• IHSG menguat 0,08% ke 6.177 setelah bergerak lebar di kisaran 6.117-6.215.
  • MSCI menurunkan penilaian arus informasi Indonesia menjadi negatif.
  • Investor menunggu keputusan klasifikasi pasar MSCI pada Selasa, 23 Juni.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bertahan di atas 6.100 dan menutup perdagangan Jumat dengan kenaikan tipis 0,08% atau 4 poin ke 6.177. Indeks dibuka di 6.161, sempat naik ke 6.215, lalu menyentuh level terendah 6.117.

Sektor infrastruktur memimpin penguatan dengan kenaikan 1,62%, disusul kesehatan 1,52% dan barang konsumen primer 1,09%. Sebaliknya, IDXMESBUMN turun 2,80%, IDXBUMN20 melemah 2,67%, dan SMinfra18 kehilangan 2,33%.

MSCI Kembali Menyoroti Transparansi Pasar

Pergerakan terbatas IHSG berlangsung ketika investor mencerna laporan 2026 Global Market Accessibility Review. MSCI menurunkan penilaian arus informasi Indonesia dari “+” menjadi “-” karena terbatasnya transparansi struktur kepemilikan saham dan aktivitas perdagangan terkoordinasi. Persoalan tersebut dinilai mengganggu pembentukan harga dan menyulitkan investor global mengukur free float sebenarnya.

OJK memandang temuan MSCI sebagai evaluasi konstruktif terhadap reformasi pasar modal. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi mengatakan penguatan transparansi, integritas, dan kualitas informasi merupakan proses berkelanjutan. Mohit Mirpuri dari SGMC Capital menilai hasil tinjauan masih cukup berimbang karena hanya satu indikator aksesibilitas Indonesia yang memburuk.

Nada lebih berhati-hati datang dari Kepala Riset Maybank Indonesia Jeffrosenberg Chen Lim. Ia melihat perhatian MSCI telah bergeser dari persoalan teknis akses pasar menuju masalah kepercayaan dan tata kelola yang lebih sulit serta membutuhkan waktu lebih panjang untuk dibenahi. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah terus mendorong kenaikan ketentuan free float, keterbukaan pemilik manfaat akhir, dan pendalaman pasar.

Investor selanjutnya menunggu Annual Market Classification Review MSCI pada Selasa, 23 Juni. Pasar akan melihat apakah Indonesia tetap menyandang status emerging market dan apakah pembekuan perubahan komposisi saham Indonesia dalam indeks MSCI akan dilanjutkan.

BI dan The Fed Menjaga Tekanan Suku Bunga

Sebelumnya pada Kamis, Bank Indonesia kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%. Suku bunga Deposit Facility ikut dinaikkan menjadi 4,75% dan Lending Facility menjadi 6,50%. Pada saat yang sama, pertumbuhan kredit Mei meningkat menjadi 11,51% secara tahunan dari 9,98% sebelumnya.

Tekanan suku bunga global juga belum mereda. The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%, tetapi menaikkan proyeksi inflasi PCE 2026 menjadi 3,6% dari 2,7%. Median proyeksi suku bunga akhir tahun turut bergeser menjadi 3,8% dari 3,4%, memperkecil harapan terhadap pelonggaran moneter dalam waktu dekat.

Sementara itu, harga minyak yang masih berada di sekitar US$80 per barel meredakan sebagian kekhawatiran terhadap biaya energi dan inflasi. WTI Juli menguat ke kisaran US$77, sedangkan Brent berada di sekitar US$80 setelah sejumlah tanker kembali melewati Selat Hormuz. Namun, arus pelayaran belum pulih sepenuhnya dan perundingan lanjutan AS-Iran yang dijadwalkan Jumat ditunda. Aktivitas investor global juga lebih sepi karena pasar saham dan obligasi AS tutup untuk memperingati Juneteenth.

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.


Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Dekati $4.100 saat Taruhan Pengetatan The Fed Meningkat

Emas Dekati $4.100 saat Taruhan Pengetatan The Fed Meningkat

Emas (XAU/USD) melanjutkan pelemahan selama tiga hari berturut-turut pada hari Jumat, mencapai posisi terendah satu minggu di $4.121, dalam jalur untuk menutup tren penurunan tiga minggu. Logam mulia ini berjuang, meskipun Dolar AS sedikit melemah, karena meningkatnya taruhan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjadi hambatan bagi rally Emas.
USD/IDR: Rupiah Ditutup Turun ke 17.802, MSCI Soroti Transparansi Pasar Indonesia

USD/IDR: Rupiah Ditutup Turun ke 17.802, MSCI Soroti Transparansi Pasar Indonesia

Rupiah ditutup melemah di atas 18.000 terhadap Dolar AS pada perdagangan Jumat. USD/IDR naik 101,9 poin atau 0,58% ke 17.802 setelah bergerak dalam rentang 17.705-17.867,6. Pasangan mata uang tersebut dibuka di 17.780, dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.700. JISDOR Bank Indonesia ditetapkan di Rp17.826 per Dolar AS, sekitar Rp24 di atas harga pasar.
The Fed Mendorong Dolar ke Puncak Sebelumnya

The Fed Mendorong Dolar ke Puncak Sebelumnya

Dolar AS mencatat rally dua hari terbaiknya sejak awal konflik bersenjata di Timur Tengah. Saat itu, dolar naik karena permintaan kuat terhadap aset-aset safe-haven dan perannya sebagai mata uang negara eksportir energi bersih. Indeks DXY sempat melampaui 101, menyentuh level tertinggi dalam 13 bulan terakhir.
GBP/USD memantul kembali di atas 1,3200 meskipun ada drama politik di Inggris

GBP/USD memantul kembali di atas 1,3200 meskipun ada drama politik di Inggris

GBP/USD memperpanjang rebound di atas 1,3200 pada paruh kedua hari ini pada hari Jumat namun pasangan mata uang ini masih turun lebih dari 1% untuk minggu ini. Data Penjualan Ritel Inggris yang lebih kuat dari prakiraan tampaknya membantu Pound Inggris membatasi penurunannya, sementara lingkungan politik Inggris yang kacau menjaga para pembeli tetap waspada.

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Jumat, 19 Juni

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Jumat, 19 Juni

Dolar AS mendapat manfaat dari sentimen pasar yang menghindari risiko pada awal hari Jumat dan memperkuat kenaikannya selama minggu ini terhadap mata uang utama lainnya. Pada paruh kedua hari ini, Penjualan Ritel bulan April dari Kanada akan menjadi satu-satunya data yang ditampilkan dalam kalender ekonomi.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA