- Rupiah Indonesia menguat untuk sesi ketiga berturut-turut ke 17.978 menjelang Penjualan Ritel AS.
- Arus asing Rp105 triliun ke SBN dan SRBI memberi dukungan domestik, meski dana asing masih keluar dari pasar saham.
- IHK dan PPI AS yang lebih lemah menekan Dolar, sementara konflik AS-Iran dan harga minyak tetap membatasi ruang penguatan Rupiah.
Rupiah melanjutkan penguatan untuk sesi ketiga berturut-turut dan menembus level psikologis Rp18.000 per Dolar AS pada perdagangan Kamis, di tengah berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah data inflasi AS lebih lemah dari prakiraan. Meski demikian, ketegangan AS-Iran dan harga minyak yang masih tinggi tetap menjadi risiko bagi mata uang Indonesia.
Pasangan mata uang USD/IDR diperdagangkan di sekitar 17.985 saat penutupan transaksi antarbank domestik, turun 80 poin atau 0,44% dari penutupan Rabu di 18.065. Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) kembali melemah ke sekitar 100,50, melanjutkan penurunan tajam dua sesi sebelumnya.
Arus Asing Masuk ke SBN dan SRBI
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan arus modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai Rp105 triliun sepanjang Juni hingga awal Juli. Inflow tersebut terdiri dari Rp33 triliun ke SBN dan Rp72 triliun ke SRBI.
Destry mengaitkan masuknya dana asing tersebut dengan penyesuaian imbal hasil SBN dan SRBI setelah kenaikan BI-Rate. Meski demikian, arus keluar asing masih berlanjut di pasar saham.
Lloyd Chan dari MUFG menilai imbal hasil obligasi pemerintah dan SRBI membantu menarik dana asing ke pasar obligasi, tetapi keluarnya modal dari pasar saham tetap menjadi beban bagi Rupiah. Ketegangan Timur Tengah dan tingginya imbal hasil AS juga membuat MUFG tetap berhati-hati terhadap mata uang Indonesia.
MUFG memprakirakan USD/IDR berada di 18.100 pada akhir kuartal III 2026 dan naik menjadi 18.350 pada akhir kuartal IV, yang mengindikasikan potensi pelemahan Rupiah menjelang akhir tahun.
Inflasi AS Tekan Dolar
Pergerakan Rupiah juga berlangsung ketika Dolar AS tertekan oleh Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI) AS turun 0,3% secara bulanan pada Juni, berbalik dari kenaikan 0,6% sebelumnya dan lebih lemah dari konsensus yang memprakirakan tidak ada perubahan. Secara tahunan, PPI melambat menjadi 5,5% dari 6,0% dan berada di bawah estimasi 6,2%.
PPI inti naik 0,2% secara bulanan, di bawah prakiraan 0,4%. Secara tahunan, angkanya meningkat menjadi 4,7% dari 4,6%, tetapi tetap lebih rendah dari konsensus 5,2%.
Data tersebut menyusul Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) AS yang juga lebih lemah dari prakiraan pada Selasa. Dua laporan inflasi yang berturut-turut berada di bawah ekspektasi mendorong pasar mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat dan menekan Dolar AS.
Ketegangan AS-Iran Tetap Menjadi Risiko, Pasar Tunggu Ritel AS
Namun, ruang penguatan Rupiah masih dibayangi perkembangan geopolitik. Mengutip IRNA, juru bicara militer Iran mengatakan AS terus menyerang sejumlah wilayah dan memperingatkan bahwa konflik dapat meluas ke medan baru, meski Teheran disebut tidak berkonfrontasi dengan negara-negara tetangganya. Sementara itu, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz tetap sangat terbatas pada Rabu.
Meski ketegangan meningkat, harga minyak terkoreksi tipis. WTI diperdagangkan di sekitar USD79,53 per barel, sedangkan Brent berada di USD84,52.
Di luar perkembangan tersebut, perhatian pasar selanjutnya tertuju pada Penjualan Ritel AS pada Kamis malam, yang diprakirakan naik 0,2% secara bulanan pada Juni setelah meningkat 0,9% sebelumnya. Penjualan ritel di luar otomotif diprakirakan turun 0,1%, sementara klaim tunjangan pengangguran awal diproyeksikan naik tipis menjadi 217 ribu. Indeks Manufaktur The Fed Philadelphia diprakirakan meningkat menjadi 13 dari 10,3.

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Penjual Emas Tetap Dominan saat Ketegangan Iran Picu Inflasi dan Taruhan Kenaikan The Fed
USD/IDR: Rupiah Menguat hingga di Bawah Rp18.000 per Dolar AS, Pasar Tunggu Penjualan Ritel AS
Emas akan Mempertahankan Kendali selama di Bawah SMA 21 Hari
Prospek Ripple dan Stellar: XRP dan XLM Pulih Saat Momentum Bearish Melemah
Ripple dan Stellar diperdagangkan lebih tinggi saat kedua altcoin melanjutkan pemulihan mereka setelah mempertahankan level-level support utama awal pekan ini. XRP naik lebih dari 2% sejauh pekan ini, sementara XLM telah rebound setelah menemukan support di sekitar $0,177. Metrik derivatif yang membaik dan indikator momentum bearish yang memudar menunjukkan pemulihan dapat berlanjut dalam waktu dekat
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 16 Juli
Pasangan mata uang utama tetap relatif tenang pada sesi Eropa hari Kamis karena Dolar AS menemukan pijakannya setelah aksi jual selama dua hari. Pada paruh kedua hari ini, data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal mingguan dan Penjualan Ritel Juni akan ditampilkan dalam kalender ekonomi AS.