- IHSG turun 0,62% ke 8.657 setelah menyentuh rekor di 8.749, tekanan muncul di paruh kedua sesi.
- Sektor teknologi & infrastruktur menguat, sementara saham batu bara tertekan seiring isu pajak ekspor dan pelemahan permintaan Tiongkok.
- Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menjaga selera risiko, pasar menanti rilis data JOLTS malam ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus bergerak lebih tinggi dan berusaha mendekati level 8.800. Di hari Selasa indeks menutup perdagangan dengan koreksi 0,62% ke level 8.657, setelah sempat dibuka menguat di 8.743 dan menyentuh tertinggi dalam perdagangan harian yang sekaligus menjadi ATH di 8.749. Tekanan jual menguat di paruh kedua sesi, menyeret indeks ke level terendah 8.626, mencerminkan sikap hati-hati investor di tengah dinamika global yang masih sarat ketidakpastian.
Di tengah pelemahan indeks utama, sektor teknologi justru tampil solid dengan IDXTECHNO melonjak 1,53% ke 10.716, disusul sektor infrastruktur yang naik 1,38% ke 2.610. Sementara itu, tekanan terasa pada kelompok saham unggulan, dengan IDXQ30 dan IDXV30 masing-masing terkoreksi 1,41% dan 1,35%, menandakan aksi distribusi masih mendominasi saham-saham berkapitalisasi besar.
Di papan penguatan, saham BOLA melesat 28%, FIRE melonjak 27,8%, dan YPAS menguat 25%, mencerminkan arus spekulatif yang masih aktif di lapis kedua dan ketiga. Sebaliknya, tekanan tajam menimpa ASPI (-14,6%), POLU (-11,3%), dan ANDI (-9,1%), seiring aksi ambil untung agresif pada saham-saham yang sebelumnya mencatat lonjakan cepat.
Di balik dinamika spekulatif tersebut, arah pasar secara keseluruhan tetap dipandu oleh perkembangan sentimen makro yang lebih luas, khususnya di sektor energi dan kebijakan global, yang mulai membentuk ulang peta risiko di lantai bursa.
IHSG Diapit Kebijakan Energi dan Harapan Pelonggaran Global, Saham Batu Bara Tertekan
Sentimen pasar saham domestik hari ini bergerak dalam tarikan dua arus utama: kebijakan fiskal baru pemerintah di sektor energi dan ekspektasi pelonggaran suku bunga global. Pemerintah menyiapkan dua langkah besar mulai 2026 untuk memperkuat pasokan dolar dan penerimaan negara, yakni pengetatan devisa hasil ekspor (DHE) serta pajak ekspor batu bara sebesar 1%-5%. Eksportir SDA diwajibkan menahan 100% devisa di bank BUMN selama minimal satu tahun dengan batas konversi maksimal 50%, sementara pajak batu bara diproyeksikan menambah Rp20 triliun penerimaan negara. Kebijakan ini hadir di tengah pelemahan permintaan Tiongkok yang masih menekan ekspor batu bara nasional.
Di sektor energi, tekanan tampak jelas pada pergerakan saham batu bara di pertengahan sesi kedua. Saham Adaro Energy Indonesia (ADRO) terkoreksi cukup dalam, turun 2,9% ke level 1.900, setelah sempat menyentuh terendah 1.840, dengan nilai transaksi sekitar Rp163,8 miliar. Tekanan ini mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar dalam menakar dampak langsung rencana pajak ekspor di tengah pelemahan permintaan global – khususnya dari Tiongkok. Sementara itu, saham Bukit Asam (PTBA) melemah lebih terbatas, turun 0,9% ke level 2.300, dengan pergerakan relatif sempit di kisaran 2.280-2.300, menandakan tekanan jual masih terjaga namun belum agresif.
Di sisi lain, dari faktor domestik, sentimen pasar mendapat tambahan sokongan dari penguatan Indeks Keyakinan Konsumen. Berdasarkan rilis Bank Indonesia, keyakinan konsumen naik ke level 124,0 pada November, mempertegas ketahanan konsumsi domestik yang berpotensi menjadi penahan koreksi lebih dalam bagi IHSG di tengah tekanan global.
Nikkei Stabil usai Peringatan Tsunami Diredam, Pasar Global Membangun Ekspektasi Dovish Jelang Data JOLTS
Dari kawasan Asia, pasar saham Jepang bergerak stabil meski peringatan tsunami sempat dikeluarkan akibat gempa sebelum kemudian diturunkan menjadi peringatan dini. Nikkei 225 justru bertahan di zona hijau di 50.655 (+0,14%), menandakan investor menilai risiko bencana tidak berdampak sistemik terhadap pasar regional. Stabilitas ini sekaligus menjadi jembatan psikologis bagi pelaku pasar untuk kembali mengalihkan perhatian ke arah ekonomi global, khususnya Amerika Serikat, dan implikasinya terhadap kebijakan moneter ke depan.
