- IHSG ditutup melemah 0,28% ke 5.886 setelah sempat naik ke 6.010, tetapi gagal mempertahankan posisi di atas 5.900.
- Tekanan utama datang dari sektor bahan dasar dan energi, sementara sektor keuangan masih menjadi penahan koreksi.
- Sentimen pasar dibayangi penurunan penjualan ritel Indonesia, arus jual asing, serta agenda IHP AS dan Klaim Tunjangan Pengangguran malam ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkoreksi pada perdagangan Kamis, setelah bergerak volatil sepanjang sesi. IHSG ditutup di 5.886, turun 16 poin atau 0,28% dari penutupan sebelumnya di 5.902.
Pergerakan indeks sempat terlihat menjanjikan saat menyentuh level tertinggi harian di 6.010. Namun, dorongan beli tidak bertahan lama. Tekanan jual kembali masuk dan membawa IHSG turun hingga 5.784 sebelum akhirnya memangkas sebagian pelemahan menjelang penutupan. Tampaknya pasar masih kesulitan menjaga momentum pemulihan, terutama di atas area psikologis 5.900.
Koreksi Kamis tidak hanya mencerminkan pelemahan indeks secara umum, tetapi juga memperlihatkan rotasi sektoral yang cukup tajam. Saham-saham berbasis komoditas menjadi sumber tekanan utama, sementara sektor keuangan masih berperan sebagai bantalan.
Berdasarkan data IDX kemarin, investor asing masih mencatat net sell harian sebesar Rp3,12 triliun. Secara tahun berjalan, akumulasi jual bersih asing sudah mencapai Rp67,38 triliun. Angka ini menegaskan bahwa rebound IHSG sebelumnya belum sepenuhnya ditopang oleh kembalinya kepercayaan investor global. Dengan arus asing yang masih keluar, kenaikan indeks menjadi lebih rentan patah ketika pasar mendapat tekanan baru dari data domestik maupun sentimen eksternal.
Energi dan Bahan Dasar Jadi Beban Utama
Sektor bahan dasar mencatat tekanan terdalam setelah IDXBASIC turun 4,27% ke 1.499. Sektor energi juga melemah signifikan, dengan IDXENERGY terkoreksi 2,12% ke 2.724. Pelemahan dua sektor ini menekan IHSG karena keduanya banyak dihuni saham-saham berkapitalisasi besar yang sensitif terhadap harga komoditas, perubahan selera risiko, dan arus dana asing.
Tekanan juga terlihat pada IDXMESBUMN yang turun 1,69% ke 74. Di sisi lain, sektor keuangan masih mampu bergerak positif, ditopang sentimen selektif setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan ke 5,50%. IDXFINANCE naik 1,36% ke 1.296, sementara PRIMBANK10 menguat 0,74% ke 146. Kenaikan ini menunjukkan saham-saham keuangan, terutama perbankan, masih menjadi pilihan defensif di tengah pasar yang rapuh, meski efek suku bunga tinggi tetap perlu dibaca hati-hati karena dapat menahan permintaan kredit. IDXHEALTH juga ikut menguat 0,74% ke 1.405.
Kenaikan saham-saham keuangan membantu menahan koreksi IHSG. Namun, penguatan tersebut belum cukup untuk membawa indeks kembali ke zona hijau karena tekanan pada bahan dasar dan energi masih terlalu dominan.
Penjualan Ritel Turun, Konsumsi Jadi Sorotan
Dari sisi domestik, pasar mencermati data penjualan ritel Indonesia yang melemah tajam. Penjualan ritel tahunan April tercatat turun 3,7% YoY, berbalik dari pertumbuhan 3,4% YoY pada bulan sebelumnya.
Data ini memberi sinyal bahwa konsumsi domestik kehilangan sebagian momentum setelah periode belanja Ramadan dan Idulfitri. Bagi pasar saham, pelemahan tersebut menambah alasan untuk lebih selektif, terutama terhadap emiten yang sensitif terhadap daya beli rumah tangga.
Konsumsi selama ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi Indonesia. Karena itu, ketika data ritel berbalik turun, investor cenderung lebih berhati-hati membaca prospek pendapatan emiten domestik. Tekanan ini muncul di saat IHSG sendiri masih berusaha memulihkan kepercayaan pasar setelah aksi jual asing yang cukup besar.
Pasar Global Masih Menunggu Sinyal dari AS
Dari luar negeri, data inflasi AS memberi sinyal campuran. IHK (CPI) Mei naik 0,5% MoM sesuai konsensus dan sedikit lebih rendah dari 0,6% sebelumnya, sementara secara tahunan meningkat ke 4,2% YoY dari 3,8%. Di sisi lain, IHK inti naik 0,2% MoM, lebih rendah dari konsensus 0,3%, dengan inflasi inti tahunan berada di 2,9% YoY.
Pasar kini akan mencermati rilis PPI AS Mei dan klaim tunjangan pengangguran. PPI utama diprakirakan naik 0,7% MoM dan 6,4% YoY, sedangkan PPI inti diproyeksikan naik 0,5% MoM dan 5,4% YoY. Klaim Tunjangan Pengangguran diprakirakan turun ke 219 ribu dari 225 ribu.
Jika inflasi produsen tetap tinggi dan pasar tenaga kerja masih kuat, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed berpotensi bertahan lebih lama. Kondisi ini dapat menjaga sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko, termasuk saham Indonesia.
Indikator Ekonomi
Indeks Harga Produsen non Pangan & Energi (Thn/Thn)
Indeks Harga Produsen dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja, Departemen Tenaga Kerja mengukur rata-rata perubahan harga di pasar utama AS oleh produsen komoditas di semua negara bagian untuk pengolahan. Perubahan IHP secara luas diikuti sebagai indikator inflasi komoditas. Secara umum, pembacaan tinggi dipandang sebagai positif (atau bullish) untuk USD, sedangkan bacaan yang rendah dipandang sebagai negatif (atau bearish).
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Kam Jun 11, 2026 12.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 5.4%
Sebelumnya: 5.2%
Sumber: US Bureau of Labor Statistics
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Bank Sentral Eropa akan Menaikkan Suku Bunga untuk Pertama Kalinya dalam Hampir Tiga Tahun
IHSG Terkoreksi 0,28% di Tengah Penjualan Ritel yang Turun, Investor Tunggu PPI AS
Kenaikan Suku Bunga Kejutan di Indonesia Mungkin Tidak Cukup untuk Menyelamatkan Rupiah
Pi Network: Pemulihan Berisiko dengan 16 Juta Token PI Siap untuk Dibuka Kuncinya
Pi Network naik tipis setelah tiga hari kerugian berturut-turut awal pekan ini, memperpanjang tren menurun yang sedang berlangsung sejak akhir April. Pembukaan 16 juta token PI yang dijadwalkan pada hari Kamis dapat menambah tekanan pada pemulihan perdagangan harian. Secara teknis, PI tetap berada di bawah tekanan bearish.