuk pinjaman luar negeri perbankan dan investasi langsung asing. Meski demikian, Rupiah kembali melemah pada Kamis ketika tekanan eksternal masih membayangi pasar valuta asing.
Dolar AS Menguat, Minyak Brent Kembali Menembus US$104
Dolar AS mempertahankan penguatannya setelah data awal Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) AS menunjukkan aktivitas bisnis meningkat ke level tertinggi dalam lebih dari lima tahun. PMI Gabungan S&P Global naik menjadi 58,4 pada September dari 56,0 pada Agustus, sementara PMI Jasa meningkat menjadi 58,7, melampaui prakiraan 56,0 dan angka sebelumnya 56,5. Data yang lebih kuat dari ekspektasi tersebut memperbesar peluang Federal Reserve (The Fed) melanjutkan pengetatan kebijakan moneter. Ekspektasi ini turut diperkuat oleh pernyataan Gubernur The Fed Michael Barr pada Rabu bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut kemungkinan diperlukan untuk memastikan inflasi kembali ke target 2% secara tepat waktu. Barr menilai risiko inflasi telah meningkat, sementara risiko terhadap pasar tenaga kerja mereda.
Kombinasi data ekonomi yang kuat dan pernyataan pejabat The Fed tersebut membantu Indeks Dolar AS (DXY) mempertahankan posisinya di atas 101, level tertinggi sejak akhir Juli. Prospek suku bunga AS yang lebih tinggi berpotensi mempertahankan daya tarik aset berdenominasi Dolar dan menambah tekanan terhadap mata uang Garuda.
Harga minyak dunia kembali menguat di tengah ketidakpastian penyelesaian konflik AS–Iran dan pemulihan pasokan energi Timur Tengah. Berdasarkan data Bloomberg sekitar pukul 15.06 WIB, WTI naik 1,28% ke US$93,34 per barel, sementara Brent menguat 1,52% ke US$104,65. Kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar kebutuhan Dolar AS untuk impor energi Indonesia dan menambah tekanan terhadap Rupiah.
Sementara itu, perkembangan hubungan dagang AS–Tiongkok memberikan sinyal yang lebih positif setelah kedua negara menyepakati perpanjangan gencatan perdagangan selama dua bulan hingga Januari 2027. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan kesepakatan tersebut menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Gedung Putih pada Kamis. Meski risiko peningkatan tarif dalam waktu dekat mulai mereda, investor masih menantikan hasil pembicaraan kedua pemimpin mengenai perdagangan, pembatasan ekspor mineral tanah jarang, teknologi, dan konflik Iran.
USD/IDR Mendekati Resistance Rp17.900

Berdasarkan grafik harian, USD/IDR menunjukkan penguatan setelah berhasil kembali ke atas resistance Rp17.878 (tertinggi Rabu) yang kini menjadi support terdekat. Pasangan mata uang ini diperdagangkan di sekitar Rp17.893 di pasar ICE, mendekati resistance Rp17.899 yang bertepatan dengan batas atas Bollinger Bands. Penembusan area tersebut akan membuka peluang kenaikan menuju Rp17.944 (garis tren menurun), sebelum ke level penting psikologis di 18.000. Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di 60,90, menunjukkan momentum penguatan USD/IDR masih terjaga tanpa memasuki wilayah jenuh beli (overbought).
Sebaliknya, kegagalan menembus area Rp17.900 dapat memicu koreksi menuju support Rp17.878, sebelum menguji support horizontal di Rp17.773 (area yang menahan pergerakan awal September). Jika tekanan jual berlanjut, level angka bulat di area Rp17.700 yang berdekatan dengan Moving Average (MA) 100 hari di Rp17.699 dan support Rp17.685 (terendah 28 Agustus) menjadi sasaran berikutnya. Penurunan lebih dalam berpotensi membawa USD/IDR menuju batas bawah Bollinger Bands di Rp17.500.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas di Bawah US$4.300, Terendah Sepekan akibat Prospek Kenaikan Suku Bunga The Fed dan Risiko Iran
USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.885, Dolar AS dan Minyak Menguat, Fokus ke Trump–Xi
Jurang 10 November: Bagaimana Pasar Seharusnya Memperdagangkan Gencatan Senjata Trump-Xi
Bitcoin Tergelincir ke US$84 Ribu karena Spekulasi Kenaikan Suku Bunga – Worldcoin, Pepe Pimpin Kerugian
Inilah yang perlu Anda ketahui pada Kamis, 24 September:
Dolar AS tetap tangguh terhadap mata uang lainnya pada Kamis pagi, dengan Indeks USD bertahan stabil di atas 101,00 setelah naik lebih dari 0,5% dan mencatat penutupan harian tertinggi dalam dua bulan pada hari Rabu. Pada paruh kedua hari ini, data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal mingguan akan ditampilkan dalam kalender ekonomi AS. Para pelaku pasar juga akan terus mencermati komentar-komentar dari para pengambil kebijakan bank sentral.