- EUR/USD merosot dari level tertinggi pekan lalu tetapi tetap berada di atas 1,1650, dekat tertinggi tiga bulan.
- Fokus pasar telah beralih kembali ke Timur Tengah, saat AS menyiapkan sanksi baru terhadap Iran.
- Pullback ringan pada harga Minyak dan kekhawatiran pasar terhadap utang AS menjaga Euro tetap didukung.
Euro (EUR) mencatat penurunan kecil terhadap Dolar AS (USD) pada hari Senin tetapi mempertahankan sebagian besar kenaikan yang diraih pekan lalu. Pasangan mata uang EUR/USD diperdagangkan di atas 1,1650 selama perdagangan sesi pagi Eropa dengan pasar yang cukup enggan mengambil risiko menjelang pengumuman serangkaian sanksi baru yang mungkin meningkatkan ketegangan antara AS dan Iran.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan dalam kolom Financial Times pada hari Minggu bahwa AS sedang menyiapkan "serangan tunggal terbesar yang pernah dikerahkan terhadap musuh,". bertujuan untuk "memutus setiap jalur kehidupan ekonomi" Republik Islam. Pasar kini menunggu perincian tindakan-tindakan itu, menahan napas saat sanksi tersebut mungkin menjangkau sekutu-sekutu tradisional Iran seperti Iran dan Tiongkok
Teheran, pada gilirannya, telah mengancam akan menghentikan seluruh ekspor Minyak dari negara-negara Teluk, dan memperingatkan negara-negara yang bekerja sama dengan AS bahwa sanksi tersebut akan dianggap sebagai "tindakan perang". Harga minyak tetap tertekan pada hari Senin, dengan harga per barel Brent Crude 1,5% di bawah level tertinggi hari Jumat.
Kekhawatiran terhadap Pelemahan Nilai Dolar Muncul Kembali
Para ahli strategi OCBC menyoroti bahwa "pelemahan nilai USD telah muncul kembali sebagai tema pasar" setelah Departemen Keuangan AS secara tak terduga memperbesar program pembelian kembali obligasi tenor panjangnya, sebuah langkah yang menurut mereka menandakan "ketidaknyamanan terhadap kenaikan imbal hasil obligasi tenor panjang baru-baru ini."
"Pembalikan posisi steepener AS yang dihasilkan kemungkinan telah memperkuat perdagangan pelemahan nilai lainnya, termasuk USD yang lebih lemah, rebound pada emas dan breakeven inflasi AS yang lebih tinggi," kata para ahli OCBC dalam sebuah catatan.
Agenda makroekonomi relatif tipis pada paruh I pekan ini, dan para pedagang akan fokus pada data Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS, yang akan dirilis pada hari Rabu, serta pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, di Simposium Jackson Hole, pada hari Jumat. Para investor akan ingin mengetahui bagaimana rencana pembelian kembali obligasi Departemen Keuangan AS akan memengaruhi kebijakan moneter bank sentral.
Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Mendorong Lebih Tinggi, tetapi RSI Jenuh Beli Peringatkan Pembeli
USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.705 Jelang Perincian Sanksi Iran oleh Bessent
Sepekan ke Depan: Jackson Hole dan Hasil Nvidia akan Mengalihkan Fokus dari Trump
Inilah yang saya pelajari saat trading koin meme
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 24 Agustus:
Pasar keuangan tetap relatif tenang untuk memulai pekan baru karena para investor menahan diri untuk tidak mengambil posisi besar menjelang agenda penting pekan ini. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dijadwalkan menggelar konferensi pers pada pukul 18:00 GMT (01:00 WIB) untuk mengumumkan sanksi Iran yang disebut sebagai 'economic D-Day'. Bessent menjelaskan bahwa AS bertujuan untuk “memutus setiap jalur kehidupan ekonomi” yang menopang Iran.