Sentimen global sendiri kembali cenderung ke arah pelonggaran setelah sejumlah sinyal perlambatan ekonomi AS menguat. Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menilai laju pertumbuhan mulai kehilangan momentum, sementara pasar tenaga kerja bergerak menuju fase pendinginan. Kondisi ini memperkuat persepsi bahwa ruang penyesuaian suku bunga semakin terbuka.
Sejalan dengan itu, pasar suku bunga kini menempatkan probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed pada 10 Desember di kisaran 87,2%, dengan target berpotensi turun ke 3,50%-3,75%. Perubahan ekspektasi ini mendorong pergeseran sentimen ke aset berisiko, memberi tambahan dorongan psikologis bagi IHSG di tengah investor yang mulai kembali mengintip peluang penguatan.
Untuk sesi malam ini, perhatian pelaku pasar global akan tertuju pada rilis data Lowongan Pekerjaan JOLTS AS pada pukul 22:00 WIB, dengan estimasi 7,2 juta lowongan pekerjaan pada Oktober. Data ini menjadi barometer penting ketahanan permintaan tenaga kerja AS dan berpotensi menjadi pemicu arah jangka pendek pasar menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
IHSG Bertahan di Atas SMA 100, Tren Menengah tetap Konstruktif

Secara teknis, IHSG masih bergerak di dalam ascending channel yang terjaga sejak pertengahan tahun, dengan posisi terakhir di 8.657 yang berada di atas Simple Moving Average (SMA) 100 hari di sekitar 8.318. Ini menandakan bahwa tren menengah tetap konstruktif, dan koreksi yang terjadi sejauh ini masih berada dalam koridor sehat.
Dari sisi struktur, batas bawah saluran (lower bound) yang kini berada di area 8.600-8.580 menjadi support dinamis terdekat. Selama area ini bertahan, IHSG masih terjaga dalam fase uptrend bertahap. Penurunan di bawah zona tersebut baru akan membuka ruang koreksi lanjutan menuju SMA 100 di area 8.320-8.300 sebagai support penentu tren menengah.
Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) melayang di kisaran 60-64, mencerminkan kondisi bullish moderat dengan sinyal jenuh beli ringan. Kondisi ini mengindikasikan pasar sedang berada dalam fase menakar ulang tenaga sebelum menentukan kelanjutan arah.
Indikator Ekonomi
Lowongan Pekerjaan JOLTS
Lowongan Pekerjaan JOLTS adalah survei yang dilakukan oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS untuk membantu mengukur lowongan pekerjaan. Mengumpulkan data dari sejumlah pengusaha termasuk pengecer, produsen dan kantor-kantor yang berbeda setiap bulan.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Sel Des 09, 2025 15.00
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 7.2Jt
Sebelumnya: 7.227Jt
Sumber: US Bureau of Labor Statistics
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Naik untuk Lima Hari di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Pullback USD yang Moderat
Emas (XAU/USD) mendapatkan penawaran beli baru setelah fluktuasi harga dua arah pada hari sebelumnya dan diperdagangkan dengan kenaikan moderat di atas level $5.350, selama perdagangan sesi Asia pada hari Selasa.
Rupiah Melemah ke 16.881, Dolar Menguat di Tengah Geopolitik dan Data Domestik
Rupiah melemah pada perdagangan Selasa siang, tertekan penguatan dolar AS di tengah ketegangan geopolitik global dan respons pasar terhadap data domestik yang dirilis sehari sebelumnya.
Prakiraan Harga EUR/USD: Prospek Seharusnya Beralih ke Bearish saat di Bawah 1,1660
Prospek jangka pendek EUR/USD terus memburuk sejak penolakan dari puncak tahunan di dekat hambatan 1,2100 yang tercatat pada akhir Januari. Kelanjutan penurunan yang sedang berlangsung mengancam untuk menembus di bawah SMA 200-hari kritis di wilayah 1,1660.
Stellar berisiko mengalami kerugian yang lebih dalam saat metrik derivatif berbalik negatif
Stellar diperdagangkan dalam zona merah di bawah $0,16 pada saat berita ini ditulis pada hari Selasa, setelah pemulihan kecil pada hari sebelumnya. Data derivatif yang melemah membatasi pemulihan, sementara prospek teknis yang tidak menguntungkan memproyeksikan koreksi yang lebih dalam untuk token XLM dalam beberapa hari ke depan.
Berikut adalah yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 2 Maret:
Aliran safe-haven mendominasi aksi di pasar keuangan untuk memulai minggu setelah Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan terkoordinasi terhadap Iran selama akhir pekan. Kalender ekonomi AS akan menampilkan data Indeks Manajer Pembelian Manufaktur dari Institute for Supply Management untuk bulan Februari pada hari ini, tetapi para investor akan tetap fokus pada berita yang datang dari Timur Tengah.