- Kurs Rupiah melemah tipis ke Rp17.895 per USD pada Rabu, ketika kenaikan harga minyak dunia kembali membayangi pasar valuta asing domestik.
- Ketidakpastian terkait evaluasi MSCI masih membayangi pasar Indonesia, sementara BI melanjutkan stabilisasi valas melalui transaksi DNDF.
- Penurunan imbal hasil Treasury AS membantu meredakan tekanan terhadap Rupiah, menjelang rilis inflasi AS yang berpotensi menentukan arah Dolar.
Rupiah Indonesia (IDR) ditutup melemah tipis terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026, ke Rp17.895 per USD, turun 10 poin atau sekitar 0,06% dari penutupan Selasa di Rp17.885. Rupiah sempat tertekan pada awal perdagangan hingga Rp17.925 sebelum memangkas pelemahannya. Kenaikan harga minyak dunia dan ketidakpastian di pasar keuangan domestik masih membayangi pergerakan USD/IDR, meski penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS membantu meredakan sebagian tekanan.
Kenaikan Harga Minyak dan Risiko MSCI Membayangi Rupiah
Harga minyak dunia kembali menguat setelah serangan terhadap dua kapal di Selat Hormuz memperbesar kekhawatiran gangguan pasokan energi. Minyak mentah Brent naik 0,39% menjadi US$106,10 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,39% ke US$94,51. Eskalasi konflik semakin membayangi pasar setelah kelompok Houthi menyerang fasilitas Saudi Aramco di Dhahran, Arab Saudi. Bagi Indonesia sebagai importir neto minyak, kenaikan harga energi berpotensi memperbesar kebutuhan Dolar AS untuk impor sekaligus menambah tekanan terhadap anggaran subsidi energi.
Sementara itu, ketidakpastian menjelang evaluasi MSCI pada November masih membayangi pasar keuangan Indonesia, meski Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai potensi pengeluaran saham domestik dari indeks global semakin terbatas. MSCI sebelumnya mempertahankan pembekuan penambahan saham Indonesia ke dalam indeks dan masih mengevaluasi efektivitas reformasi transparansi pasar modal.
BI Lanjutkan Stabilisasi Valas, Pemerintah Tegaskan Disiplin Fiskal
Bank Indonesia (BI) melanjutkan operasi moneter valas pada Rabu (14/10) melalui perpanjangan transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) jual senilai US$60 juta, dengan tenor satu bulan dan kurs JISDOR ditambah premi Rp27. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya BI menjaga stabilitas pasar valas di tengah ketidakpastian global. Sementara itu, permintaan terhadap surat utang pemerintah masih kuat setelah penawaran dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa mencapai Rp64,86 triliun, dengan realisasi penyerapan pemerintah sebesar Rp35 triliun.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara pada Selasa (13/10) menegaskan komitmen pemerintah menjaga defisit APBN maksimal 3% dan rasio utang tidak melebihi 60% terhadap produk domestik bruto (PDB). Sebelumnya, Gubernur BI Destry Damayanti dalam wawancara dengan Reuters pada Senin (12/10) menegaskan independensi bank sentral dalam menentukan suku bunga berdasarkan perkembangan ekonomi. BI juga menawarkan insentif lindung nilai valas yang berpotensi menambah imbal hasil investor asing sekitar 40 basis poin tanpa harus menaikkan BI-Rate.
Treasury AS Turun, Pasar Tunggu Inflasi dan Sinyal The Fed
Dolar AS menghadapi tekanan setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke sekitar 5,198%, sementara tenor dua tahun berada di 4,79%. Penurunan imbal hasil tersebut membantu membatasi penguatan Dolar, tetapi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Desember dan ketegangan geopolitik masih menopang permintaan terhadap USD. Pasar malam ini menunggu data Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) AS September pada pukul 12:30 GMT (19:30 WIB), dengan inflasi tahunan diprakirakan naik menjadi 3,6% dari 3,4% pada Agustus. Data Indeks Harga Produsen (IHP/PPI) AS pada Kamis dan pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, pada Jumat akan menjadi petunjuk berikutnya bagi prospek suku bunga dan arah USD/IDR menjelang akhir pekan.
USD/IDR Masih Sideways di Rentang 17.860–17.932

Dari perspektif teknis, grafik harian menunjukkan USD/IDR masih bergerak sideways di sekitar 17.895, dengan kenaikan tertahan di bawah resistance 17.932 (tertinggi 2 Oktober). Resistance berikutnya berada di area psikologis 18.000–18.005, yang berdekatan dengan garis tren menurun dan batas atas Bollinger Band. Penembusan area tersebut diperlukan untuk membuka peluang kenaikan menuju 18.090 (tertinggi 28 dan 30 Juli). Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) turun ke 54,35, menunjukkan momentum kenaikan USD/IDR masih melemah meskipun bertahan di atas level netral 50.
Di sisi bawah, support terdekat berada di 17.860 (terendah 30 September), disusul 17.795 (terendah 23 September). Penembusan kedua level tersebut dapat meningkatkan tekanan jual menuju area 17.750–17.756, tempat Moving Average (MA) 100 hari dan batas bawah Bollinger Band berada, sebelum 17.685 (terendah 28 Agustus). Selama USD/IDR bertahan di atas 17.860 tetapi belum mampu menembus 17.932, konsolidasi diprakirakan masih mendominasi pergerakan jangka pendek.
Indikator Ekonomi
Indeks Harga Konsumen (Thn/Thn)
Kecenderungan inflasi atau deflasi diukur dengan menjumlahkan harga sekeranjang barang dan jasa secara berkala dan menyajikan datanya sebagai Indeks Harga Konsumen (IHK). Data IHK dikumpulkan setiap bulan dan dirilis oleh Departemen Statistik Tenaga Kerja AS. Laporan bulanan ini membandingkan harga barang-barang pada bulan referensi dengan bulan sebelumnya. IHK Tidak termasuk Makanan & Energi tidak menyertakan komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif untuk memberikan pengukuran tekanan harga yang lebih akurat. Secara umum, angka yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sedangkan angka yang rendah dianggap sebagai bearish.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Okt 14, 2026 12.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 3.6%
Sebelumnya: 3.4%
Sumber: US Bureau of Labor Statistics
Federal Reserve AS (The Fed) memiliki mandat ganda untuk menjaga stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum. Menurut mandat tersebut, inflasi seharusnya berada di sekitar 2% YoY dan telah menjadi pilar terlemah dari arahan bank sentral sejak dunia mengalami pandemi, yang berlanjut hingga saat ini. Tekanan harga terus meningkat di tengah masalah rantai pasokan dan kemacetan, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) bertahan di level tertinggi multi-dekade. The Fed telah mengambil langkah-langkah untuk mengekang inflasi dan diprakirakan akan mempertahankan sikap agresif di masa mendatang.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Data IHK AS Diprakirakan Naik pada September saat Pasar Menilai Ulang Prospek Suku Bunga The Fed
USD/IDR: Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.895 saat Minyak Naik, BI Jaga Stabilitas
Pendapatan dan IHK AS Menjadi Fokus
Bitcoin Mengincar $85.000; ETH Bertahan di Support, XRP Stabil
IHK AS bulan September bisa berdampak besar pada keputusan The Fed berikutnya
Laporan ini diprakirakan akan menunjukkan kenaikan lebih lanjut pada harga utama dan sedikit kenaikan dalam inflasi inti tahunan. Para ahli kami akan menganalisis reaksi pasar terhadap peristiwa ini hari ini pada pukul 12:00 GMT (19:00 WIB).