- Kurs Rupiah melemah 60 poin atau sekitar 0,34% ke Rp17.735 per Dolar AS dari Rp17.675 pada Rabu.
- The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin ke 3,75%–4,00% dan masih memproyeksikan satu kenaikan lagi tahun ini, mendorong Dolar AS ke level tertinggi tujuh pekan.
- Posisi bearish terhadap Rupiah sebenarnya berkurang sebelum keputusan The Fed, sementara koreksi Brent dan WTI membantu meredakan tekanan dari harga energi.
Rupiah Indonesia (IDR) kembali melemah terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Kamis, dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.735 dari Rp17.675 pada Rabu, atau melemah 60 poin sekitar 0,34%. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) juga naik menjadi Rp17.753 dari Rp17.712. Tekanan muncul setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga dan mempertahankan prospek pengetatan lanjutan, mendorong Dolar AS menguat sementara imbal hasil Treasury tetap berada di level tinggi. Di sisi lain, harga minyak mulai terkoreksi dan posisi bearish terhadap Rupiah sempat berkurang sebelum keputusan The Fed.
The Fed Dorong Dolar ke Tertinggi Tujuh Pekan
The Fed menaikkan Fed Funds Target Rate sebesar 25 basis poin ke 3,75%–4,00%, kenaikan pertama dalam tiga tahun, melalui keputusan bulat 12–0. Bank sentral AS mengatakan inflasi masih tinggi dan kenaikan suku bunga diperlukan untuk mendukung kembalinya inflasi menuju target 2%. Proyeksi terbaru menempatkan median suku bunga akhir 2026 di 4,1%, yang mengisyaratkan satu kenaikan 25 basis poin lagi sebelum akhir tahun.
Dolar AS menguat setelah keputusan tersebut, dengan Indeks Dolar AS (DXY) sempat mencapai 100,35, tertinggi sejak 31 Juli, sebelum bergerak di sekitar 100,22 pada sesi Eropa. Imbal hasil Treasury AS kemudian sedikit turun pada perdagangan Kamis, tetapi tetap tinggi, dengan tenor 10-tahun di sekitar 4,991% dan tenor 2-tahun sekitar 4,69%. Harga minyak juga melanjutkan koreksi, dengan kontrak berjangka Brent turun 0,90% ke US$104,88 per barel dan WTI melemah 0,68% ke US$101,73, meski keduanya masih berada di atas US$100. Reuters mencatat penurunan minyak ikut mengurangi sebagian dorongan terhadap Dolar setelah kenaikan awal pasca-FOMC.
Posisi Bearish Rupiah Sempat Berkurang sebelum The Fed
Sebelum keputusan suku bunga The Fed, survei Reuters menunjukkan posisi bearish terhadap Rupiah mulai berkurang. Skor posisi USD/IDR turun menjadi 0,40 dari 0,49 pada 3 September dan 0,59 pada 20 Agustus. Seluruh respons survei dikumpulkan sebelum The Fed menaikkan suku bunga, sehingga belum mencerminkan perubahan posisi investor setelah keputusan FOMC.
Perbaikan tersebut muncul ketika perhatian investor kembali tertuju pada perkembangan domestik setelah pergantian Menteri Keuangan. Reuters mencatat investor mengurangi posisi jual terhadap Rupiah, sementara TD Securities menilai stabilisasi risiko domestik dapat membuka jalan bagi Rupiah untuk memulihkan sebagian pelemahannya terhadap mata uang emerging Asia berimbal hasil rendah. Namun, penguatan Dolar setelah keputusan The Fed membuat faktor eksternal kembali mendominasi perdagangan Kamis.
USD/IDR Mendekati Resistance 17.770
Secara teknis, USD/IDR pada grafik harian ICE bergerak di sekitar 17.743, melanjutkan pemulihan dari area 17.500. Pasangan mata uang kini berada di atas MA 100-hari sekitar 17.686 dan garis tengah Bollinger Band di sekitar 17.672, setelah pada perdagangan Rabu masih bergerak dekat kedua indikator tersebut. Resistance terdekat tetap berada di sekitar 17.770, sebelum batas atas Bollinger Band di sekitar 17.810. Penembusan yang bertahan di atas area 17.770–17.810 dapat memperkuat pemulihan USD/IDR.
Di sisi bawah, area 17.686–17.672 menjadi support awal, diikuti 17.600. Jika tekanan jual terhadap USD/IDR kembali meningkat, batas bawah Bollinger Band di sekitar 17.535 dan level psikologis 17.500 menjadi support berikutnya, sebelum 17.410. Relative Strength Index (RSI) naik menjadi 52,36 dari 47,73 pada Rabu, melewati level netral 50 dan mengindikasikan momentum pemulihan USD/IDR menguat, sementara indikator tersebut masih jauh dari wilayah jenuh beli.

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Lanjutkan Pemulihan Rapuh dari Terendah Multi-Minggu karena Imbal Hasil yang Lebih Rendah Bebani USD
USD/IDR: Rupiah Tertekan di Rp17.735 setelah The Fed Naikkan Suku Bunga
Emas Memantul tetapi Masih Kesulitan
XRP dan XLM Pulih di Tengah Sinyal Beragam
Berikut yang perlu Anda ketahui pada Kamis, 17 September:
Indeks Dolar AS (DXY) berhasil merebut kembali level psikologis 100,00 saat para pedagang menilai keputusan kenaikan suku bunga Federal Reserve AS. Bank sentral AS tersebut menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan September pada hari Rabu. Ini menandai kenaikan suku bunga pertama The Fed dalam tiga tahun