- IHSG merosot 1,34% ke 5.863 pada Kamis, menghapus penguatan sehari sebelumnya setelah tekanan jual menyeret indeks hingga menyentuh 5.804.
- Seluruh dari 11 sektor saham melemah, dipimpin konsumer non-primer dan energi. BYAN, BBCA, BUMI, dan ANTM ikut tertekan, sementara BMRI bertahan di zona hijau.
- Kejatuhan bursa Asia memperburuk tekanan terhadap IHSG, setelah inflasi AS yang lebih tinggi dari prakiraan dan kekhawatiran terhadap investasi AI mengguncang pasar saham global.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok pada perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026, dengan merosot 1,34% ke 5.863, menghapus penguatan sehari sebelumnya. Tekanan jual menyapu seluruh sektor saham, dipimpin konsumer non-primer dan energi, ketika kejatuhan bursa Asia memperburuk suasana pasar. Inflasi AS yang lebih tinggi dari prakiraan serta meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek investasi kecerdasan buatan (AI) semakin menekan minat investor terhadap aset berisiko.
IHSG sudah berada di bawah tekanan sejak pembukaan pada 5.917, lebih rendah dari penutupan Rabu di 5.943. Aksi jual kemudian menyeret indeks hingga menyentuh 5.804, sebelum aksi beli pada perdagangan berikutnya membantu memangkas sebagian pelemahan. Namun, pemulihan tersebut belum cukup untuk membawa IHSG keluar dari zona merah, sekaligus memperlihatkan rapuhnya momentum kenaikan yang sempat muncul sehari sebelumnya.
Seluruh Sektor Tertekan, BMRI Bertahan di Zona Hijau
Pelemahan berlangsung merata di seluruh 11 sektor Bursa Efek Indonesia (BEI). Konsumer non-primer mencatat penurunan terdalam sebesar 3,20%, disusul energi yang merosot 3,00%, industri 2,43%, dan infrastruktur 2,41%. Sektor transportasi turut kehilangan 2,06%, sementara teknologi terkoreksi 1,29% setelah sehari sebelumnya menjadi salah satu motor pemulihan indeks. Kesehatan dan keuangan relatif lebih bertahan, masing-masing turun 0,15% dan 0,64%.
Tekanan meluas ke sejumlah saham berkapitalisasi besar. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) turun sekitar 1,77% ke Rp11.100, sedangkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 0,82% ke Rp6.075. Penurunan lebih tajam melanda PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang merosot 4,85% ke Rp157, sementara PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) kehilangan 1,97% ke Rp2.990. Di tengah dominasi tekanan jual, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) masih mampu naik 0,51% ke Rp3.980, meski penguatan tersebut belum cukup mengubah arah pasar secara keseluruhan.
Koreksi meluas ini bertolak belakang dengan laporan World Economic Outlook yang dirilis IMF pada Selasa (13/10), ketika lembaga itu menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,1% dari sebelumnya 5,0%. Namun, kabar positif tersebut belum tercermin dalam pergerakan IHSG yang masih dibayangi gejolak pasar global serta ketidakpastian menjelang evaluasi indeks MSCI pada November.
Inflasi AS dan Kekhawatiran AI Memperbesar Tekanan Global
Indeks S&P 500 kehilangan 1,11% pada Rabu, sedangkan Nasdaq merosot 1,88%, setelah Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) AS pada September meningkat menjadi 3,7% secara tahunan dari 3,4% pada Agustus, melampaui prakiraan 3,6%. Inflasi yang lebih panas dari prakiraan tersebut memperbesar kekhawatiran bahwa The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga atau mempertahankannya di level tinggi lebih lama. Rilis Indeks Harga Produsen (IHP/PPI) AS pada Kamis malam akan menjadi ujian berikutnya bagi ekspektasi suku bunga pasar.
Deutsche Bank menyebut saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI) ikut berguguran. Bank tersebut menyoroti meningkatnya kekhawatiran investor terhadap besarnya kebutuhan belanja modal dan beban pembiayaan perusahaan teknologi. Saham Oracle anjlok 8,83%, sedangkan indeks semikonduktor Philadelphia kehilangan 4,30%, memperpanjang penurunannya menjadi enam sesi berturut-turut. KOSPI Korea Selatan terjun 7,57% hingga memicu penghentian sementara perdagangan, sementara Nikkei Jepang merosot 4,90%. Shanghai Composite dan Hang Seng turut melemah masing-masing 1,59% dan 1,03%.
Tren Bearish IHSG Berlanjut, Support 5.828–5.813 Diuji

Dari perspektif teknis, IHSG masih terkunci di dalam descending channel setelah meluncur ke 5.863. Indeks sempat menyentuh 5.804, menembus support 5.828 (terendah 13 Oktober) dan batas bawah Bollinger Band di sekitar 5.813, sebelum berhasil ditutup kembali di atas kedua level tersebut. Penurunan Relative Strength Index (RSI) mendekati wilayah oversold, ke posisi 31,08 dari 34,22, yang menunjukkan bahwa tekanan jual masih mendominasi.
Area 5.828–5.813 menjadi support terdekat, disusul 5.804 (terendah 15 Oktober). Penembusan kembali level tersebut berpotensi mendorong pergerakan lebih jauh menuju 5.607 (terendah 1 Juli). Sebaliknya, IHSG perlu merebut kembali resistance 5.973 (terendah 1 Oktober) untuk membuka peluang rebound menuju 6.128 (tertinggi 9 Oktober), disusul 6.216 (tertinggi 6 Oktober).
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Pangkas Kenaikan di Bawah US$4.150, Taruhan Kenaikan The Fed Batasi Reli
USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.920, Tekanan Inflasi AS Belum Reda
Emas Rebound saat Laporan Pembelian Obligasi Pemerintah AS oleh Tiongkok Hantam Imbal Hasil AS
Sentimen analis Bitcoin, XRP melonjak saat pembeli Solana mencapai 91%: CryptoQuant
Sentimen analis terhadap Bitcoin, Ethereum, Solana, BNB, dan XRP telah berbalik bullish sejak Juli, karena lima mata uang kripto teratas pulih lebih cepat dan lebih kuat dibandingkan selama fase pasar 2022-2023, menurut CryptoQuant.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada Kamis, 15 Oktober:
Dolar AS (USD) tetap berada di bawah tekanan jual pada hari Kamis dan mengembalikan kenaikan yang dibukukannya menyusul data inflasi yang panas, seiring imbal hasil obligasi pemerintah AS turun tajam. Pada hari ini, kalender ekonomi AS akan menampilkan data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal mingguan, bersama dengan data Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI) September dan Penjualan Ritel.