• IHSG naik 1,01% atau 66 poin ke 6.686, setelah bergerak di rentang 6.636–6.696.
  • Bahan baku (IDXBASIC) memimpin kenaikan 2,00%, dengan AMMN melonjak 5,9%; BUMI, BBRI, dan BBCA juga menguat.
  • Mayoritas bursa Asia melemah saat Brent mendekati US$100, sementara pasar menunggu data inflasi AS serta IKK dan Penjualan Ritel Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,01% atau 66 poin ke 6.686 pada perdagangan Selasa, menghapus seluruh pelemahan Senin dan kembali mendekati level tertinggi Jumat di 6.704. Indeks dibuka di 6.639 dan sempat mencapai tertinggi harian 6.696. Penguatan ditopang sektor bahan baku, barang konsumen primer, industri, dan energi, ketika sejumlah saham berkapitalisasi besar bergerak positif.

Kenaikan IHSG berlangsung berlawanan dengan mayoritas bursa Asia yang melemah, sementara investor tetap mencermati harga minyak yang mendekati US$100 per barel dan risiko kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjelang data inflasi Amerika Serikat (AS). Dari dalam negeri, perhatian selanjutnya beralih ke Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus pada Rabu dan Penjualan Ritel Juli pada Kamis.

Bahan Baku Memimpin, AMMN Melonjak 5,9%

Sektor bahan baku (IDXBASIC) menjadi penggerak utama dengan kenaikan 2,00%, diikuti barang konsumen primer (IDXNONCYC) 1,39%, industri (IDXINDUST) 1,22%, dan energi (IDXENERGY) 1,17%. Keuangan (IDXFINANCE) turut menguat 0,79%, sementara PRIMBANK10 naik 0,77%.

Di antara saham yang aktif diperdagangkan, AMMN melonjak 5,9% ke Rp4.670, setelah sempat mencapai Rp4.700. BUMI naik 2,7% ke Rp226, sementara BBRI menguat 1,2% ke Rp3.410 dan BBCA naik 0,8% ke Rp6.675.

Di sisi lain, tiga sektor berakhir di zona merah. Kesehatan (IDXHEALTH) turun 0,59%, teknologi (IDXTECHNO) melemah 0,34%, dan barang konsumen siklikal (IDXCYCLIC) terkoreksi 0,13%.

IHSG Melawan Pelemahan Mayoritas Bursa Asia

Mayoritas pasar saham regional bergerak lebih rendah. Nikkei 225 turun 1,70%, ASX melemah 1,00%, KOSPI terkoreksi 0,58%, STI turun 0,47%, dan Hang Seng melemah 0,38%, sedangkan Shanghai Composite naik 0,20%. Pasar saham AS sebelumnya tutup pada Senin karena libur Hari Buruh.

Brent yang mendekati US$100 per barel turut menjaga kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan prospek suku bunga AS. Danske Bank mencatat saham teknologi, terutama semikonduktor dan perangkat keras terkait AI, sebelumnya menopang pasar Asia dan Eropa. Namun, bank tersebut menilai kenaikan imbal hasil obligasi membatasi penguatan sektor lain, dengan sektor sensitif suku bunga tertinggal.

Risiko The Fed Tetap Membayangi, Fokus ke Inflasi AS dan Konsumsi Indonesia

Pasar masih memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter AS. CME FedWatch Tool menunjukkan peluang sekitar 60% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September, membuat perhatian investor tertuju pada Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI) dan Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) AS pekan ini sebagai petunjuk terbaru arah inflasi dan kebijakan suku bunga The Fed.

HSBC tetap melihat prospek positif untuk saham global menjelang kuartal IV, terutama di AS dan Asia. Willem Sels menilai “pertumbuhan pendapatan akan terus meluas melampaui sektor teknologi dan saham-saham AS,” sementara Asia dipandang sebagai penerima manfaat utama permintaan chip dan ekspansi pusat data. HSBC juga melihat peluang pada sektor keuangan, material, dan energi, sejalan dengan penguatan sektor bahan baku dan energi di IHSG pada Selasa.

Di dalam negeri, investor selanjutnya menanti IKK Agustus pada Rabu dan Penjualan Ritel Juli pada Kamis untuk mendapatkan gambaran terbaru mengenai kekuatan konsumsi rumah tangga Indonesia.

Indikator Ekonomi

Keyakinan Konsumen

Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia mencerminkan perubahan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi dibandingkan dengan satu bulan sebelumnya. Laporan tersebut mencakup Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) untuk menggambarkan gambaran akurat terkait sentimen konsumen di negara ini.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Sep 10, 2026 03.00

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: -

Sebelumnya: 116.8

Sumber:

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Turun di Bawah US$4.400 saat ketegangan Timur Tengah Meningkat

Emas Turun di Bawah US$4.400 saat ketegangan Timur Tengah Meningkat

Emas (XAU/USD) membukukan kenaikan tipis selama tiga hari berturut-turut pada hari Selasa di tengah sentimen risk-off saat ketegangan di Timur Tengah meningkat dan harga Minyak reli, memperkuat alasan untuk suku bunga yang lebih tinggi di ekonomi-ekonomi utama dunia.
USD/IDR: Rupiah Menguat ke Rp17.625, Minyak Dekati US$100 Batasi Kenaikan

USD/IDR: Rupiah Menguat ke Rp17.625, Minyak Dekati US$100 Batasi Kenaikan

Rupiah Indonesia (IDR) menguat terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Selasa, dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.625, turun 15 poin dari Rp17.640 pada perdagangan sebelumnya. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) juga turun ke Rp17.618 dari Rp17.653.
Harga Minyak Melonjak Menuju US$100, saat Yen Menguat, tetapi Jepang Perlu Melangkah dengan Hati-hati

Harga Minyak Melonjak Menuju US$100, saat Yen Menguat, tetapi Jepang Perlu Melangkah dengan Hati-hati

Ada dua pergerakan besar yang mendorong pasar pagi ini, yang pertama adalah lonjakan harga minyak. Minyak mentah Brent melampaui level tertinggi 6 minggu dan naik 2% pada hari Selasa, serta diperdagangkan di atas US$99, level tertingginya sejak Juli. Harga WTI lebih tinggi lebih dari 2% dan berada di atas US$94.
Prospek Ripple dan Stellar: Pertahankan bias bullish di atas EMA saat derivatif mendukung kenaikan

Prospek Ripple dan Stellar: Pertahankan bias bullish di atas EMA saat derivatif mendukung kenaikan

Ripple (XRP) dan Stellar (XLM) bertahan di atas zona support utama pada hari Selasa, mengisyaratkan pergerakan ke sisi atas. Metrik derivatif semakin mendukung pemulihan, dengan kedua altcoin menunjukkan tingkat pendanaan positif dan meningkatnya posisi beli. Data derivatif menunjukkan kemiringan bullish di antara para pedagang XRP dan XLM.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Selasa, 8 September:

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Selasa, 8 September:

Yen Jepang menguat terhadap mata uang-mata uang utamanya pada hari Senin dan melanjutkan reli selama sesi perdagangan Asia pada hari Selasa, mencapai level tertinggi terhadap Dolar AS sejak pertengahan Februari. Kalender ekonomi tidak akan menampilkan rilis data makroekonomi berdampak tinggi.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA