USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.680, Imbal Hasil AS Tembus 5% Jelang The Fed


  • Kurs Rupiah Selasa melemah 40 poin atau sekitar 0,23% ke Rp17.680 per Dolar AS dari Rp17.640 pada Senin.
  • JISDOR BI naik ke Rp17.687 dari Rp17.635, ketika imbal hasil Treasury AS 10-tahun menembus 5% dan Brent bertahan di atas US$107.
  • Pasar menunggu keputusan The Fed, sementara Gubernur BI Destry Damayanti menyoroti flight to quality dan kekuatan sektor eksternal Indonesia.

Rupiah Indonesia (IDR) kembali melemah terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Selasa, dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.680, naik dari Rp17.640 pada Senin. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) juga naik menjadi Rp17.687 dari Rp17.635. Tekanan datang dari imbal hasil Treasury AS 10-tahun yang menembus 5%, Brent yang bertahan di atas US$107 per barel, serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), yang mendorong permintaan terhadap aset Dolar AS. Dari dalam negeri, Gubernur BI Destry Damayanti menilai sektor eksternal Indonesia masih cukup solid di tengah arus masuk ke SBN dan SRBI, sementara pasar turut mencermati arah kebijakan fiskal setelah Suahasil Nazara ditunjuk sebagai Menteri Keuangan RI.

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada keputusan The Fed pada Rabu waktu AS. Kenaikan suku bunga 25 basis poin telah banyak diperhitungkan pasar, sehingga arah Dolar AS dan Rupiah berpotensi lebih ditentukan oleh sinyal mengenai jalur kebijakan berikutnya, terutama ketika harga minyak tetap tinggi dan imbal hasil Treasury AS 10-tahun berada di atas 5%.

Imbal Hasil Treasury AS Tembus 5%, Pasar Bersiap Hadapi The Fed

Imbal hasil Treasury AS 10-tahun naik hingga sekitar 5,03%, tertinggi dalam 19 tahun, sementara Indeks Dolar AS (DXY) menyentuh level tertinggi dua pekan dan kini bergerak di sekitar 99,60. Kenaikan tersebut terjadi ketika pasar semakin memperhitungkan pengetatan moneter The Fed, dengan CME FedWatch menunjukkan peluang sekitar 94% untuk kenaikan suku bunga 25 basis poin, setelah tekanan inflasi dan tingginya harga energi memperkuat ekspektasi kebijakan yang lebih ketat.

Selain itu, harga minyak yang tinggi menjadi perhatian bagi Indonesia karena dapat memengaruhi biaya impor energi, subsidi, dan prospek inflasi. Brent naik ke sekitar US$107,9 per barel dan WTI ke US$103,52 di sesi Eropa, setelah serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi serta ketidakpastian mengenai jalur pasokan di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan global. Harga minyak yang tinggi menjadi perhatian bagi Indonesia karena dapat memengaruhi biaya impor energi, subsidi, dan prospek inflasi.

Destry Soroti Flight to Quality, Suahasil Jaga Kredibilitas Fiskal

Dalam Rapat Komite IV DPD RI pada Senin, Gubernur BI Destry Damayanti telah menyoroti kombinasi ekonomi AS yang masih solid, inflasi tinggi, harga minyak di atas US$100, DXY yang kembali mendekati 100, serta imbal hasil Treasury 10-tahun yang mendekati 5%. Menurut Destry, kondisi higher for longer tersebut mendorong flight to quality ke aset Dolar AS dan memberikan tekanan kepada negara berkembang, termasuk Indonesia.

Meski tekanan global meningkat, Destry menyebut proyeksi Rupiah berada di kisaran Rp17.300–Rp17.800 per Dolar AS. Ia mengatakan Rupiah beberapa hari sebelumnya sempat berada di Rp17.500-an dan hampir menembus Rp17.400, sebelum kembali tertekan ke area Rp17.600 akibat memburuknya konflik global. BI juga menilai sektor eksternal Indonesia masih cukup solid, dengan Cadangan Devisa US$146,5 miliar, sementara arus masuk ke SBN secara tahun berjalan telah berbalik positif menjadi sekitar Rp40,8 triliun. Posisi gabungan arus masuk pada SBN dan SRBI hingga 10 September mencapai sekitar Rp212,4 triliun.

Pasar juga masih mencerna pergantian Menteri Keuangan. Suahasil Nazara, yang menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada Senin, berjanji menjaga kredibilitas APBN serta mempertahankan defisit di bawah batas legal 3% terhadap PDB. Sejumlah analis menilai latar belakang teknokrat Suahasil dapat membantu memberikan kontinuitas dan kepastian kebijakan, meski tingginya harga minyak tetap menjadi risiko bagi beban subsidi pemerintah.

Resistance Rp17.770 Membatasi Kenaikan

Pada grafik harian, USD/IDR melanjutkan kenaikannya setelah menyentuh area Rp17.500 dan kini kembali ke sekitar garis tengah Bollinger Band di Rp17.685. Relative Strength Index (RSI) naik menjadi sekitar 47,25, menunjukkan momentum penurunan sebelumnya mulai mereda, tetapi indikator ini masih berada di bawah level netral 50. Resistance terdekat terlihat di area yang sempat menahan kenaikan pada akhir Agustus hingga awal September Rp17.770, sebelum batas atas Bollinger Band di sekitar Rp17.840.

Di sisi bawah, level angka bulat Rp17.600 menjadi support awal, diikuti Rp17.500 yang menjadi titik pemantulan terbaru dan terendah 12 Mei di Rp17.410 sebagai support berikutnya. Penembusan konsisten di atas Rp17.770 dapat membawa USD/IDR kembali menguji Rp17.840, sementara kegagalan bertahan di atas Rp17.600 akan membuka peluang pengujian ulang Rp17.500.

Grafik Harian USD/IDR
Grafik Harian USD/IDR
Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas Bertahan Dekat Terendah Multi-Pekan saat Taruhan The Fed dan Geopolitik Dorong USD

Emas Bertahan Dekat Terendah Multi-Pekan saat Taruhan The Fed dan Geopolitik Dorong USD

Emas (XAU/USD) bergerak lebih rendah untuk hari kedua berturut-turut—juga menandai hari ketiga pergerakan negatif—dan diperdagangkan di sekitar wilayah US$4.265–US$4.264, turun 0,80% selama paruh pertama sesi Eropa pada hari Selasa.
USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.680, Imbal Hasil AS Tembus 5% Jelang The Fed

USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.680, Imbal Hasil AS Tembus 5% Jelang The Fed

Rupiah Indonesia (IDR) kembali melemah terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Selasa, dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.680, naik dari Rp17.640 pada Senin. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) juga naik menjadi Rp17.687 dari Rp17.635.
Delapan Alasan Mengapa The Fed Harus Menaikkan Suku Bunga

Delapan Alasan Mengapa The Fed Harus Menaikkan Suku Bunga

Pertemuan FOMC pada 15–16 September diprakirakan akan menandai titik balik dengan kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak Mei 2023.
Dogecoin Bertahan pada Support EMA karena Pemulihan Kurang Meyakinkan

Dogecoin Bertahan pada Support EMA karena Pemulihan Kurang Meyakinkan

Dogecoin (DOGE) bergerak di sekitar $0,083 pada saat berita ini ditulis pada hari Selasa setelah menemukan support di sekitar zona support utama pada hari sebelumnya. Permintaan institusional yang tenang, bersama dengan positioning derivatif yang beragam, menunjukkan minat yang memudar pada koin meme bertema anjing tersebut
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Selasa, 15 September:

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Selasa, 15 September:

Dolar AS menguat ke level tertinggi hampir dua minggu di sekitar 99,60 pada awal perdagangan Eropa karena lonjakan harga minyak mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS ke puncak baru sejak 2007. Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) AS meningkat pada bulan Agustus. Data IHK yang lebih panas menyusul pembacaan kuat pada beberapa komponen Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI) yang dirilis pada hari Kamis, memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga AS.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA