• IHSG naik 1,12% ke 5.387 pada Kamis, melanjutka pemulihan menjadi tiga hari berturut-turut setelah tekanan tajam pekan lalu.
  • Saham BUMN, perbankan, dan energi memimpin penguatan, sedangkan sektor teknologi masih tertinggal.
  • BEI memastikan saham berkategori HSC dikeluarkan dari perhitungan IHSG mulai 2 November, sementara risiko penurunan klasifikasi pasar oleh MSCI belum mereda.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjaga tren pemulihannya ke hari ketiga berturut-turut pada perdagangan Kamis (22/10), melesat 1,12% atau 59 poin ke posisi 5.387. Barisan saham BUMN dan raksasa perbankan tampil sebagai motor penggerak utama di saat mayoritas bursa kawasan Asia justru terhempas aksi lepas portofolio pada saham teknologi serta lonjakan harga minyak. Dari dalam negeri, fokus investor tertuju pada kepastian arah reformasi Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk membendung ancaman penurunan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI.

Perjalanan IHSG menuju zona hijau tidak berlangsung mulus. Indeks dibuka lebih rendah di 5.247 dan sempat merosot ke 5.185 sebelum berbalik naik hingga menyentuh 5.422. Meski akhirnya memangkas sebagian kenaikan, posisi penutupan di 5.387 melanjutkan pemulihan yang dimulai Selasa (20/10), ketika indeks melonjak 5,66% ke 5.278, disusul penguatan 0,94% ke 5.328 pada Rabu.

Saham BUMN dan Perbankan Memimpin Pemulihan

Indeks IDX BUMN20 mencatatkan kenaikan terbesar sebesar 3,41%, diikuti IDXMESBUMN sebesar 2,69% dan SMinfra18 sebesar 2,68%. Penguatan juga menjalar ke kelompok perbankan, dengan INFOBANK15 naik 2,17% dan PRIMBANK10 bertambah 1,69%. Sektor energi menguat 1,88%, sementara sektor keuangan secara keseluruhan meningkat 1,25%. Di sisi lain, teknologi menjadi satu-satunya sektor utama yang melemah, turun 0,66%.

Pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar menunjukkan pemulihan yang belum merata. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik sekitar 3,20% ke Rp2.900 dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) bertambah sekitar 4,05% menjadi Rp3.850. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) turut menguat sekitar 3,77% ke Rp2.200. Sebaliknya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terkoreksi sekitar 1,90% ke Rp5.175, sedangkan PT Astra International Tbk (ASII) turun sekitar 2,41% menjadi Rp4.450.

Pergerakan IHSG kontras dengan zona merah yang menyelimuti bursa kawasan Asia. Indeks KOSPI Korea Selatan anjlok 3,52%, Hang Seng Hong Kong kehilangan 3,03%, dan Nikkei 225 Jepang merosot 2,65%. Shanghai Composite Tiongkok turun 1,48%, sedangkan ASX 200 Australia dan Straits Times Singapura masing-masing melemah 0,43% dan 0,42%. Tekanan di pasar Asia mencerminkan kekhawatiran yang belum mereda terhadap besarnya kebutuhan pendanaan investasi kecerdasan buatan (AI), meskipun laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi AS melampaui ekspektasi. Selain itu, melambungnya minyak Brent berjangka ke atas US$112 per barel akibat ancaman gangguan pasokan kawasan Teluk turut menahan optimisme pasar Asia, berbeda dari bursa Wall Street pada Rabu yang ditutup menghijau, ketika Nasdaq Composite naik 1,05%, Dow Jones menguat 0,68%, dan S&P 500 bertambah 0,57%.

BEI Pastikan Perubahan IHSG Berlaku November, Risiko MSCI Belum Selesai

Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi menetapkan 2 November 2026 sebagai tanggal efektif pengeluaran saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari kalkulasi IHSG. Kebijakan yang tertuang dalam Pengumuman BEI No. Peng-00201/BEI.POP/10-2026 ini menyasar deretan saham dengan konsentrasi kepemilikan yang tinggi. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, sebelumnya mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 80 saham HSC yang menyumbang sekitar 18% bobot IHSG dalam penghitungan IHSG. Meski tidak lagi memengaruhi arah pergerakan indeks selama menyandang status HSC, saham-saham tersebut dipastikan tetap dapat diperdagangkan secara normal di bursa.

Langkah pembenahan tersebut melengkapi kebijakan stabilisasi pasar yang mulai diterapkan Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Senin (19/10), melalui penyempitan batas Auto Rejection Bawah (ARB) dari 15% menjadi 7%. Sehari kemudian, BEI menetapkan batas ARB sebesar Rp1 untuk saham dengan harga Rp11–Rp14, tanpa mengubah ketentuan Auto Rejection Atas (ARA). Kebijakan yang berlaku hingga 31 Desember 2026 ini bertujuan meredam volatilitas sekaligus menjaga perdagangan bursa tetap teratur.

