USD/IDR: Rupiah Pangkas Pelemahan ke 17.799, Dolar AS Bertahan Kuat


  • Rupiah sempat dibuka melemah ke 17.816 per Dolar AS pada Senin.
  • USD/IDR kemudian turun ke 17.799, berbalik di bawah penutupan Jumat.
  • Dolar AS tetap kuat menjelang rangkaian data ekonomi penting pekan ini.

Rupiah memangkas pelemahan awal pada perdagangan Senin sesi Asia. Pasangan mata uang USD/IDR sempat naik 12 poin atau 0,07% ke 17.816 dari penutupan Jumat di 17.804, sebelum berbalik turun ke 17.799 pada saat berita ini ditulis. Posisi tersebut menunjukkan Rupiah menguat 17 poin dari pembukaan dan 5 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.

JISDOR Bank Indonesia pada akhir pekan lalu tercatat di Rp17.826 per Dolar AS. Kurs transaksi BI menempatkan nilai jual Dolar AS di Rp17.915,13 dan nilai beli di Rp17.736,87.

Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga total 100 basis poin sejak Mei hingga mencapai 5,75%. Namun, pengetatan agresif tersebut belum menghasilkan pemulihan Rupiah yang berarti, dengan USD/IDR masih bertahan di sekitar area 17.800.

Dolar AS Bertahan Kuat, Harga Minyak Turun

Indeks Dolar AS (DXY) naik 0,08% ke sekitar 100,84 pada sesi Asia setelah sempat menyentuh 100,89. Indeks tetap berada di atas area 100,64, dengan level psikologis 101,00 menjadi sasaran berikutnya apabila momentum penguatan berlanjut.

Dari sisi geopolitik, perundingan AS-Iran di Bürgenstock, Swiss, menghasilkan peta jalan menuju kesepakatan akhir dalam 60 hari. Qatar dan Pakistan menyebut pembicaraan berlangsung positif, disertai rencana negosiasi teknis lanjutan, pembentukan komite pengawas, dan mekanisme de-eskalasi yang melibatkan Lebanon.

Kemajuan diplomatik tersebut menekan premi risiko energi. WTI turun 0,12% ke US$75,76 per barel, sementara Brent merosot 1,28% ke US$79,54. Kesepakatan awal turut mencakup pengecualian ekspor minyak dan petrokimia Iran, pelonggaran blokade, serta pembebasan sebagian aset yang dibekukan.

Data AS Membayangi Rupiah Pekan Ini

Pasar akan mencermati pidato pejabat The Fed Christopher Waller pada Senin, disusul PMI Manufaktur dan Jasa S&P Global versi pendahuluan pada Selasa. Fokus utama jatuh pada estimasi akhir pertumbuhan ekonomi AS kuartal pertama dan indeks harga PCE inti Mei yang dirilis Kamis.

PCE inti diprakirakan naik 0,3% secara bulanan dari 0,2%, sementara pertumbuhan PDB diperkirakan bertahan di 1,6%. Data yang kuat dapat menjaga Dolar AS tetap tinggi dan kembali menekan Rupiah. Sebaliknya, hasil yang lebih lunak berpeluang meredakan permintaan terhadap Greenback.

Pertanyaan Umum Seputar Inflasi

Inflasi mengukur kenaikan harga sekeranjang barang dan jasa yang representatif. Inflasi utama biasanya dinyatakan sebagai perubahan persentase berdasarkan basis bulan ke bulan (MoM) dan tahun ke tahun (YoY). Inflasi inti tidak termasuk elemen yang lebih fluktuatif seperti makanan dan bahan bakar yang dapat berfluktuasi karena faktor geopolitik dan musiman. Inflasi inti adalah angka yang menjadi fokus para ekonom dan merupakan tingkat yang ditargetkan oleh bank sentral, yang diberi mandat untuk menjaga inflasi pada tingkat yang dapat dikelola, biasanya sekitar 2%.

Indeks Harga Konsumen (IHK) mengukur perubahan harga sekeranjang barang dan jasa selama periode waktu tertentu. Biasanya dinyatakan sebagai perubahan persentase berdasarkan basis bulan ke bulan (MoM) dan tahun ke tahun (YoY). IHK Inti adalah angka yang ditargetkan oleh bank sentral karena tidak termasuk bahan makanan dan bahan bakar yang mudah menguap. Ketika IHK Inti naik di atas 2%, biasanya akan menghasilkan suku bunga yang lebih tinggi dan sebaliknya ketika turun di bawah 2%. Karena suku bunga yang lebih tinggi positif untuk suatu mata uang, inflasi yang lebih tinggi biasanya menghasilkan mata uang yang lebih kuat. Hal yang sebaliknya berlaku ketika inflasi turun.

Meskipun mungkin tampak berlawanan dengan intuisi, inflasi yang tinggi di suatu negara mendorong nilai mata uangnya naik dan sebaliknya untuk inflasi yang lebih rendah. Hal ini karena bank sentral biasanya akan menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi yang lebih tinggi, yang menarik lebih banyak arus masuk modal global dari para investor yang mencari tempat yang menguntungkan untuk menyimpan uang mereka.

Dahulu, Emas merupakan aset yang diincar para investor saat inflasi tinggi karena emas dapat mempertahankan nilainya, dan meskipun investor masih akan membeli Emas sebagai aset safe haven saat terjadi gejolak pasar yang ekstrem, hal ini tidak terjadi pada sebagian besar waktu. Hal ini karena saat inflasi tinggi, bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk mengatasinya. Suku bunga yang lebih tinggi berdampak negatif bagi Emas karena meningkatkan biaya peluang untuk menyimpan Emas dibandingkan dengan aset berbunga atau menyimpan uang dalam rekening deposito tunai. Di sisi lain, inflasi yang lebih rendah cenderung berdampak positif bagi Emas karena menurunkan suku bunga, menjadikan logam mulia ini sebagai alternatif investasi yang lebih layak.

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Turun Tipis Dekati 4.150 Dolar karena Ketidakpastian Perdamaian AS–Iran, Sinyal Hawkish The Fed

Emas Turun Tipis Dekati 4.150 Dolar karena Ketidakpastian Perdamaian AS–Iran, Sinyal Hawkish The Fed

Harga Emas (XAU/USD) diperdagangkan dengan kerugian ringan sekitar $4.155 selama awal sesi Asia pada hari Senin. Para pedagang terus menilai perkembangan seputar perundingan damai AS-Iran di Swiss. Namun, sinyal hawkish dari Federal Reserve (The Fed) AS mungkin membatasi kenaikan logam mulia dalam waktu dekat.
USD/IDR: Rupiah Pangkas Pelemahan ke 17.799, Dolar AS Bertahan Kuat

USD/IDR: Rupiah Pangkas Pelemahan ke 17.799, Dolar AS Bertahan Kuat

Rupiah memangkas pelemahan awal pada perdagangan Senin sesi Asia. Pasangan mata uang USD/IDR sempat naik 12 poin atau 0,07% ke 17.816 dari penutupan Jumat di 17.804, sebelum berbalik turun ke 17.799 pada saat berita ini ditulis. Posisi tersebut menunjukkan Rupiah menguat 17 poin dari pembukaan dan 5 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.
Perang Iran Tidak Menghancurkan Ekonomi AS, tetapi Apa yang akan Terjadi Selanjutnya?

Perang Iran Tidak Menghancurkan Ekonomi AS, tetapi Apa yang akan Terjadi Selanjutnya?

Hampir empat bulan setelah dimulainya perang Iran, ekonomi AS tetap sangat tangguh. Meskipun konflik tersebut awalnya memicu gangguan parah pada pasar energi global dan kenaikan tajam harga Minyak, kemajuan diplomatik terbaru antara Washington dan Tehran telah meredakan kekhawatiran tentang kejutan pasokan yang berkepanjangan.
GBP/USD mengisi gap bearish mingguan versus USD; kenaikan tampak dibatasi di tengah kekacauan politik Inggris

GBP/USD mengisi gap bearish mingguan versus USD; kenaikan tampak dibatasi di tengah kekacauan politik Inggris

Pasangan mata uang GBP/USD kembali naik ke wilayah 1,3235 selama sesi Asia dan gagal menembus gap bearish mingguan di tengah penurunan Dolar AS yang moderat, meskipun potensi kenaikan tampak terbatas.


Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Jumat, 19 Juni

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Jumat, 19 Juni

Dolar AS mendapat manfaat dari sentimen pasar yang menghindari risiko pada awal hari Jumat dan memperkuat kenaikannya selama minggu ini terhadap mata uang utama lainnya. Pada paruh kedua hari ini, Penjualan Ritel bulan April dari Kanada akan menjadi satu-satunya data yang ditampilkan dalam kalender ekonomi.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA