- Rupiah melemah 0,34% ke sekitar 17.725 per Dolar AS setelah sempat menyentuh level terkuat di 17.675 pada awal pekan.
- Penurunan harga minyak belum cukup mengangkat Rupiah, yang tertinggal dari mayoritas mata uang Asia.
- Arah berikutnya akan ditentukan oleh keputusan The Fed dan Bank Indonesia, serta nada kebijakan kedua bank sentral.
Rupiah kembali bergerak di atas level 17.700 pada perdagangan Rabu, menghapus sebagian penguatan yang terbentuk pada awal pekan. Pasangan mata uang USD/IDR naik 59,2 poin atau 0,34% ke sekitar 17.725 setelah sempat menyentuh terendah Senin di 17.675.
Sepanjang sesi, pasangan mata uang tersebut berfluktuasi di antara 17.682,4 dan 17.784. Rupiah sempat bertahan di dekat level pembukaan, tetapi kembali tertekan ketika permintaan terhadap Dolar AS menguat. Meski demikian, mata uang domestik masih sekitar 2,6% lebih kuat dibandingkan rekor pelemahan saat USD/IDR mendekati 18.200, menunjukkan bahwa pemulihan setelah kenaikan suku bunga BI belum sepenuhnya terhapus.
Rupiah Tertinggal dari Mayoritas Mata Uang Asia
Pergerakan Rupiah tampak lebih lemah dibandingkan sebagian besar mata uang regional. Won Korea Selatan turut terdepresiasi sekitar 0,36%, sementara Yuan Tiongkok, Rupee India, Yen Jepang, Ringgit Malaysia, Dolar Singapura, dan Baht Thailand menguat tipis terhadap Greenback.
Tekanan terhadap Rupiah bertahan meskipun harga minyak menurun. WTI melemah 0,76% ke US$75,47 per barel, sedangkan Brent turun 0,70% ke US$78,41. Penurunan tersebut mengikuti meredanya ketegangan AS-Iran setelah kedua negara menyepakati kerangka perdamaian sementara yang memperpanjang gencatan senjata. Namun, kesepakatan belum bersifat permanen, pembukaan kembali Selat Hormuz diprakirakan berlangsung bertahap, dan konflik Israel-Lebanon masih menyisakan risiko.
Pasar Menunggu Arah Kebijakan The Fed
Perhatian pasar pada Rabu malam akan tertuju pada data penjualan ritel AS. Penjualan utama diprakirakan tumbuh 0,5% secara bulanan pada Mei, sementara penjualan di luar otomotif juga diproyeksikan naik 0,5%, melambat dari 0,7% pada bulan sebelumnya.
Katalis yang lebih besar akan datang pada Kamis dini hari (Rabu waktu AS). The Fed diprakirakan mempertahankan suku bunga di 3,75%, tetapi pasar akan lebih mencermati proyeksi ekonomi, dot plot, dan konferensi pers Ketua The Fed. Sinyal bahwa suku bunga perlu dipertahankan tinggi lebih lama berpotensi menopang Dolar AS dan kembali menambah tekanan terhadap Rupiah.
Sikap BI Menjadi Penentu
Setelah keputusan The Fed, fokus akan beralih ke rapat Bank Indonesia pada Kamis siang. Konsensus memprakirakan BI kembali menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 5,75%, setelah kenaikan mendadak ke 5,50% pekan lalu. Deposit Facility diproyeksikan naik menjadi 4,75%, sedangkan Lending Facility menjadi 6,50%.
Christopher Wong, analis OCBC, menilai kenaikan suku bunga mengejutkan serta langkah stabilisasi Valas BI telah memulihkan sebagian kepercayaan terhadap Rupiah. Namun, momentum tersebut dapat melemah apabila BI terdengar kurang hawkish atau keputusan FOMC kembali memperkuat Dolar AS. Sebaliknya, nada BI yang tetap tegas, bersamaan dengan meredanya tekanan eksternal, dapat membuka ruang penurunan USD/IDR menuju support 17.620 dan 17.430-17.450. Resistance terdekat berada di sekitar 17.838 dan 17.950.
Indikator Ekonomi
Keputusan Suku Bunga The Fed
Federal Reserve (The Fed) berunding tentang kebijakan moneter dan membuat keputusan tentang suku bunga pada delapan pertemuan yang dijadwalkan sebelumnya per tahun. The Fed memiliki dua mandat: untuk menjaga inflasi pada 2%, dan untuk mempertahankan lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai hal ini adalah dengan menetapkan suku bunga – baik di mana The Fed meminjamkan ke perbankan dan perbankan saling meminjamkan. Jika The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga, Dolar AS (USD) cenderung menguat karena menarik lebih banyak arus masuk modal asing. Jika The Fed memangkas suku bunga, hal ini cenderung melemahkan USD karena modal mengalir keluar ke negara-negara yang menawarkan pengembalian yang lebih tinggi. Jika suku bunga dibiarkan tidak berubah, perhatian beralih ke nada pernyataan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC), dan apakah FOMC hawkish (mengharapkan suku bunga masa depan yang lebih tinggi), atau dovish (mengharapkan suku bunga masa depan yang lebih rendah).
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Jun 17, 2026 18.00
Frekuensi: Tidak teratur
Konsensus: 3.75%
Sebelumnya: 3.75%
Sumber: Federal Reserve
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Harga Emas Turun Tipis di Tengah Reposisi Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed
USD/IDR: Rupiah Kembali di Atas 17.700, Pasar Menanti The Fed dan BI
Pratinjau FOMC: Kevin Warsh Mengambil Alih, Ketika Kata-Kata Lebih Penting daripada Dot Plot
Harga Emas Turun Tipis di Tengah Reposisi Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Rabu, 17 Juni
Pasar mempertahankan sikap hati-hati di pagi hari Eropa pada hari Rabu karena para investor bersiap-siap untuk pengumuman kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Eurostat akan mempublikasikan revisi data inflasi Indeks Harga Konsumen Diharmonisasi (Harmonized Index of Consumer Prices/HICP) bulan Mei dan agenda ekonomi AS akan menampilkan angka Penjualan Ritel.