- Rupiah bergerak menguat terbatas setelah Indeks Dolar AS mundur dari tertinggi 13 bulan.
- Inflasi PCE akan menentukan apakah koreksi Greenback berlanjut atau USD/IDR kembali menembus 18.000.
- Penurunan harga minyak membantu, tetapi ketidakpastian MSCI menahan pemulihan aset Indonesia.
Rupiah Indonesia (IDR) menguat tipis terhadap Dolar AS pada perdagangan Kamis, tetapi belum mampu menjauh dari level psikologis 18.000. Pasangan mata uang USD/IDR turun hingga 17.925, sekitar 30 poin dari level tertinggi Rabu di 17.955, setelah bergerak dalam rentang sempit 17.925-17.950 hingga akhir sesi Asia.
Mata uang Garuda menutup perdagangan Rabu sekitar 50 poin di bawah 18.000. Pemulihan dari level hampir 18.200 yang disentuh pada awal Juni masih bertahan, tetapi penguatan Dolar dalam beberapa hari terakhir membuat lajunya tersendat. JISDOR Bank Indonesia ditetapkan di 17.955 pada Rabu, sedangkan kurs transaksi BI Kamis berada di 18.044,78 untuk kurs jual dan 17.865,22 untuk kurs beli.
PCE AS Menentukan Arah Dolar
Rupiah mendapat ruang setelah Indeks Dolar AS (DXY) mundur ke 101,52 dari level tertinggi 13 bulan di 101,80. Koreksi itu belum banyak mengubah posisi pasar. Sikap hawkish The Fed dan data ekonomi terbaru AS yang lebih kuat dari prakiraan masih menjaga permintaan terhadap Greenback menjelang rilis inflasi PCE pada Kamis malam.
Data tersebut akan menentukan apakah USD/IDR kembali menembus 18.000 atau memperpanjang penurunannya. PCE yang lebih tinggi dari prakiraan dapat memperkuat taruhan kenaikan suku bunga The Fed dan menghidupkan kembali rally Dolar. Sebaliknya, tekanan harga yang lebih lemah dapat memperdalam koreksi Greenback dan membuka jalan bagi Rupiah untuk bergerak menjauh dari level psikologis tersebut.
Lloyd Chan dari MUFG menilai Rupiah masih mendapat dukungan dari pengetatan proaktif dan langkah stabilisasi valas Bank Indonesia. Dukungan itu berhadapan dengan imbal hasil AS yang tinggi, ketidakpastian kebijakan ekspor komoditas, dan penundaan keputusan MSCI hingga November. MUFG memprakirakan “BI menaikkan suku bunga hingga 6,25% pada akhir tahun untuk memperlambat depresiasi Rupiah”.
Risiko MSCI Masih Membayangi
Penundaan MSCI menghindarkan Indonesia dari penurunan status langsung menjadi pasar perbatasan, tetapi belum menghapus keraguan terhadap aset domestik. Investor masih menunggu kemajuan regulator dalam memperbaiki transparansi kepemilikan saham dan perdagangan sebelum tinjauan dilanjutkan pada November. Selama hasil akhirnya belum jelas, ruang pemulihan Rupiah cenderung tetap terbatas.
Pemerintah masih melihat ruang penguatan pada semester kedua, meski pasar belum menunjukkan keyakinan yang sama. “Rupiah akan kembali menguat secara bertahap pada semester dua tahun ini,” kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI pada 10 Juni.
Harga minyak yang lebih rendah memberi penahan tambahan. WTI kontrak Agustus diperdagangkan di sekitar US$69,45 per barel, sedangkan Brent turun ke US$72,60. Penurunan tersebut dapat meringankan tekanan pada tagihan impor energi Indonesia, tetapi untuk saat ini pengaruhnya belum cukup kuat membawa Rupiah keluar dari bayang-bayang Dolar menjelang PCE.
Indikator Ekonomi
Belanja Konsumsi Perorangan Inti - Indeks Harga (Thn/Thn)
Belanja Konsumsi Perorangan (Personal Consumption Expenditures/PCE) Inti, yang dirilis oleh Biro Analisis Ekonomi, mengukur perubahan nilai semua barang dan jasa yang dibeli oleh penduduk AS pada periode tertentu, tidak termasuk komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif. Data triwulanan dirilis dalam laporan Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih luas. Data tersebut merupakan proksi untuk belanja konsumen, pendorong utama ekonomi AS. Secara umum, pembacaan yang tinggi dianggap sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dianggap sebagai bearish.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Kam Jun 25, 2026 12.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 3.4%
Sebelumnya: 3.3%
Sumber: US Bureau of Economic Analysis
Setelah menerbitkan laporan PDB, Biro Analisis Ekonomi AS merilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bersama dengan perubahan bulanan dalam Pengeluaran Pribadi dan Pendapatan Pribadi. Pembuat kebijakan FOMC menggunakan Indeks Harga PCE Inti tahunan, yang tidak termasuk harga makanan dan energi yang bergejolak, sebagai pengukur utama inflasi mereka. Pembacaan yang lebih kuat dari perkiraan dapat membantu USD mengungguli para pesaingnya karena akan mengisyaratkan kemungkinan pergeseran hawkish dalam panduan ke depan The Fed dan sebaliknya.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Memantul dari Terendah November 2025 saat rally USD Berhenti Sejenak jelang PCE AS
USD/IDR: Rupiah Menguat Tipis di Bawah 18.000 Jelang Inflasi PCE AS
Potensi Death Cross Indikasikan Penurunan Lebih Lanjut pada XAU/USD
Bitcoin menguji $60.000 saat paus melakukan aksi jual – Aave dan Jupiter menunjukkan ketahanan
Pasar mata uang kripto (cryptocurrency) yang lebih luas tetap berada di bawah tekanan jual yang intens, dengan Bitcoin kembali di $60.000 untuk ketiga kalinya tahun ini. Data on-chain menunjukkan tekanan jual dari para investor dompet besar, yang biasa disebut whales, sementara total likuidasi mencapai hampir $1 miliar dalam 24 jam