Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.935, USD/IDR Naik saat Dolar Stabil dan Minyak Menguat



  • Kurs Rupiah ditutup Rp17.935 per Dolar AS pada Jumat, sementara USD/IDR offshore bergerak naik ke Rp17.970 setelah perdagangan domestik berakhir.
  • Dolar AS bertahan dekat level tertinggi pekan ini, didukung data klaim pengangguran yang kuat dan permintaan aset safe haven di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.
  • Minyak Brent sempat menembus USD100, sedangkan Commerzbank menilai kenaikan BI-Rate 25 basis poin pada akhir tahun masih belum dapat dikesampingkan.

Rupiah Indonesia (IDR) ditutup melemah ke Rp17.935 per Dolar AS pada perdagangan domestik Jumat, dari posisi Kamis di Rp17.890. Tekanan terhadap mata uang Garuda muncul ketika Greenback bertahan dekat level tertinggi pekan ini, ditopang data klaim pengangguran AS yang lebih kuat dari prakiraan serta meningkatnya permintaan terhadap Dolar sebagai aset safe haven di tengah eskalasi konflik Timur Tengah selama 13 hari.

USD/IDR bergerak ke Rp17.970 setelah transaksi antarbank domestik berakhir. Pasangan mata uang tersebut naik 80 poin atau 0,45% dibandingkan hari sebelumnya. Pada awal sesi Eropa, Indeks Dolar AS (DXY) terkoreksi tipis ke sekitar 101,35 setelah menyentuh 101,53 pada Kamis, level tertinggi sejak 1 Juli.

Data Tenaga Kerja dan Minyak Mendukung Dolar

Klaim Tunjangan Pengangguran Awal AS turun menjadi 187.000 pada pekan yang berakhir 18 Juli, dari 209.000 sebelumnya dan jauh di bawah prakiraan pasar. Jumlah penerima tunjangan berkelanjutan juga turun tipis menjadi 1,796 juta, sementara klaim awal tercatat pada level terendah sejak 1969. CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September meningkat menjadi sekitar 80% dari 58% sepekan sebelumnya.

Harga minyak turut mempertahankan tekanan eksternal terhadap Rupiah. Brent sempat mencapai di atas USD100, sedangkan WTI menguat melampaui USD91. Kenaikan dipicu serangan Houthi terhadap kapal tanker Saudi di Laut Merah, yang memperbesar risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb. Presiden AS Donald Trump mengancam akan menjatuhkan “hukuman militer besar” terhadap Iran dan Houthi apabila serangan terhadap kapal berlanjut.

Commerzbank: Risiko Kenaikan BI-Rate Belum Hilang

Charlie Lay dari Commerzbank menilai keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 5,75% menunjukkan preferensi terhadap insentif arus modal yang lebih terarah daripada kenaikan suku bunga tambahan. Penurunan USD/IDR dari atas Rp18.200 ke sekitar Rp17.900 memberi ruang bagi BI, tetapi Rupiah masih menghadapi risiko dari harga minyak, permintaan Dolar sebagai aset safe haven, dan kekhawatiran fiskal. “Kenaikan suku bunga 25 basis poin lagi di akhir tahun ini tidak dapat dikesampingkan jika tekanan depresiasi muncul kembali,” tulis Lay.

DHE SDA dan Panda Bond Menjadi Fokus Domestik

Dari dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memprakirakan Rupiah dapat memperoleh dukungan dari penerapan aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam yang berlaku sejak Juni. Eksportir nonmigas diwajibkan menempatkan 100% DHE SDA di dalam negeri selama sedikitnya 12 bulan, meski konversinya ke Rupiah dibatasi maksimal 50%. “Seharusnya Rupiah akan semakin menguat,” ujarnya.

Rencana penerbitan Panda Bond senilai sekitar USD1 miliar juga menjadi bagian dari diversifikasi pembiayaan pemerintah. Melalui skema Local Currency Transaction, dana investor dalam yuan dapat dikonversi langsung ke Rupiah tanpa terlebih dahulu melalui Dolar AS. Dalam laporan Republika, Purbaya mengatakan, “Rupiah akan cenderung menguat karena tekanan dari Dolar ini.” Dampaknya terhadap nilai tukar tetap bergantung pada hasil penerbitan, permintaan investor, dan realisasi konversi dana.

Malam ini, pasar akan memantau PMI pendahuluan S&P Global AS bulan Juli pada pukul 20:45 WIB. PMI Jasa diprakirakan turun tipis menjadi 51,0 dari 51,2, sedangkan PMI Manufaktur diprakirakan naik menjadi 54,5 dari 53,9. PMI Gabungan sebelumnya tercatat 51,9. Data Penjualan Rumah Baru bulan Juni akan menyusul pada pukul 21:00 WIB, setelah turun 7,3% pada Mei.

Indikator Ekonomi

PMI Manufaktur S&P Global

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur S&P Global, yang dirilis setiap bulan, merupakan indikator utama yang mengukur aktivitas bisnis di sektor manufaktur AS. Data tersebut diperoleh dari survei terhadap eksekutif senior di perusahaan swasta dari sektor manufaktur. Respons survei mencerminkan perubahan, jika ada, pada bulan ini dibandingkan bulan sebelumnya dan dapat mengantisipasi perubahan tren dalam rangkaian data resmi seperti Produk Domestik Bruto (PDB), produksi industri, lapangan kerja, dan inflasi. Angka di atas 50 menunjukkan bahwa ekonomi manufaktur secara umum berkembang, yang merupakan tanda bullish bagi Dolar AS (USD). Sementara itu, angka di bawah 50 menandakan bahwa aktivitas di sektor manufaktur secara umum menurun, yang dipandang sebagai bearish bagi USD.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Jum Jul 24, 2026 13.45 (Pendahuluan)

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 54.5

Sebelumnya: 53.9

Sumber: S&P Global


Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Pulih dari Level Terendah saat USD Melemah, tetapi Taruhan Kenaikan Fed Tetap Membayangi

Emas Pulih dari Level Terendah saat USD Melemah, tetapi Taruhan Kenaikan Fed Tetap Membayangi

Emas (XAU/USD) memulihkan pelemahan yang moderat dalam perdagangan harian di tengah pullback tipis Dolar AS (USD), meskipun tetap berada di bawah level $4.050 menjelang sesi Eropa pada hari Jumat. Harga minyak mentah tetap tinggi di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran, memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.935, USD/IDR Naik saat Dolar Stabil dan Minyak Menguat

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.935, USD/IDR Naik saat Dolar Stabil dan Minyak Menguat

Rupiah Indonesia (IDR) ditutup melemah ke Rp17.935 per Dolar AS pada perdagangan domestik Jumat, dari posisi Kamis di Rp17.890.
Dua Burnham, Satu Anggaran: Pound Bergerak di Celah antara Janji dan Landasan Kebijakan

Dua Burnham, Satu Anggaran: Pound Bergerak di Celah antara Janji dan Landasan Kebijakan

Satu bulan lalu, kolom ini menyisakan sebuah pertanyaan yang belum terjawab.Isu sentral yang memicu aksi jual masif obligasi pemerintah Inggris (Gilt) pada musim semi mulai menjauh, premi kredibilitas menjadi satu-satunya aspek yang benar-benar dapat dikendalikan oleh Westminster, dan tak seorang pun tahu seberapa besar pemerintah baru akan membiarkannya membengkak.
WTI berjuang di $90,00 saat mundur dari tertinggi enam minggu

WTI berjuang di $90,00 saat mundur dari tertinggi enam minggu

Harga minyak West Texas Intermediate menghentikan tren kemenangan tiga hari mereka, diperdagangkan di sekitar $90 per barel pada jam-jam Asia pada hari Jumat. Namun, harga Minyak Mentah WTI berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan lebih dari 10%. Reli dramatis ini terjadi saat ketegangan yang meningkat di Timur Tengah memicu ketakutan intens akan gangguan pasokan minyak global yang meluas.

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Jumat, 24 Juli

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Jumat, 24 Juli

Pasar keuangan tetap menghindari risiko menjelang akhir pekan karena para investor kini harus menilai dampak gelombang baru tarif yang diberlakukan oleh Amerika Serikat, sambil terus memperhatikan berita yang keluar dari Timur Tengah. Kalender ekonomi akan menampilkan data awal Indeks Manajer Pembelian (IMP) Manufaktur dan Jasa bulan Juli dari Zona Euro, Inggris, dan AS pada hari Jumat

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA