- Kurs Rupiah melemah 20 poin ke Rp17.705 per Dolar AS pada Senin, sementara JISDOR BI berada di Rp17.703.
- Dolar AS berusaha pulih ke sekitar level 99 pada sesi Eropa, sementara imbal hasil Treasury AS tetap tinggi.
- Brent bertahan di atas US$93 per barel menjelang sanksi baru AS terhadap Iran; pasar berikutnya menunggu PCE AS dan Jackson Hole.
Rupiah Indonesia (IDR) melemah terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Senin, dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.705, naik 20 poin dari Rp17.685 pada Jumat. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI), di sisi lain, menguat tipis menjadi Rp17.703 dari Rp17.705. Rupiah gagal mempertahankan penguatan pada awal perdagangan ketika Dolar AS berusaha pulih pada sesi Eropa, sementara imbal hasil obligasi Pemerintah AS dan harga minyak yang masih tinggi turut membatasi mata uang domestik. Pasar juga menunggu perincian sanksi baru AS terhadap Iran yang akan disampaikan Menteri Keuangan AS Scott Bessent, yang berpotensi memengaruhi kembali harga minyak dan sentimen terhadap Rupiah.
Mengutip Katadata, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong sebelumnya mengatakan, “Rupiah diprakirakan berkonsolidasi, dengan potensi menguat terbatas oleh pelemahan dolar AS, namun ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan harga minyak yang masih tinggi menahan rupiah.” Ia memprakirakan USD/IDR bergerak di Rp17.650–Rp17.750.
Dolar AS Berusaha Pulih setelah Tertekan
Indeks Dolar AS (DXY) berusaha pulih ke sekitar level 99 pada sesi Eropa Senin, setelah sebelumnya berada dekat level terendah tiga bulan. Greenback masih menghadapi tekanan dari kekhawatiran terhadap utang Pemerintah AS setelah Kementerian Keuangan AS mengumumkan peningkatan buyback obligasi jangka panjang. Namun, pemulihan Dolar pada sesi Eropa bertepatan dengan berbaliknya Rupiah dari penguatan awal hingga ditutup melemah.
Imbal hasil Treasury AS tenor 10-tahun turun tipis ke sekitar 4,71%, tetapi masih berada pada level tinggi. Kondisi tersebut tetap menjaga daya tarik aset berdenominasi Dolar AS dan membatasi dukungan yang diperoleh mata uang emerging market dari pelemahan Greenback.
Data aktivitas bisnis AS yang dirilis Jumat juga menunjukkan ekonomi masih cukup solid. PMI Gabungan S&P Global naik menjadi 56,0 pada Agustus dari 54,5, didorong PMI Jasa yang melonjak ke 56,8 dari 54,6 dan jauh melampaui prakiraan 54,0. Sebaliknya, PMI Manufaktur turun menjadi 53,2 dari 53,9 dan berada di bawah konsensus 53,9. Data jasa yang kuat belum mampu menghasilkan pemulihan Dolar AS yang berkelanjutan pada awal pekan.
Minyak Tetap Menjadi Risiko bagi Rupiah
Harga minyak turun pada Senin menjelang pengumuman sanksi baru AS terhadap Iran. Brent diperdagangkan di sekitar US$93,40 per barel, turun 1,05%, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,77% ke US$85,52. Meski terkoreksi, harga minyak masih berada pada level tinggi setelah mencatat kenaikan selama dua pekan berturut-turut di tengah ketidakpastian mengenai pasokan dari Timur Tengah.
Pasar kini menunggu perincian sanksi baru Washington terhadap Teheran yang dijadwalkan diumumkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam konferensi pers pada Senin pukul 18.00 GMT atau Selasa pukul 01.00 WIB. Ancaman sanksi terhadap negara-negara yang tetap berdagang dengan Iran menjaga kekhawatiran terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.
PCE AS Menjadi Perhatian Berikutnya
Perhatian pasar selanjutnya akan beralih ke Indeks Harga Personal Consumption Expenditures (PCE) AS bulan Juli serta estimasi kedua Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal kedua yang dijadwalkan dirilis Rabu, 26 Agustus. PDB AS pada estimasi awal tumbuh 1,5% secara tahunan pada kuartal kedua, melambat dari 2,1% pada kuartal pertama. Data PCE akan menjadi salah satu petunjuk utama mengenai tekanan inflasi menjelang pertemuan The Fed berikutnya.
Pasar juga menantikan pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada Jumat. Reuters mencatat perhatian investor akan tertuju pada pandangannya mengenai kebijakan moneter dan neraca The Fed. Perubahan ekspektasi terhadap arah suku bunga AS, bersama perkembangan sanksi terhadap Iran dan pergerakan harga minyak, berpotensi menentukan arah Dolar AS dan Rupiah sepanjang pekan ini.
Pertanyaan Umum Seputar The Fed
Kebijakan moneter di AS dibentuk oleh Federal Reserve (The Fed). The Fed memiliki dua mandat: mencapai stabilitas harga dan mendorong lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menyesuaikan suku bunga. Ketika harga naik terlalu cepat dan inflasi berada di atas target The Fed sebesar 2%, Bank sentral ini menaikkan suku bunga, meningkatkan biaya pinjaman di seluruh perekonomian. Hal ini menghasilkan Dolar AS (USD) yang lebih kuat karena menjadikan AS tempat yang lebih menarik bagi para investor internasional untuk menyimpan uang mereka. Ketika inflasi turun di bawah 2% atau Tingkat Pengangguran terlalu tinggi, The Fed dapat menurunkan suku bunga untuk mendorong pinjaman, yang membebani Greenback.
Federal Reserve (The Fed) mengadakan delapan pertemuan kebijakan setahun, di mana Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) menilai kondisi ekonomi dan membuat keputusan kebijakan moneter. FOMC dihadiri oleh dua belas pejabat The Fed – tujuh anggota Dewan Gubernur, presiden Federal Reserve Bank of New York, dan empat dari sebelas presiden Reserve Bank regional yang tersisa, yang menjabat selama satu tahun secara bergilir.
Dalam situasi ekstrem, Federal Reserve dapat menggunakan kebijakan yang disebut Pelonggaran Kuantitatif (QE). QE adalah proses yang dilakukan The Fed untuk meningkatkan aliran kredit secara substansial dalam sistem keuangan yang macet. Ini adalah langkah kebijakan non-standar yang digunakan selama krisis atau ketika inflasi sangat rendah. Ini adalah senjata pilihan The Fed selama Krisis Keuangan Besar pada tahun 2008. Hal ini melibatkan The Fed yang mencetak lebih banyak Dolar dan menggunakannya untuk membeli obligasi berperingkat tinggi dari lembaga keuangan. QE biasanya melemahkan Dolar AS.
Pengetatan kuantitatif (QT) adalah proses kebalikan dari QE, di mana Federal Reserve berhenti membeli obligasi dari lembaga keuangan dan tidak menginvestasikan kembali pokok dari obligasi yang dimilikinya yang jatuh tempo, untuk membeli obligasi baru. Hal ini biasanya berdampak positif terhadap nilai Dolar AS.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Melemah dari Tertinggi Pertengahan Mei saat Pembeli Tunggu Perincian Sanksi Iran
USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.705 Jelang Perincian Sanksi Iran oleh Bessent
Sepekan ke Depan: Jackson Hole dan Hasil Nvidia akan Mengalihkan Fokus dari Trump
Inilah yang saya pelajari saat trading koin meme
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 24 Agustus:
Pasar keuangan tetap relatif tenang untuk memulai pekan baru karena para investor menahan diri untuk tidak mengambil posisi besar menjelang agenda penting pekan ini. Kalender ekonomi tidak akan menampilkan rilis data ekonomi makro berdampak tinggi pada hari Senin. Kemudian pada hari itu, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dijadwalkan menggelar konferensi pers pada pukul 18:00 GMT (01:00 WIB) untuk mengumumkan sanksi 'D-Day ekonomi' terhadap Iran. Bessent menjelaskan bahwa AS bertujuan untuk “memutus setiap jalur kehidupan ekonomi” yang menopang Iran.