OJK juga memperkuat penegakan hukum dengan menyerahkan surat sanksi pada Rabu (21/10) kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pelanggaran transaksi saham DSSA, BREN, dan CUAN. Langkah ini menyusul pengumuman denda administratif senilai total Rp2,1 triliun pada 16 Oktober. Meski demikian, berbagai upaya pembenahan tersebut belum sepenuhnya meredakan ketidakpastian mengenai status pasar modal Indonesia. MSCI masih membuka konsultasi terkait potensi perubahan klasifikasi dari Emerging Market menjadi Standalone Market hingga 30 April 2027, sebelum menetapkan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027.

IHSG Uji Resistance 5.400, Momentum Pemulihan Masih Terbatas

Grafik Harian IHSG
Grafik Harian IHSG

Secara teknis, IHSG melanjutkan tren pemulihan selama tiga hari beruntun usai menguat 1,12% ke posisi 5.387 pada perdagangan Kamis. Indeks sempat melampaui resistance 5.400 hingga menyentuh puncak harian di 5.422, meskipun aksi profit taking menjelang penutupan memaksa indeks berakhir sedikit di bawah level psikologis tersebut. Sinyal Meredanya tekanan jual terkonfirmasi oleh indikator Relative Strength Index (RSI) yang merangkak naik ke 33,37 dan keluar dari area oversold. Namun, posisi RSI yang masih berada di bawah 50 serta harga IHSG yang masih cukup jauh dari garis tengah Bollinger Band di 5.852 mengindikasikan bahwa laju rebound ini belum cukup kuat untuk mengubah tren bearish.

Kemampuan IHSG untuk menembus dan mengamankan posisi di atas 5.400 menjadi penentu kelanjutan rebound, dengan resistance berikutnya di sekitar 5.852. Sebaliknya, kegagalan melewati area tersebut berisiko memicu aksi jual kembali menuju support 5.185 (terendah 22 Oktober), disusul batas bawah Bollinger Band di 5.104. Jika tekanan jual semakin besar, area 4.900 menjadi support penting berikutnya.

Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia

Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.

Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.

Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.

Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.




Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Tergelincir di Bawah US$4.100 saat Guncangan Energi Timur Tengah Perkuat Prospek Hawkish Fed

Emas Tergelincir di Bawah US$4.100 saat Guncangan Energi Timur Tengah Perkuat Prospek Hawkish Fed

Emas (XAU/USD) tergelincir ke bawah US$4.100 pada hari Kamis, meskipun Dolar AS (USD) melemah dan imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah AS mengalami penurunan. Logam mulia ini kesulitan menarik minat pembeli karena kekhawatiran akan inflasi yang dipicu oleh harga energi—akibat ketegangan di Timur Tengah—memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
USD/IDR: Rupiah Turun ke Rp18.045 akibat Lonjakan Minyak meski Dolar AS Lesu

USD/IDR: Rupiah Turun ke Rp18.045 akibat Lonjakan Minyak meski Dolar AS Lesu

Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah Indonesia (IDR) berlanjut pada perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026, di mana kurs ditutup melemah 0,25% atau 45 poin ke level Rp18.045 per USD dari posisi Rp18.000 pada hari Rabu.
Pratinjau The Fed: Ditahan pada Oktober, Kenaikan Dilanjutkan Nanti

Pratinjau The Fed: Ditahan pada Oktober, Kenaikan Dilanjutkan Nanti

The Fed memulai siklus pengetatan moneternya dengan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September. Namun, kami memprakirakan suku bunga akan tetap dipertahankan pada pertemuan pekan depan, sebelum kenaikan kembali dilanjutkan pada Desember.
Dogecoin Tetap Lemah Meski Ada Paus dan Kesepakatan Baru

Dogecoin Tetap Lemah Meski Ada Paus dan Kesepakatan Baru

Harga Dogecoin masih berada di bawah tekanan, diperdagangkan di bawah $0,081 meskipun sempat rebound moderat awal pekan ini. Data Santiment menunjukkan tanda-tanda akumulasi, dan pengumuman pada hari Rabu mengenai kemitraan Dogecoin Labs dengan Dogecoin Foundation menambah sentimen yang sedikit bullish. Sementara itu, metrik derivatif yang beragam dan indikator momentum yang melemah terus membatasi pemulihan koin meme tersebut.

Berikut yang perlu Anda ketahui pada Kamis, 22 Oktober:

Berikut yang perlu Anda ketahui pada Kamis, 22 Oktober:

Dolar AS berusaha keras untuk mendapatkan permintaan pada hari Kamis, dengan Indeks USD turun ke level terendah dalam tiga minggu di dekat 101,50. Kalender ekonomi AS akan menampilkan Klaim Tunjangan Pengangguran Awal mingguan dari Amerika Serikat dan data awal Keyakinan Konsumen Oktober dari Zona Euro.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA