- Kurs Rupiah menguat 30 poin ke Rp17.685 per Dolar AS pada Jumat, secara mingguan mata uang Garuda bergerak datar.
- Penurunan harga minyak dan membaiknya sentimen terhadap aset Indonesia menopang Rupiah.
- Fokus pasar tertuju ke pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole malam ini.
Rupiah Indonesia (IDR) kembali menguat terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Jumat dan menutup pekan di Rp17.685. Pasangan mata uang USD/IDR turun 30 poin dari penutupan Kamis di Rp17.715, sementara kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) menguat ke Rp17.703 dari Rp17.762. Mata uang domestik mendapat dukungan dari penurunan harga minyak dan membaiknya sentimen terhadap aset Indonesia, meski Dolar AS yang bertahan dekat level tertinggi mingguan membatasi kenaikan lebih lanjut. Dengan posisi tersebut, Rupiah kembali ke level penutupan Jumat pekan lalu, sehingga secara mingguan bergerak relatif datar.
DBS: Sentimen terhadap Pasar Indonesia Membaik
Dari dalam negeri, DBS Group Research menilai sentimen terhadap pasar Indonesia menjadi lebih konstruktif pada Agustus, ketika kekhawatiran terhadap ketidakpastian kebijakan dan stabilitas mata uang mulai mereda. Ekonom DBS Radhika Rao menyoroti uji kelayakan calon Gubernur BI Destry Damayanti yang menekankan penggunaan instrumen moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, serta koordinasi dengan pemerintah.
“Ini menandakan pergeseran fokus bank sentral dari semata-mata kenaikan suku bunga ke langkah-langkah non-suku bunga untuk mendukung Rupiah,” kata Rao. DBS mencatat investor asing telah membukukan arus masuk hampir US$1 miliar ke surat utang Rupiah sepanjang Agustus, sementara USD/IDR turun dari level tertinggi Juli dan bergerak di kisaran 17.700–17.900.
Minyak Turun, Dolar AS Bertahan Dekat Tertinggi Mingguan
Penurunan harga minyak pada Jumat menjadi salah penopang Rupiah. Brent turun 0,67% ke US$89,10 per barel dan WTI melemah 0,77% ke US$82,89, dengan keduanya masing-masing turun sekitar 5,3% dan 4,3% sepanjang pekan, penurunan terjadi setelah arus ekspor minyak dari kawasan Teluk menunjukkan perbaikan meski ketegangan terkait Iran belum mereda. Menurut Reuters, Goldman Sachs memprakirakan total ekspor minyak dari negara-negara Teluk telah pulih menjadi sekitar 15–16 juta barel per hari, naik 5–6 juta barel per hari dari level terendah pada Maret, meski masih 7–8 juta barel di bawah level sebelum konflik.
Namun, tekanan dari pasar global belum sepenuhnya mereda. Indeks Dolar AS (DXY) masih bertahan di atas 99, dekat level tertinggi satu minggu dan menuju kenaikan sekitar 0,3% sepanjang pekan. Imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun juga bertahan di sekitar 4,68%, ketika investor menghindari posisi besar menjelang pidato Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh di Jackson Hole. Kondisi Dolar dan imbal hasil AS yang tetap tinggi membatasi ruang apresiasi mata uang Asia, termasuk Rupiah.
Fokus ke Pidato Warsh di Jackson Hole
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada pidato Kevin Warsh di simposium Jackson Hole pada pukul 21.00 WIB malam ini, yang menjadi penampilan utamanya pertama kali di forum tersebut sebagai Ketua The Fed. Investor mencari petunjuk mengenai respons bank sentral terhadap inflasi yang masih tinggi dan arah suku bunga setelah Warsh sejauh ini memberikan panduan kebijakan yang terbatas. CME FedWatch Tool menunjukkan peluang sekitar 34%, sementara peluang setidaknya satu kali kenaikan hingga akhir tahun mencapai 74%. Nada yang lebih tegas terhadap inflasi berpotensi kembali mendukung Dolar AS dan imbal hasil Treasury, sementara pesan yang lebih berhati-hati dapat mengurangi tekanan terhadap Rupiah ketika perdagangan dibuka kembali pekan depan.
Indikator Ekonomi
Pidato Ketua The Fed Warsh
Kevin Warsh menjabat sebagai ketua Dewan Gubernur Federal Reserve pada Mei 2026, untuk masa jabatan empat tahun yang berakhir pada tahun 2030. Masa jabatannya sebagai anggota Dewan Gubernur akan berakhir pada Mei 2040. Warsh, lahir di Albany (New York) pada 13 April 1970, adalah seorang ahli keuangan dan pengacara Amerika yang sebelumnya menjabat sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed dari tahun 2006 hingga 2011 dan sangat terlibat dalam respons bank sentral terhadap krisis keuangan.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Jum Agu 28, 2026 14.00
Frekuensi: Tidak teratur
Konsensus: -
Sebelumnya: -
Sumber: Federal Reserve
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Merosot di Bawah US$4.600 saat Perhatian Beralih ke Simposium Jackson Hole
USD/IDR: Rupiah Berakhir di Rp17.685, Minyak Turun Jelang Pidato Warsh
Seluruh Fokus Tertuju pada Warsh, The Fed
Reli Hyperliquid Meregang Tipis di Tengah Pertumbuhan Treasury, Dorongan Inovasi CFTC
Hyperliquid (HYPE) turun 2% pada hari Jumat setelah mencapai rekor tertinggi 86,75 pada hari sebelumnya. Hyperliquid Strategies Inc yang terdaftar di Nasdaq mengumpulkan hampir $650 Juta dalam kesepakatan ekuitas untuk meningkatkan kepemilikan HYPE-nya menjadi 29,3 juta token. Hyperliquid juga berupaya memperluas pasar berjangka abadi di AS.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada Jumat, 28 Agustus:
Aksi perdagangan di antara pasangan mata uang utama tetap bergejolak pada hari Jumat saat investor bersiap untuk pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole dan rilis revisi acuan awal Biro Statistik Tenaga Kerja AS terhadap data Nonfarm Payrolls.