- Kurs Rupiah berbalik menguat tipis ke Rp17.960 per Dolar AS pada penutupan Selasa setelah sempat melemah menembus Rp18.000 pada awal perdagangan.
- Tekanan belum sepenuhnya mereda karena DXY bertahan di sekitar 101,38, imbal hasil Treasury AS 10-tahun di 5,238%, sementara Brent naik ke US$106,64 per barel.
- BI tetap melakukan intervensi di pasar valas di tengah meningkatnya kebutuhan Dolar AS importir menjelang akhir kuartal III. Pasar berikutnya menunggu inflasi dan neraca perdagangan Indonesia.
Rupiah Indonesia (IDR) berhasil membalikkan pelemahan pada perdagangan Selasa, 29 September 2026, setelah sempat kembali menembus level psikologis Rp18.000 per Dolar AS. Pasangan mata uang USD/IDR ditutup melemah ke Rp17.960, turun 5 poin atau sekitar 0,03% dari penutupan Senin di Rp17.965. Sementara itu, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia tercatat di Rp17.998, lebih tinggi 33 poin dibandingkan Rp17.965 pada Senin.
Pemulihan Rupiah berlangsung ketika tekanan eksternal belum banyak berkurang. Indeks Dolar AS (DXY) berada di sekitar 101,38 pada sesi Eropa, setelah sempat turun ke 100,87 pada Jumat. Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS 10-tahun masih tinggi di 5,238%, meski sedikit turun pada hari ini. Kombinasi Dolar dan imbal hasil AS yang tinggi tetap menjadi hambatan bagi mata uang Garuda.
Selain itu, harga minyak yang tetap tinggi turut menambah risiko bagi Rupiah. Berdasarkan data sekitar pukul 15.05 WIB, minyak mentah WTI naik 0,91% ke US$93,44 per barel, sementara Brent menguat 1,29% ke US$106,64 per barel. Kenaikan kembali terjadi karena pasar masih mengkhawatirkan gangguan pasokan dari Timur Tengah di tengah belum adanya kemajuan berarti dalam penyelesaian konflik AS–Iran dan ketidakpastian mengenai Selat Hormuz. Meski ekspor minyak dari kawasan mulai meningkat, jalur pengiriman alternatif dinilai lebih mahal dan kurang efisien. Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, harga energi yang tinggi dapat meningkatkan kebutuhan valas untuk impor dan menambah tekanan terhadap Rupiah.
BI Ubah Campuran Intervensi, OCBC Melihat Risiko USD/IDR Masih ke Atas
Christopher Wong, ahli strategi Valas OCBC, mengatakan USD/IDR sempat kembali mendekati 18.000 karena Rupiah tertekan oleh kombinasi harga minyak yang lebih tinggi, imbal hasil Treasury AS yang tetap tinggi, dan Dolar AS yang kuat. Menurutnya, kondisi eksternal tersebut masih menjadi hambatan utama bagi IDR dalam jangka pendek.
Di tengah tekanan itu, Bank Indonesia tetap melakukan stabilisasi Rupiah, tetapi mengubah komposisi intervensinya. Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan porsi intervensi melalui pasar spot kini hanya sekitar 30% dari total intervensi valas, sementara penggunaan NDF offshore dan DNDF domestik diperbesar karena dinilai lebih efektif dan tidak terlalu menguras cadangan devisa. Menurut Wong, perubahan tersebut tidak mencerminkan berkurangnya komitmen BI dalam menjaga Rupiah. “Hal ini tidak boleh diartikan sebagai BI yang mundur dari stabilisasi IDR, melainkan sebagai perubahan dalam bauran intervensi.”
Tekanan domestik pada saat yang sama datang dari meningkatnya kebutuhan valas importir menjelang akhir kuartal III, bersamaan dengan arus keluar portofolio dari pasar negara berkembang. Wong melihat stabilisasi Rupiah yang lebih meyakinkan akan bergantung pada meredanya tekanan dari luar. “Diperlukan sedikit pelonggaran pada tekanan eksternal ini—imbal hasil Treasury AS, minyak, dan USD—agar IDR dapat stabil dengan lebih meyakinkan.”
OCBC menilai risiko USD/IDR masih cenderung ke atas selama kondisi tersebut bertahan. Wong mencatat momentum bullish pada grafik harian masih utuh, meski RSI telah bergerak mendekati area jenuh beli.
Perhatian pasar berikutnya tertuju pada sejumlah data penting pekan ini. Dari dalam negeri, Neraca Perdagangan Agustus dan inflasi September akan dirilis Kamis, 1 Oktober. Surplus perdagangan sebelumnya menyempit menjadi US$130 juta setelah ekspor tumbuh 6,05% YoY dan impor melonjak 27,02%, sementara inflasi tahunan tercatat 3,19% dan inflasi inti 2,92%. PMI Manufaktur sebelumnya berada di 49,8. Dari AS, investor menantikan ADP dan PCE inti pada Rabu, disusul PMI Manufaktur ISM Kamis dan Nonfarm Payrolls (NFP) Jumat. Data AS yang lebih kuat dari prakiraan dapat kembali memperkuat ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih ketat dan mempertahankan tekanan terhadap Rupiah.
Area Rp18.000 Kembali Menjadi Resistance

Pada grafik harian, USD/IDR masih bergerak dalam ascending channel jangka pendek, tetapi kenaikan mulai berhadapan dengan resistance 17.986–18.001, yang berdekatan dengan batas atas Bollinger Band di sekitar 18.001. Penembusan yang konsisten di atas area tersebut dapat membuka jalan menuju 18.090 (yang sebelumnya menjadi area resistance pada akhir Juli). Relative Strength Index (RSI) berada di 65,03, menunjukkan momentum kenaikan USD/IDR masih kuat, tetapi sudah mendekati wilayah overbought 70 sehingga peluang konsolidasi turut meningkat.
Di sisi bawah, 17.934 menjadi support horizontal terdekat (sebelumnya merupakan resistance horizontal), kemudian 17.879. Jika tekanan terhadap USD/IDR berlanjut hingga menembus kedua area tersebut, koreksi dapat mengarah ke 17.774 (bekas resistance pada awal September), sebelum area yang lebih kuat di sekitar 17.714–17.735 (garis tengah Bollinger Band dan MA 100 periode). Selama harga tetap bertahan di atas 17.879, struktur kenaikan jangka pendek USD/IDR pada grafik harian belum sepenuhnya hilang.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas: Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed, Imbal Hasil Tinggi, dan USD Batasi Kenaikan
USD/IDR: Rupiah Berbalik Menguat Tipis ke Rp17.960 setelah Sempat Tembus Rp18.000
Hari yang Sibuk Menanti
Chainlink memangkas kenaikan setelah peluncuran CCIP 2.0, integrasi ledger Swift
Chainlink (LINK) turun di bawah $15,00 pada hari Selasa, memangkas kenaikan 10% dari hari sebelumnya, didorong oleh peluncuran Cross-Chain Interoperability Protocol 2.0 yang baru dan integrasi ledger Swift untuk simpanan yang ditokenisasi serta pembayaran lintas batas 24/7.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Selasa, 29 September:
Dolar AS tetap tangguh terhadap mata uang utama lainnya menyusul pergerakan yang lesu pada hari Senin. Pada paruh kedua hari ini, Indeks Keyakinan Konsumen untuk bulan September dan data Lowongan Kerja JOLTS untuk bulan Agustus akan ditampilkan dalam kalender ekonomi AS. Selain itu, beberapa pengambil kebijakan Federal Reserve dijadwalkan untuk menyampaikan pidato.