Harga minyak yang jatuh, bersama dengan prospek pembukaan kembali Selat Hormuz yang segera terjadi, merupakan perkembangan bearish bagi dolar.
Namun meskipun greenback melemah terhadap mata uang sejenisnya minggu ini, ia tidak menunjukkan jenis kerentanan yang akan menandakan pembalikan signifikan dari aliran safe haven.
Hal ini sebagian disebabkan oleh posisi pasar yang telah mencerminkan optimisme cukup tinggi terhadap deeskalasi perang Iran, sementara isu krusial lainnya dalam perundingan—masa depan program nuklir Iran—masih jauh dari penyelesaian.
Laporan nonfarm payrolls hari Jumat akan menjadi peristiwa risiko makroekonomi utama bagi pasar minggu ini.
Komunikasi terbaru dari ketua FOMC Warsh menunjukkan bahwa The Fed tidak merasakan tekanan nyata untuk menaikkan suku bunga tahun ini, meskipun laporan pasar tenaga kerja yang panas bisa mengubah situasi sedikit. Para ekonom memprakirakan penciptaan lapangan kerja sekitar 80 ribu, yang akan menandai sedikit percepatan dibandingkan Juni dan berada di atas tingkat pertumbuhan ketenagakerjaan minimum yang diprakirakan diperlukan untuk menjaga kestabilan pasar tenaga kerja.
Analisa Terkini
Pilihan Editor
Pratinjau PMI Jasa ISM: Sektor Jasa AS Diprakirakan Mengalami Percepatan pada Bulan Juli
USD/IDR: Rupiah Menguat ke Rp17.925 setelah PDB Kuartal II Lampaui Prakiraan
ADP Menjadi Fokus Menjelang Laporan Lapangan Pekerjaan pada Jumat
Emas Naik ke Tertinggi Satu Bulan karena Harapan Pembukaan Kembali Hormuz Redakan Kekhawatiran Inflasi
Valas Hari Ini: Dolar AS Kesulitan saat Arus Risiko Mendominasi Pasar
Arus risiko mendominasi pasar keuangan pada awal hari Rabu saat para investor semakin optimis terhadap solusi diplomatik untuk konflik di Timur Tengah. Pada paruh kedua hari ini, data ketenagakerjaan sektor swasta dan laporan Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers Index/PMI) Jasa Institute for Supply Management (ISM) untuk bulan Juli akan ditampilkan dalam kalender ekonomi AS.