- Kurs Rupiah ditutup menguat ke level Rp18.075 per Dolar AS pada Kamis, naik 80 poin dari penutupan sebelumnya di Rp18.155.
- Ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% pada kuartal III 2026, melampaui ekspektasi pasar sebesar 5,2% dan meningkat dari 5,29% pada kuartal sebelumnya.
- Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS menekan Dolar AS dan harga minyak, sementara investor menantikan data ketenagakerjaan AS serta cadangan devisa Indonesia.
Rupiah berhasil melanjutkan pemulihannya terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (5/11), ditutup di Rp18.075 per Dolar AS atau menguat 80 poin (0,44%) dibandingkan penutupan Rabu di Rp18.155. Mata uang Indonesia mendapat dukungan dari kombinasi pertumbuhan ekonomi domestik yang melampaui perkiraan, pelemahan Dolar AS setelah kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu sela, serta kemerosotan harga minyak dunia yang membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan beban impor energi.
Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,47% secara tahunan pada kuartal III 2026, lebih tinggi dibandingkan 5,29% pada kuartal sebelumnya dan konsensus pasar sebesar 5,2%. Secara kuartalan, ekonomi berkembang 1,59%, sementara pertumbuhan kumulatif Januari–September mencapai 5,45%. Konsumsi rumah tangga yang meningkat 5,04% dan ekspor yang bertambah 4,59% menjadi bagian dari penopang aktivitas ekonomi.
Kemenangan Demokrat Tekan Dolar AS, Harga Minyak Anjlok
Di pasar internasional, Dolar AS tertekan setelah Partai Demokrat merebut kendali Senat dan DPR dalam pemilu sela 3 November, meningkatkan risiko kebuntuan politik yang dapat menghambat agenda Presiden Donald Trump. Indeks Dolar AS (DXY) sempat turun ke 101,2 pada sesi Asia Kamis, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun merosot ke sekitar 4,88%. Investor juga mencermati potensi pengetatan regulasi kecerdasan buatan (AI) yang dapat membebani sektor teknologi.
Meski demikian, data ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan. Laporan ADP mencatat penambahan 86.000 pekerjaan swasta pada Oktober, melampaui perkiraan 69.000, sedangkan PMI Jasa ISM turun ke 54,5 dari 54,9. Indeks harga yang dibayar tetap tinggi di 73,0, mengindikasikan tekanan inflasi yang belum mereda dan menjaga ketidakpastian arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Sementara itu, penurunan harga minyak membantu meredakan tekanan terhadap Rupiah. Menurut Reuters, Brent melemah 0,85% ke US$93,82 per barel dan WTI turun 1,36% ke US$86,92 pada Kamis, melanjutkan kejatuhan lebih dari 8% sehari sebelumnya. Pasar menilai kemenangan Demokrat dapat menekan risiko eskalasi konflik AS-Iran sekaligus membuka peluang diplomasi, sehingga mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi Timur Tengah.
Cadangan Devisa Indonesia dan NFP AS Jadi Perhatian Berikutnya
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada publikasi Cadangan Devisa Indonesia periode Oktober yang dijadwalkan Jumat (6/11), setelah posisi September tercatat sebesar US$146,3 miliar. Data tersebut penting untuk menilai ketahanan eksternal dan kapasitas Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas Rupiah di tengah volatilitas pasar keuangan. Dari AS, klaim pengangguran mingguan pada Kamis malam akan menjadi petunjuk awal sebelum laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Oktober dirilis Jumat. Pasar memprakirakan penambahan 65.000 pekerjaan, meningkat dari 29.000 pada September, dengan tingkat pengangguran diprakirakan bertahan di 4,2%. Angka-angka tersebut berpotensi menentukan apakah pelemahan Dolar berlanjut atau justru mengalami pembalikan menjelang keputusan suku bunga The Fed pada Desember.
USD/IDR Kehilangan Momentum Bullish, Support 18.000 jadi Penentu

Berdasarkan grafik harian ICE, USD/IDR mulai kehilangan momentum bullish setelah gagal mempertahankan support 18.090, yang kini beralih menjadi resistance terdekat. Pasangan mata uang ini ditutup di 18.075, sekaligus menjadi level terendah harian, setelah sempat mencapai 18.155. Koreksi tersebut turut menyeret Relative Strength Index (RSI) turun tajam ke 57,08, mengindikasikan melemahnya tekanan beli Dolar AS. Meski demikian, USD/IDR masih bergerak di atas garis tren menurun jangka menengah yang telah ditembus sebelumnya, sehingga struktur pemulihan belum sepenuhnya selesai.
Penutupan di bawah 18.090 meningkatkan risiko koreksi lanjutan menuju area 18.000, yang menjadi penopang penting untuk mempertahankan bias bullish. Penembusan di bawah zona tersebut dapat membuka jalan menuju support berikutnya di 17.943 (pembatas pada 16–23 Oktober), disusul 17.895 yang berdekatan dengan Simple Moving Average (SMA) 100 hari. Sebaliknya, pemulihan di atas 18.090 diperlukan untuk menghidupkan kembali momentum kenaikan menuju 18.155 (tertinggi harian) dan resistance kuat 18.183 (tertinggi 29 Oktober). Dengan RSI yang masih bertahan di atas 50, peluang rebound tetap terbuka, meskipun tekanan jual jangka pendek kini semakin dominan.
Informasi yang terdapat pada halaman-halaman ini mencakup pernyataan berwawasan ke depan yang mengandung risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen keuangan yang dibahas pada halaman ini hanya ditujukan untuk tujuan informasi dan sama sekali tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual aset tersebut. Anda harus melakukan riset menyeluruh secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini sepenuhnya bebas dari kekeliruan, kesalahan, atau pernyataan keliru yang bersifat material. FXStreet juga tidak menjamin bahwa informasi ini selalu terkini. Berinvestasi di pasar terbuka melibatkan risiko yang sangat besar, termasuk kehilangan sebagian atau seluruh modal investasi Anda, serta tekanan emosional. Seluruh risiko, kerugian, dan biaya yang berkaitan dengan investasi, termasuk kehilangan seluruh modal pokok, sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda. Pandangan dan opini yang diungkapkan dalam artikel ini merupakan pendapat penulis dan tidak selalu mencerminkan kebijakan atau posisi resmi FXStreet maupun para pengiklannya. Penulis tidak bertanggung jawab atas informasi yang terdapat pada tautan-tautan yang dicantumkan di halaman ini.
Kecuali dinyatakan secara tegas dalam isi artikel, pada saat penulisan, penulis tidak memiliki posisi investasi pada saham apa pun yang disebutkan dalam artikel ini dan tidak memiliki hubungan bisnis dengan perusahaan mana pun yang disebutkan. Penulis tidak menerima kompensasi atas penulisan artikel ini selain dari FXStreet.
FXStreet dan penulis tidak memberikan rekomendasi yang dipersonalisasi. Penulis tidak memberikan jaminan atau pernyataan mengenai keakuratan, kelengkapan, maupun kesesuaian informasi ini. FXStreet dan penulis tidak bertanggung jawab atas kesalahan, kelalaian, maupun kerugian, cedera, atau kerusakan apa pun yang timbul akibat informasi ini serta penyajian atau penggunaannya. Segala kesalahan dan kelalaian yang mungkin terjadi dikecualikan dari tanggung jawab.
Penulis dan FXStreet bukan penasihat investasi terdaftar, dan tidak ada satu pun bagian dari artikel ini yang dimaksudkan sebagai nasihat investasi.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Pertahankan Kenaikan di Atas US$4.100 saat USD Berjuang di Dekat Terendah Akhir September
US/IDR: Rupiah Menguat ke Rp18.075, Ditopang PDB Indonesia dan Pelemahan Dolar AS Pascapemilu
Dolar AS Menembus di Bawah 101,50 setelah Partai Demokrat Menang Telak di Kongres
Token TRUMP mencapai rekor terendah di tengah tekanan jual yang meningkat
Ripple dan Stellar melanjutkan pemulihan mereka seiring tekanan bearish mulai mereda untuk kedua altcoin tersebut. XRP diperdagangkan di atas $1,30 setelah menembus di atas garis tren atas dari pola falling channel, sementara XLM bertahan di atas $0,168 dan mendekati resistance di $0,173. Sementara itu, metrik derivatif yang membaik dan indikator momentum yang menguat mengisyaratkan potensi pemulihan lebih lanjut.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada Kamis, 5 November:
Tekanan jual yang mengelilingi Dolar AS menyusul hasil pemilu paruh waktu masih berlanjut pada hari Kamis, dengan Indeks USD memperpanjang penurunannya menuju 101,00 di awal sesi Eropa. Pada hari ini, Bank of England akan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya dan Gubernur Bank of England, Andrew Bailey, akan berbicara mengenai prospek kebijakan dan menanggapi pertanyaan dalam konferensi pers yang dimulai pada pukul 12:30 GMT (19:30 WIB).