- Kurs Rupiah melemah 35 poin atau 0,19% ke level Rp18.145 per Dolar AS, melanjutkan penurunan selama dua sesi berturut-turut.
- Tekanan jual asing di pasar obligasi dan kekhawatiran fiskal akibat tingginya harga minyak masih membebani Rupiah, meski BI mempertahankan intervensinya.
- Dolar AS menguat mendekati level tertinggi dua pekan menjelang keputusan The Fed, sementara pasar mengantisipasi kenaikan suku bunga pada Desember.
Rupiah Indonesia (IDR) belum berhasil melepaskan diri dari tekanan dalam dua hari perdagangan awal pekan. Mata uang Garuda kembali terkikis 35 poin atau 0,19% ke level Rp18.145 per Dolar AS pada penutupan perdagangan domestik Selasa (27/10), melanjutkan pelemahan dari posisi Rp18.110 pada Senin. Secara kumulatif, Rupiah telah kehilangan 105 poin atau sekitar 0,58% sejak penutupan Jumat di Rp18.040. Kekhawatiran terhadap ketahanan fiskal Indonesia, berlanjutnya arus modal asing keluar dari pasar saham, serta penguatan Dolar AS menjelang keputusan Federal Reserve (The Fed) masih membayangi pergerakan nilai tukar.
Pelemahan Rupiah terjadi saat pasar obligasi pemerintah menghadapi tekanan. Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun naik ke sekitar 7,45% pada Senin, sementara investor asing tercatat melepas surat utang Indonesia senilai bersih US$203 juta pada 21 Oktober. Di tengah kondisi tersebut, pemerintah menggelar lelang sembilan seri SUN pada Selasa dengan target indikatif Rp30 triliun dan maksimal Rp45 triliun. Permintaan investor serta imbal hasil lelang menjadi indikator penting untuk menilai daya tarik aset berdenominasi Rupiah di tengah meningkatnya risiko pasar.
Harga Minyak Tinggi Memperbesar Risiko Fiskal Indonesia
Lonjakan harga minyak dunia kembali memicu kekhawatiran terhadap ketahanan fiskal Indonesia. Sebagai negara importir neto minyak, Indonesia mau tak mau harus menanggung risiko membengkaknya tagihan impor energi, beban subsidi, hingga dana kompensasi kepada Pertamina. Risiko tersebut muncul di tengah besarnya kebutuhan belanja pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah menyerap Rp153,2 triliun hingga September 2026. Pemerintah juga tengah mengkaji perluasan pendidikan gratis hingga perguruan tinggi negeri, yang berpotensi menambah kebutuhan anggaran apabila direalisasikan. Kombinasi tingginya harga energi dan besarnya komitmen belanja pemerintah meningkatkan tantangan menjaga defisit APBN tetap terkendali.
Di tengah meningkatnya tekanan terhadap Rupiah, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar. Gubernur BI Destry Damayanti pada Senin (26/10) menilai fluktuasi Rupiah terkini masih tergolong "volatilitas biasa" dan memastikan bank sentral tetap aktif melakukan intervensi sesuai kondisi pasar.
Dolar AS Menguat Menjelang The Fed, Risiko Pasokan Minyak Belum Mereda
Dari pasar global, harga minyak mentah masih bertahan tinggi meskipun upaya diplomasi Timur Tengah mulai menunjukkan perkembangan. Minyak Brent kembali menguat 0,6% menjadi US$116,6 per barel pada perdagangan Selasa, setelah sempat terkoreksi pada awal sesi, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 0,7% menjadi US$102,5. Pembicaraan antara Arab Saudi, Turki, Pakistan, dan Iran sempat membuka harapan meredanya konflik. Namun, serangan terbaru kelompok Houthi terhadap Arab Saudi serta gangguan pelayaran di Selat Hormuz mempertahankan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Tingginya harga minyak juga memperbesar risiko inflasi AS, yang dapat mempertahankan ekspektasi pengetatan moneter The Fed.
Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) menguat mendekati 102,20 pada perdagangan Selasa, mencapai level tertinggi dalam hampir dua pekan. The Fed secara luas diprakirakan mempertahankan suku bunga pada akhir pertemuan kebijakan Rabu (28/10), tetapi pasar semakin memperhitungkan peluang kenaikan pada Desember akibat kekhawatiran inflasi energi. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 81%. Karena itu, perhatian investor akan tertuju pada pernyataan kebijakan serta komentar Ketua The Fed Kevin Warsh, sebelum beralih ke laporan awal Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal ketiga dan Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) pada Kamis (29/10), yang berpotensi menentukan arah Dolar AS dan Rupiah selanjutnya.
USD/IDR Membidik Resistance Psikologis 18.200

Berdasarkan grafik harian ICE, USD/IDR memperkuat momentum bullish setelah menembus garis tren menurun yang terbentuk sejak Juni. Pasangan mata uang ini ditutup di level 18.145, melampaui tertinggi kemarin di 18.120. Namun, indikator Relative Strength Index (RSI) yang meningkat ke 74,19 menunjukkan kondisi jenuh beli (overbought), sehingga risiko koreksi teknis jangka pendek mulai meningkat meskipun momentum penguatan masih dominan.
Jika kenaikan berlanjut, USD/IDR berpeluang menguji resistance 18.180 (tertinggi 8 Juni), sebelum membidik level psikologis 18.200. Sebaliknya, koreksi awal dapat membawa pasangan mata uang ini kembali ke area support 18.090–18.075, disusul level psikologis 18.000. Penembusan di bawah area tersebut berpotensi membuka jalan menuju wilayah yang membasi pergerakan pekan lalu di 17.943, dengan batas bawah berikutnya di 17.860 (terendah 30 September). Selama bertahan di atas 18.000, bias pergerakan jangka pendek USD/IDR masih cenderung bullish.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Kesulitan Dekat US$4.000 di Tengah Aksi Beli USD yang Tetap Tak Surut jelang Keputusan FOMC
USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp18.145, Risiko Fiskal dan Dolar AS Menambah Tekanan jelang FOMC
Emas Diperdagangkan dengan Hati-Hati saat Kebijakan The Fed Jadi Sorotan
Pi Network tertahan saat sentimen kripto yang lemah membatasi pemulihan
Pi Network (PI) tetap stabil di atas US$0,0760 pada saat berita ini ditulis, tertahan setelah rebound sekitar 2% pada hari sebelumnya. Sentimen pasar yang lebih luas yang lemah dan volume perdagangan yang menurun membebani token PI. Prospek teknis bearish, dengan harga dibatasi di bawah garis tren resistance jangka panjang dan momentum yang lemah.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada Selasa, 27 Oktober:
Dolar AS tetap tangguh terhadap mata uang lainnya meskipun imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun tetap di bawah 5%. Kalender ekonomi AS akan menampilkan data Pesanan Barang Tahan Lama dan Penjualan Rumah Baru untuk September, bersama dengan survei manufaktur regional dan data Indeks Keyakinan Konsumen Conference Board untuk Oktober.