• Emas melemah tipis saat para pedagang mengurangi eksposur menjelang laporan inflasi PCE AS.
  • Pasar melihat peluang 64% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap pada bulan September.
  • XAU/USD mempertahankan bias teknis bullish di atas SMA 50, 100, dan 200 hari.

Emas (XAU/USD) melemah tipis pada hari Rabu saat para pembeli memangkas eksposur mereka menjelang data Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS, yang akan dirilis pada pukul 12:30 GMT (19:30 WIB). Pada saat berita ini ditulis, XAU/USD diperdagangkan di sekitar US$4.615 setelah mencapai US$4.697 pada hari Selasa, level tertinggi sejak 14 Mei.

Pengukur inflasi yang disukai Federal Reserve (The Fed) diprakirakan akan menunjukkan inflasi PCE umum melandai ke 3,6% YoY pada bulan Juli dari 3,7% pada bulan Juni, sementara inflasi PCE inti diprakirakan tetap stabil di 3,3% selama periode yang sama. Secara bulanan, indeks umum diprakirakan naik 0,1%, setelah turun 0,1% pada bulan Juni, sementara PCE inti diprakirakan meningkat 0,2%, naik dari 0,1%.

Data tersebut akan dicermati dengan saksama dan dapat menentukan apakah Emas melanjutkan pemulihannya atau kehilangan momentum. Laporan inflasi yang kembali lemah, menyusul Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) dan Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI) bulan Juli, dapat mendorong para pedagang untuk mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan mendatang. Sebagai aset yang tidak berimbal hasil, Emas umumnya berkinerja lebih baik ketika suku bunga rendah.

Menurut CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperhitungkan peluang 64% bahwa bank sentral akan membiarkan biaya pinjaman tidak berubah pada pertemuan bulan September.

Bersamaan dengan laporan PCE, para pedagang juga akan memantau estimasi pendahuluan Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal II, Pesanan Barang Tahan Lama, serta data Pendapatan dan Belanja Pribadi.

Sementara itu, Dolar AS (USD) menguat tipis pada hari Rabu, membebani Emas berdenominasi Dolar. Indeks Dolar AS (DXY), yang melacak nilai Greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, diperdagangkan di sekitar 99,00, naik sekitar 0,12% pada hari ini.

Namun, Dolar AS tetap tertahan di dekat level terendah baru-baru ini setelah sell-off pekan lalu. Keputusan Departemen Keuangan AS untuk meningkatkan buyback surat berharga pemerintah bertenor lebih panjang telah menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap meningkatnya utang AS dan kredibilitas fiskal. Kembalinya narasi pelemahan nilai mata uang telah memperbarui permintaan Emas.

Di front geopolitik, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa kesepakatan transit temporer dengan Oman tidak berarti Selat Hormuz telah dibuka kembali. Ia mengatakan jalur perairan itu akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat memenuhi komitmennya berdasarkan Memorandum of Understanding (MOU). Meski begitu, pasar menilai kesepakatan tersebut sebagai langkah positif, dengan Minyak West Texas Intermediate (WTI) turun untuk tiga hari berturut-turut dan diperdagangkan di sekitar US$80,00 per barel.

Analisis Teknis: Bias Bullish XAU/USD Masih Utuh, RSI Mengindikasikan Momentum Sudah Terlalu Jauh

Pada grafik harian, XAU/USD mempertahankan bias bullish di atas Simple Moving Average (SMA) 50-, 100- dan 200-hari. Namun, Relative Strength Index (RSI) di dekat 68 mengindikasikan para pembeli mungkin enggan mengejar logam ini lebih tinggi di level-level saat ini. Moving Average Convergence Divergence (MACD) tetap berada di wilayah positif, menjaga momentum yang lebih luas condong ke atas.

Di sisi atas, resistance awal terlihat di Fibonacci retracement 50,0% di US$4.774, diikuti oleh level 61,8% di US$4.968. Penembusan yang berkelanjutan di atas level-level ini dapat mengekspos level Fibonacci retracement 78,6% di US$5.245 dan rekor tertinggi sepanjang masa di US$5.598,25.

Di sisi bawah, support terdekat berada di Fibonacci retracement 38,2% di US$4.579, diikuti oleh SMA 200-hari di US$4.522 dan SMA 100-hari di US$4.378. Pullback yang lebih dalam dapat membawa Fibonacci retracement 23,6% di US$4.338 dan SMA 50-hari di dekat US$4.193 ke titik fokus.

(Analisis teknis dalam berita ini ditulis dengan bantuan alat AI. Pelajari lebih lanjut.)

Pertanyaan Umum Seputar Inflasi

Inflasi mengukur kenaikan harga sekeranjang barang dan jasa yang representatif. Inflasi utama biasanya dinyatakan sebagai perubahan persentase berdasarkan basis bulan ke bulan (MoM) dan tahun ke tahun (YoY). Inflasi inti tidak termasuk elemen yang lebih fluktuatif seperti makanan dan bahan bakar yang dapat berfluktuasi karena faktor geopolitik dan musiman. Inflasi inti adalah angka yang menjadi fokus para ekonom dan merupakan tingkat yang ditargetkan oleh bank sentral, yang diberi mandat untuk menjaga inflasi pada tingkat yang dapat dikelola, biasanya sekitar 2%.

Indeks Harga Konsumen (IHK) mengukur perubahan harga sekeranjang barang dan jasa selama periode waktu tertentu. Biasanya dinyatakan sebagai perubahan persentase berdasarkan basis bulan ke bulan (MoM) dan tahun ke tahun (YoY). IHK Inti adalah angka yang ditargetkan oleh bank sentral karena tidak termasuk bahan makanan dan bahan bakar yang mudah menguap. Ketika IHK Inti naik di atas 2%, biasanya akan menghasilkan suku bunga yang lebih tinggi dan sebaliknya ketika turun di bawah 2%. Karena suku bunga yang lebih tinggi positif untuk suatu mata uang, inflasi yang lebih tinggi biasanya menghasilkan mata uang yang lebih kuat. Hal yang sebaliknya berlaku ketika inflasi turun.

Meskipun mungkin tampak berlawanan dengan intuisi, inflasi yang tinggi di suatu negara mendorong nilai mata uangnya naik dan sebaliknya untuk inflasi yang lebih rendah. Hal ini karena bank sentral biasanya akan menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi yang lebih tinggi, yang menarik lebih banyak arus masuk modal global dari para investor yang mencari tempat yang menguntungkan untuk menyimpan uang mereka.

Dahulu, Emas merupakan aset yang diincar para investor saat inflasi tinggi karena emas dapat mempertahankan nilainya, dan meskipun investor masih akan membeli Emas sebagai aset safe haven saat terjadi gejolak pasar yang ekstrem, hal ini tidak terjadi pada sebagian besar waktu. Hal ini karena saat inflasi tinggi, bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk mengatasinya. Suku bunga yang lebih tinggi berdampak negatif bagi Emas karena meningkatkan biaya peluang untuk menyimpan Emas dibandingkan dengan aset berbunga atau menyimpan uang dalam rekening deposito tunai. Di sisi lain, inflasi yang lebih rendah cenderung berdampak positif bagi Emas karena menurunkan suku bunga, menjadikan logam mulia ini sebagai alternatif investasi yang lebih layak.

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Inflasi PCE Inti AS Diprakirakan Tetap Menekan The Fed untuk Menaikkan Suku Bunga

Inflasi PCE Inti AS Diprakirakan Tetap Menekan The Fed untuk Menaikkan Suku Bunga

Biro Analisis Ekonomi Amerika Serikat (AS) (BEA) diprakirakan akan mempublikasikan data Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) untuk bulan Juli pada hari Rabu, pukul 12:30 GMT (19:30 WIB).
USD/IDR: Rupiah Menguat ke Rp17.695 saat Minyak Turun, Cermati PCE AS

USD/IDR: Rupiah Menguat ke Rp17.695 saat Minyak Turun, Cermati PCE AS

Rupiah Indonesia (IDR) menguat terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Rabu setelah pasar domestik libur pada Selasa, dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.695, turun 10 poin dari Rp17.705 pada Senin. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI), di sisi lain, melemah menjadi Rp17.717 dari Rp17.703.
Nvidia: Bagaimana Kinerja Perusahaan saat Beralih dari Pembuat Chip Menjadi Perusahaan Keuangan AI?

Nvidia: Bagaimana Kinerja Perusahaan saat Beralih dari Pembuat Chip Menjadi Perusahaan Keuangan AI?

Peristiwa utama bagi pasar minggu ini akan berlangsung malam ini setelah pasar AS tutup. Raksasa AI Nvidia akan melaporkan kinerja untuk kuartal terakhir, dengan pasar kembali mengantisipasi hasil yang sangat kuat. Pendapatan diprakirakan dapat melampaui US$92 miliar, sementara laba per saham berpotensi mencapai US$2,09.
Pemulihan Bitcoin terhenti di dekat $80.000 saat arus masuk ETF meningkat, permintaan paus menguat

Pemulihan Bitcoin terhenti di dekat $80.000 saat arus masuk ETF meningkat, permintaan paus menguat

Harga Bitcoin diperdagangkan di zona hijau pada hari Rabu, bertahan di atas $78.000 sambil berjuang untuk melanjutkan pemulihannya di atas level $80.000. Permintaan institusional menguat, dengan arus masuk yang stabil dan volume swap Bitcoin-ke-ETF BlackRock yang ditangguhkan pajaknya mencapai $5 miliar.

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Rabu, 26 Agustus:

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Rabu, 26 Agustus:

Pasangan mata uang utama terus diperdagangkan dalam kisaran mingguan yang relatif ketat di awal hari Rabu karena para investor bersiap-siap untuk peristiwa-peristiwa penting. Di kemudian hari, Biro Analisis Ekonomi AS akan mempublikasikan estimasi kedua untuk pertumbuhan Produk Domestik Bruto kuartal kedua dan data Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi, pengukur inflasi pilihan Federal Reserve, untuk bulan Juli. Selain itu, Nvidia (NVDA) akan merilis laporan pendapatannya setelah bel penutupan Wall Street.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA