• IHSG naik 1,10% ke 6.108, menembus level 6.100 dan ditutup di posisi tertinggi harian.
  • IDXTECHNO memimpin kenaikan sektoral; MLPT melonjak 20% setelah BEI menyetujui stock split 1:25.
  • Realisasi investasi Indonesia tumbuh 7,2% menjadi Rp1.010,6 triliun pada semester I 2026.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis dan menembus level 6.100, meski mayoritas bursa Asia bergerak melemah. IHSG ditutup naik 66 poin atau 1,10% ke 6.108, sekaligus berada di level tertinggi hariannya.

Indeks dibuka di 6.056 dan sempat turun ke 6.024 sebelum berbalik menguat hingga akhir sesi.

IDXTECHNO memimpin kenaikan indeks sektoral dengan menguat 1,95% ke 6.690. Pergerakan tersebut antara lain tercermin pada MLPT yang melonjak 20% ke Rp24.775 setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) menyetujui pelaksanaan stock split dengan rasio 1:25. WIFI turut naik 10,3% ke Rp2.040.

SRI-KEHATI menguat 1,93% ke 300, sementara IDXLQ45LCL bertambah 1,82% ke 88.

Realisasi Investasi Tembus Rp1.010,6 Triliun

Pada hari yang sama, pemerintah melaporkan realisasi investasi Indonesia mencapai Rp1.010,6 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut tumbuh 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan setara 49,5% dari target investasi 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.

Penanaman Modal Asing tercatat sebesar Rp507,6 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan Penanaman Modal Dalam Negeri yang mencapai Rp502,9 triliun. Realisasi investasi tersebut menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja, meningkat 15% secara tahunan.

IHSG Berlawanan Arah dengan Mayoritas Bursa Asia

Penguatan IHSG berlangsung ketika mayoritas bursa Asia berada dalam tekanan. Nikkei 225 turun 2,79%, KOSPI anjlok 6,37%, dan indeks Shanghai melemah 1,85%. Hang Seng menjadi pengecualian dengan kenaikan 1,33%.

Sebelumnya, Wall Street menguat setelah data inflasi konsumen dan produsen AS yang lebih rendah dari prakiraan memperkuat sinyal meredanya tekanan harga. Laporan laba bank yang solid dua hari berturut-turut juga memperkuat momentum positif pada awal musim laporan keuangan kuartal II.

Nasdaq naik 0,62% ke 26.269, diikuti S&P 500 yang menguat 0,38% ke 7.572 dan Dow Jones yang bertambah 0,29% ke 52.658.

Ketegangan AS-Iran Masih Membayangi

Pasar juga masih mencermati eskalasi ketegangan AS-Iran dan perkembangan di Selat Hormuz. Washington memperluas serangan terhadap sasaran militer Iran dan kembali memberlakukan blokade laut, sementara Teheran melancarkan serangan balasan serta menegaskan tetap menguasai Hormuz.

Meski risiko gangguan pelayaran belum mereda, harga minyak bergerak lebih rendah. WTI turun 0,48% ke USD79,22 per barel, sedangkan Brent melemah 0,82% ke USD84,25 per barel.

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada Penjualan Ritel AS yang akan dirilis Kamis malam. Penjualan diprakirakan tumbuh 0,2% secara bulanan pada Juni, melambat dari kenaikan 0,9% sebelumnya, sedangkan penjualan di luar otomotif diproyeksikan turun 0,1%.

Klaim tunjangan pengangguran awal diprakirakan meningkat tipis menjadi 217 ribu. Pada saat yang sama, Indeks Manufaktur The Fed Philadelphia diproyeksikan naik menjadi 13 dari 10,3.

Indikator Ekonomi

Penjualan Ritel (Bln/Bln)

Data Penjualan Ritel, yang dirilis oleh Biro Sensus AS setiap bulan, mengukur nilai total penerimaan toko ritel dan makanan di Amerika Serikat. Perubahan persentase bulanan mencerminkan tingkat perubahan dalam penjualan tersebut. Metode pengambilan sampel acak terstratifikasi digunakan untuk memilih sekitar 4.800 perusahaan ritel dan jasa makanan yang penjualannya kemudian ditimbang dan dijadikan tolok ukur untuk mewakili keseluruhan lebih dari tiga juta perusahaan ritel dan jasa makanan di seluruh negeri. Data disesuaikan dengan variasi musiman serta perbedaan hari libur dan hari perdagangan, tetapi tidak untuk perubahan harga. Data Penjualan Ritel diikuti secara luas sebagai indikator belanja konsumen, yang merupakan pendorong utama ekonomi AS. Secara umum, pembacaan yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dipandang sebagai bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Jul 16, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 0.2%

Sebelumnya: 0.9%

Sumber: US Census Bureau

Data Penjualan Ritel yang diterbitkan oleh Biro Sensus AS merupakan indikator utama yang memberikan informasi penting tentang belanja konsumen, yang berdampak signifikan terhadap PDB. Meskipun angka penjualan yang kuat cenderung mendongkrak USD, faktor eksternal, seperti kondisi cuaca, dapat mendistorsi data dan memberikan gambaran yang menyesatkan. Selain data utama, perubahan dalam Grup Kontrol Penjualan Ritel dapat memicu reaksi pasar karena digunakan untuk menyiapkan perkiraan Pengeluaran Konsumsi Pribadi untuk sebagian besar barang.

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Melemah, Inflasi akibat Kenaikan Harga Energi Jaga Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed

Emas Melemah, Inflasi akibat Kenaikan Harga Energi Jaga Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed

Emas (XAU/USD) bergerak lebih rendah pada hari Kamis saat para pedagang mengabaikan dua laporan inflasi AS yang lebih lemah dari prakiraan berturut-turut dan tetap fokus pada ketegangan Timur Tengah yang kembali meningkat, yang memicu kekhawatiran bahwa harga energi yang lebih tinggi dapat kembali memantik tekanan inflasi.
USD/IDR: Rupiah Menguat hingga di Bawah Rp18.000 per Dolar AS, Pasar Tunggu Penjualan Ritel AS

USD/IDR: Rupiah Menguat hingga di Bawah Rp18.000 per Dolar AS, Pasar Tunggu Penjualan Ritel AS

Rupiah melanjutkan penguatan untuk sesi ketiga berturut-turut dan menembus level psikologis Rp18.000 per Dolar AS pada perdagangan Kamis, di tengah berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah data inflasi AS lebih lemah dari prakiraan. Meski demikian, ketegangan AS-Iran dan harga minyak yang masih tinggi tetap menjadi risiko bagi mata uang Indonesia.
2,25% dan Ditahan: Mengapa BoC, Bukan Minyak yang Menggerakkan Loonie?

2,25% dan Ditahan: Mengapa BoC, Bukan Minyak yang Menggerakkan Loonie?

Bank of Canada (BoC) mempertahankan suku bunga kebijakannya di 2,25% pada hari Rabu dan menerbitkan Laporan Kebijakan Moneter (Monetary Policy Report/MPR) yang seluruh jalur disinflasinya bertumpu pada satu asumsi: Brent turun ke $75 dan bertahan di sana.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 16 Juli

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 16 Juli

Pasangan mata uang utama tetap relatif tenang pada sesi Eropa hari Kamis karena Dolar AS menemukan pijakannya setelah aksi jual selama dua hari. Pada paruh kedua hari ini, data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal mingguan dan Penjualan Ritel Juni akan ditampilkan dalam kalender ekonomi AS.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA