Rupiah Kembali ke Atas 16.800 per Dolar AS, Sentimen Global Masih Mendominasi


  • Rupiah bergerak di kisaran Rp16.770-Rp16.830 per dolar AS, tertekan penguatan dolar global.
  • Data ekonomi domestik tetap kuat dengan pertumbuhan 2025 mencapai 5,11%, menopang stabilitas rupiah.
  • Pasar menanti data tenaga kerja AS lanjutan untuk mengukur arah kebijakan suku bunga The Fed.

Rupiah melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis siang, dengan pasangan mata uang USD/IDR naik ke sekitar 16.825 setelah sebelumnya diperdagangkan di kisaran 16.765. Sepanjang sesi, pergerakan berada dalam rentang sekitar 16.770 hingga 16.830, mencerminkan tekanan moderat di tengah penguatan dolar global. Faktor eksternal masih membentuk arah rupiah, terutama ekspektasi kebijakan moneter AS dan perkembangan data ekonomi terbaru, sementara stabilitas pertumbuhan domestik membantu membatasi pelemahan lebih lanjut. Untuk perdagangan hari ini, USD/IDR diprakirakan bergerak dalam kisaran 16.770-16.830.

Di sisi lain, dolar AS tetap menguat setelah indeks dolar (DXY) sempat menyentuh level terendah akhir Januari di 95,55 dan kini bergerak mendekati 98,00 saat berita ini ditulis. Penguatan tersebut didukung ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang cenderung ketat serta proyeksi penurunan suku bunga yang diprakirakan berlangsung lebih bertahap.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Solid, Stimulus Pemerintah Disiapkan Jaga Momentum

Data ekonomi Indonesia yang dirilis Kamis menunjukkan pertumbuhan tetap terjaga meski momentum kuartalan mulai melandai. Produk Domestik Bruto (PDB) sepanjang 2025 tercatat tumbuh 5,11%, sedikit melampaui prakiraan pasar sekitar 5% sekaligus lebih tinggi dibanding realisasi tahun sebelumnya 5,03%. Secara tahunan, pertumbuhan kuartal IV mencapai 5,39% (YoY), meningkat dari 5,04% pada kuartal sebelumnya dan berada di atas konsensus 5,01%. Namun secara kuartalan, ekspansi ekonomi tercatat 0,86% (QoQ), melambat dari 1,42% pada kuartal III meski masih melampaui ekspektasi 0,68%, mengindikasikan aktivitas domestik tetap kuat meski fase akselerasi mulai normal.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan 5,2% pada 2025 dan 5,4% pada 2026, ditopang stimulus Rp16,23 triliun untuk menjaga konsumsi rumah tangga, termasuk bantuan pangan, insentif pajak pariwisata, serta program padat karya. Tambahan bantuan sekitar Rp12 triliun juga disiapkan awal tahun guna mempertahankan momentum pertumbuhan.

Data AS Beragam, Spekulasi Kebijakan The Fed Menguat Jelang Rilis Data Tenaga Kerja

Sementara itu, data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis semalam menunjukkan sinyal campuran. Laporan ADP mencatat penambahan tenaga kerja sektor swasta hanya sekitar 22 ribu pada Januari, jauh di bawah prakiraan 77 ribu dan turun dari 37 ribu sebelumnya, mengindikasikan pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum. Sementara itu, indeks PMI Jasa ISM naik ke 53,8 pada Januari dari 53,8 sebelumnya dan melampaui ekspektasi 53,5, menandakan aktivitas sektor jasa masih bertahan di zona ekspansi.

Spekulasi arah kebijakan moneter AS meningkat setelah pencalonan Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua Federal Reserve memicu ekspektasi pendekatan kebijakan yang relatif kurang dovish, sehingga turut memberi dukungan bagi penguatan dolar AS. Meski begitu, pasar masih melihat peluang dua kali penurunan suku bunga tahun ini, terutama setelah data ketenagakerjaan swasta AS menunjukkan hasil di bawah prakiraan.

Fokus pasar kini bergeser ke rangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis Kamis, termasuk laporan lowongan kerja JOLTS yang sempat tertunda serta data rutin klaim awal tunjangan pengangguran mingguan. Kedua indikator ini dipantau sebagai petunjuk tambahan untuk menilai kekuatan pasar tenaga kerja dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve ke depan.

Indikator Ekonomi

Lowongan Pekerjaan JOLTS

Lowongan Pekerjaan JOLTS adalah survei yang dilakukan oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS untuk membantu mengukur lowongan pekerjaan. Mengumpulkan data dari sejumlah pengusaha termasuk pengecer, produsen dan kantor-kantor yang berbeda setiap bulan.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Feb 05, 2026 15.00

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 7.2Jt

Sebelumnya: 7.146Jt

Sumber: US Bureau of Labor Statistics


Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

EUR/USD Mundur saat Permintaan Safe-Haven Meningkatkan Dolar AS meski NFP Mengejutkan

EUR/USD Mundur saat Permintaan Safe-Haven Meningkatkan Dolar AS meski NFP Mengejutkan

EUR/USD diperdagangkan di sekitar 1,1560 pada hari Jumat pada saat berita ini ditulis, turun 0,40% pada hari itu setelah sempat rebound menuju 1,1590 setelah rilis data pasar tenaga kerja terbaru dari Amerika Serikat (AS).

Emas Tergelincir meskipun Konflik AS-Iran Meningkat saat Dolar Menguat

Emas Tergelincir meskipun Konflik AS-Iran Meningkat saat Dolar Menguat

Emas (XAU/USD) melemah pada hari Jumat, memangkas keuntungan sebelumnya seiring dengan penguatan Dolar AS (USD) secara umum dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang terus membebani logam yang tidak berimbal hasil ini.

Musim Dingin Akan Datang: Perang Timur Tengah, Guncangan Harga Minyak, dan Kembalinya Inflasi?

Musim Dingin Akan Datang: Perang Timur Tengah, Guncangan Harga Minyak, dan Kembalinya Inflasi?

Eskalasi perang di Timur Tengah dengan cepat menjadi masalah ekonomi global. Lonjakan harga minyak menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi pada saat bank sentral percaya bahwa guncangan harga terburuk telah berlalu.

Mengapa Bitcoin tidak anjlok akibat perang Iran?

Mengapa Bitcoin tidak anjlok akibat perang Iran?

Setelah AS dan Israel menyerang Iran, konsensus di antara sebagian besar ahli adalah bahwa Bitcoin dan pasar kripto akan mengalami putaran penurunan tajam lainnya. Namun, itu tidak terjadi. Dan hampir satu minggu setelahnya, kripto tampaknya mampu menghadapi badai jauh lebih baik dibandingkan dengan kelas aset lain yang dianggap berisiko.

Liputan Langsung NFP:

Liputan Langsung NFP:

NFP

Bagaimana pasar akan menilai data NFP Februari sementara krisis Timur Tengah semakin dalam?

Para investor memprakirakan NFP akan naik 59 ribu menyusul kenaikan 130 ribu yang mengesankan yang tercatat di bulan Januari. Para ahli kami akan menganalisis reaksi pasar terhadap peristiwa ini hari ini pada pukul 13:00 GMT.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA