- Batu Bara ICE Newcastle masih stagnan di $129,00
- AS melakukan pembicaraan dengan mediator terkait Iran di Qatar
- Pemerintah Indonesia mempertahankan tarif listrik.
Batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di $129,00 yang lebih rendah 0,31% dari penutupan hari kemarin. Posisi yang lebih rendah itu karena batu bara ini dibuka dengan gap bawah dan komoditas ini praktis belum bergerak sejak pembukaan. Batu bara kesulitan melanjutkan kenaikan lebih dari 1,5% Selasa lalu di tengah sentimen positif yang berasal dari Timur Tengah.
Tren jangka lebih panjang batu bara masih naik karena harga bergerak di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari, meskipun semakin hari semakin dekat jarak di antara keduanya. Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 37,37 mengindikasikan momentumnya berish dan masih ada ruang di sisi bawah sebelum kembali masuk ke zona jenuh jual.
Utusan AS, Jared Kushner dan Steve Witkoff, mengunjungi Qatar untuk melakukan pembicaraan dengan mediator dan tidak melakukan pembicaraan langsung dengan pihak Iran, seperti dilaporkan CNN pada hari Rabu. Donald Trump melihat perisiwa tersebut dengan sangat baik, mengatakan bahwa, "Sejauh ini, denuklirisasi Iran berjalan baik."
Kementerian Luar Negeri Qatar menginformasikan pertemuan berikutnya akan berlangsung setelah pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Pemakaman direncanakan pada 9 Juli 2026.
Para pejabat AS mengklaim aliran minyak mentah yang melewati Selat Hormuz melebihi 10 juta barrel per hari. Pemulihan bertahap distribusi komoditas energi lebih jauh memberikan sentimen positif namun menekan harga-harga komoditas energi yang selama perang AS-Iran menunjukkan lonjakan, termasuk baru bara. Persistensi perbaikan dapat menjadi penghambat kenaikan harga di masa depan.
Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Juli 2026 dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 274.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut:
- Batubara (6.322 GAR) $126,58 naik dari $123,91
- Batubara I (5.300 GAR) $90,94 naik dari $88,40
- Batubara II (4.100 GAR) $62,59 naik dari $60,19
- Batubara III (3.400 GAR) $41,91 naik dari $41,19
Pemerintah Indonesia memutuskan untuk tidak menaikkan tarif listrik untuk 13 golongan pelanggan nonsubsidi dan 24 golongan pelanggan subsidi selama periode Juli-September 2026, seperti diinformasikan dalam media sosial resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Keputusan ini dibuat dengan mempertimbangkan kurs, harga minyak dunia, serta Harga Batubara Acuan (HBA). Pemerintah mengklaim tidak ada kenaikan tarif listrik sejak 2022.
Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko
Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Nonfarm Payrolls Diprakirakan Tumbuh Lebih dari 100 Ribu di Juni, Dukung Taruhan Kenaikan Suku Bunga Fed
USD/IDR: Rupiah Melemah Nyaris di 18.000 meski Dolar AS dan Minyak Turun
Lima Cara untuk Melindungi dari Volatilitas AI
Melonggarnya arus ETF dan permintaan ritel mendorong HYPE ke tahap penentu
Harga Hyperliquid terus bergejolak, berjuang mencari arah saat naik tipis, setelah dua hari berturut-turut mengalami kerugian. Permintaan institusional, pendorong utama altcoin belakangan ini, mereda untuk HYPE dengan arus masuk minimal setelah lonjakan $108 Juta minggu lalu. Permintaan ritel yang menurun memperparah HYPE saat Open Interest turun 4% dalam 24 jam.
Breaking: Nonfarm Payrolls AS Naik 57 Ribu di Bulan Juni versus 110 Ribu yang Diprakirakan
Nonfarm Payrolls (NFP) di AS naik sebesar 57 Ribu pada bulan Juni, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan pada hari Kamis. Angka ini mengikuti kenaikan 129 Ribu (direvisi dari 172 Ribu) yang tercatat pada bulan Mei dan meleset jauh dari ekspektasi pasar sebesar 110 Ribu.