USD/IDR: Rupiah Bangkit ke Rp17.980 setelah Tekanan MSCI Mereda, DXY Melemah


  • Kurs Rupiah menguat 50 poin atau 0,28% ke Rp17.980 per USD, kembali ke bawah level psikologis Rp18.000 setelah tekanan MSCI mengguncang pasar.
  • Pelemahan Dolar AS dan respons otoritas domestik membantu pemulihan, tetapi tingginya harga minyak serta risiko arus modal keluar masih membayangi Rupiah.
  • MUFG mempertahankan proyeksi kenaikan USD/IDR menuju 18.350 pada kuartal keempat 2026 dan 18.500 pada kuartal pertama 2027.

Rupiah Indonesia (IDR) bangkit terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026, dengan ditutup menguat 50 poin atau sekitar 0,28% ke Rp17.980 per USD dari Rp18.030 pada Senin. Pemulihan ini membawa Rupiah kembali ke bawah level psikologis Rp18.000 setelah ancaman penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI memicu tekanan jual besar-besaran. Langkah otoritas domestik dan melemahnya Dolar AS memberikan ruang bagi Rupiah untuk pulih, tetapi MUFG memperingatkan bahwa tingginya harga minyak serta risiko arus modal keluar masih dapat menyeret mata uang Garuda ke pelemahan lebih lanjut.

Kepanikan MSCI Mulai Mereda, Otoritas Bergerak Menahan Tekanan

Kekhawatiran investor memuncak setelah MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market langsung menjadi Standalone Market, melewati kategori Frontier Market. Ancaman tersebut mengguncang kepercayaan investor dan mendorong IHSG kehilangan sekitar 14,8% sepanjang Jumat hingga Senin, sementara Rupiah terseret melewati Rp18.000 per USD. Tekanan mulai mereda pada Selasa ketika IHSG sempat melesat lebih dari 5%, setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan rencana mengeluarkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari perhitungan indeks serta memangkas batas penurunan harga saham harian menjadi 7% dari 15%.

Namun, pemulihan pasar belum menghapus risiko yang membayangi Indonesia. MSCI menilai persoalan transparansi kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi belum menunjukkan perbaikan yang memadai. Lembaga tersebut juga mempertahankan pembekuan sejumlah perubahan indeks terkait saham Indonesia selama proses konsultasi berlangsung, dengan keputusan akhir dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027. Ketidakpastian ini berpotensi membuat investor asing tetap berhati-hati menempatkan dananya di pasar domestik, sekalipun harga saham telah mengalami koreksi tajam.

Bank Indonesia (BI) turut memperkuat upaya menjaga stabilitas Rupiah. Seusai pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto pada Senin (19/10), Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bahwa bank sentral akan terus aktif melalui intervensi pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF). Insentif biaya lindung nilai yang diterapkan sejak akhir Juni juga disebut telah menarik dana sekitar US$8–9 miliar melalui transaksi swap dan DNDF. Berbagai instrumen tersebut menjadi bagian dari upaya BI meredam gejolak nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

Dolar AS Melemah, tetapi MUFG Melihat Risiko Lebih Dalam

Dolar AS kehilangan sebagian tenaganya pada perdagangan Selasa, dengan Indeks Dolar AS (DXY) turun sekitar 0,2% ke 101,75. Pelemahan ini berlangsung ketika Euro bangkit setelah ketegangan politik di Prancis sedikit mereda, sementara Pound Sterling dan Yen Jepang turut menguat. Lloyd Chan dari MUFG mencatat bahwa tekanan terhadap Greenback sebelumnya juga dipicu pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, yang tidak memberikan sinyal kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam pertemuan IMF. Probabilitas kenaikan suku bunga pada rapat The Fed 27–28 Oktober telah menyusut dari sekitar 27% menjadi 17%. Namun, imbal hasil obligasi global yang tetap tinggi membatasi ruang pemulihan mata uang Asia.

Harga minyak yang bertahan di sekitar US$110 per barel menambah tantangan bagi Rupiah. Minyak mentah Brent menguat sekitar 0,47% ke US$110,07 per barel pada Selasa, didorong kekhawatiran terhadap pasokan energi setelah ketegangan Timur Tengah kembali meningkat. MUFG menilai lonjakan harga minyak telah menggerus neraca perdagangan Indonesia, sementara imbal hasil obligasi AS yang tinggi meningkatkan persaingan dalam menarik modal global. Kombinasi tersebut memperberat pilihan kebijakan BI antara menjaga stabilitas mata uang dan menopang perekonomian domestik.

Risiko MSCI membuat tekanan eksternal tersebut semakin pelik. Chan menilai ancaman reklasifikasi berpotensi menahan partisipasi investor asing lebih lama, sehingga pasar saham kehilangan salah satu sumber aliran modal portofolio yang dibutuhkan untuk mendukung Rupiah. "Konsultasi MSCI berisiko membuat partisipasi investor asing tetap lesu lebih lama," ujar Chan. Menurutnya, valuasi saham yang semakin murah belum cukup untuk memulihkan keyakinan investor internasional selama persoalan tata kelola, likuiditas, dan akses investasi belum ditangani secara meyakinkan.

MUFG mempertahankan proyeksi USD/IDR di 18.350 pada kuartal keempat 2026 dan 18.500 pada kuartal pertama 2027, dengan menilai kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga pada Oktober hanya akan meredakan tekanan eksternal untuk sementara. Dalam jangka pendek, perhatian pasar beralih ke keputusan suku bunga BI pada Rabu (21/10). Survei Reuters menunjukkan 15 dari 29 ekonom memprakirakan BI-Rate bertahan di 5,75%, meskipun sebagian ekonom mulai mengantisipasi kenaikan suku bunga untuk mempertahankan Rupiah. Keputusan tersebut akan menjadi ujian berikutnya bagi pemulihan mata uang Indonesia setelah gejolak MSCI.

USD/IDR: Resistance 18.000 Jadi Ujian, Momentum Bullish Masih Bertahan

Grafik Harian USD/IDR
Grafik Harian USD/IDR

Berdasarkan grafik ICE pada grafik harian, USD/IDR menunjukkan tekanan terhadap Rupiah masih membayangi, meskipun mata uang Indonesia berhasil menguat pada perdagangan Selasa. Pasangan mata uang ini masih bergerak dekat area resistance psikologis penting 18.000, yang berimpit dengan garis tren menurun dan batas atas Bollinger Band. Penembusan yang terkonfirmasi di atas area tersebut berpotensi membuka jalan menuju 18.090 (tertinggi 28 dan 30 Juli). Sementara itu, Relative Strength Index (RSI) naik ke 62,65, menunjukkan momentum bullish USD/IDR masih cukup kuat, tetapi belum memasuki wilayah overbought.

Sebaliknya, kegagalan menembus 18.000 dapat memicu koreksi USD/IDR menuju support 17.932 (tertinggi 2 Oktober), diikuti garis tengah Bollinger Band di sekitar 17.912. Jika tekanan jual berlanjut, area 17.860 (terendah 30 September) menjadi penopang berikutnya, sebelum 17.795 (terendah 23 September). Selama USD/IDR bertahan di atas 17.932, peluang pengujian kembali level psikologis 18.000 masih terbuka.




Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Emas turun karena Imbal Hasil Obligasi Kembali Menguat Menjelang Pendapatan Meta Kuartal III

Emas turun karena Imbal Hasil Obligasi Kembali Menguat Menjelang Pendapatan Meta Kuartal III

Harga Emas (XAU/USD) turun mendekati US$4.120 pada perdagangan Eropa hari Selasa . Logam mulia ini menghadapi tekanan jual di tengah pemulihan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga minyak. Imbal hasil obligasi Pemerintah AS menunjukkan tanda-tanda pemulihan, dengan hyperscaler AS dijadwalkan melaporkan pendapatan Kuartal III mereka dalam waktu dekat.
USD/IDR: Rupiah Bangkit ke Rp17.980 setelah Tekanan MSCI Mereda, DXY Melemah

USD/IDR: Rupiah Bangkit ke Rp17.980 setelah Tekanan MSCI Mereda, DXY Melemah

Rupiah Indonesia (IDR) bangkit terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026, dengan ditutup menguat 50 poin atau sekitar 0,28% ke Rp17.980 per USD dari Rp18.030 pada Senin. Pemulihan ini membawa Rupiah kembali ke bawah level psikologis Rp18.000 setelah ancaman penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI memicu tekanan jual besar-besaran.
Tiga Analis: Kegelisahan AI Retakkan Daya Tarik Safe-Haven Dolar AS, Prospek Berbeda

Tiga Analis: Kegelisahan AI Retakkan Daya Tarik Safe-Haven Dolar AS, Prospek Berbeda

Data Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) AS September yang lebih tinggi dari prakiraan, dengan inflasi inti naik 0,3% secara bulanan, seharusnya menjadi pendorong penguatan Dolar AS. Namun, Dolar AS (USD) justru gagal menguat sepanjang pekan meskipun laporan inflasi memberikan alasan untuk kenaikan.
NEAR Protocol: Koreksi ringan berlanjut meski arus masuk ETF tetap tangguh

NEAR Protocol: Koreksi ringan berlanjut meski arus masuk ETF tetap tangguh

Harga NEAR Protocol turun hampir 2% pada hari Selasa, mencerminkan penurunan 2% dari hari sebelumnya. Permintaan institusional tetap kuat, dengan Exchange Traded Fund (ETF) yang berfokus pada NEAR milik Bitwise mencatat lebih dari US$5 Juta arus masuk pada hari Senin.

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Selasa, 20 Oktober:

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Selasa, 20 Oktober:

Pound Inggris menguat terhadap mata uang-mata uang utamanya pada Selasa pagi setelah angka pasar tenaga kerja yang optimis, sementara Dolar AS kesulitan menemukan permintaan karena imbal hasil obligasi Treasury AS gagal membangun rebound hari Senin. Di kemudian hari pada sesi Eropa, data sentimen ZEW untuk Jerman dan Zona Euro akan diawasi dengan cermat oleh para pelaku pasar. Pada paruh kedua hari ini, kalender ekonomi AS akan menampilkan angka Pembangunan Perumahan Baru, Izin Mendirikan Bangunan dan Penjualan Rumah Tertunda untuk bulan September.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA