- Rupiah melemah ke 16.850-16.860, terakhir di 16.856, mengikuti penguatan dolar AS dan sikap defensif pasar global.
- Fundamental domestik tetap menopang, dengan penjualan ritel November tumbuh 6,3% (YoY), menandakan daya beli masih terjaga.
- Tekanan eksternal dominan, dipicu eskalasi geopolitik serta polemik independensi The Fed, membuat pasar menunggu konfirmasi dari data inflasi AS.
Nilai tukar rupiah membuka perdagangan awal pekan dalam tekanan, di tengah penguatan dolar AS yang kembali mengemuka seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik global dan polemik terkait independensi bank sentral AS. Pada perdagangan Senin siang, pasangan USD/IDR bergerak naik ke kisaran 16.850-16.860, dengan harga terakhir tercatat 16.856, atau menguat sekitar 0,45% secara harian, mendekati area atas pergerakan terkini.
Dari dalam negeri, sentimen fundamental justru relatif konstruktif. Penjualan ritel Indonesia (YoY) November tumbuh 6,3%, meningkat dari 4,3% pada bulan sebelumnya, menegaskan bahwa daya beli masyarakat masih terjaga. Data ini memberi bantalan bagi rupiah, menahan tekanan agar tidak berkembang menjadi pelemahan yang lebih dalam, meski arah jangka pendek tetap sangat dipengaruhi dinamika eksternal.
Tekanan global kembali mendominasi setelah Presiden AS Donald Trump memperluas retorika geopolitik, mulai dari wacana intervensi atas transisi Venezuela, sikap keras terhadap Iran, hingga eskalasi konflik Rusia-Ukraina. Di Asia, memanasnya hubungan Tiongkok-Jepang akibat pembatasan ekspor tanah jarang menambah lapisan ketidakpastian, mendorong pelaku pasar mempertahankan posisi defensif terhadap aset berisiko, termasuk mata uang emerging market.
Di sisi kebijakan moneter, perhatian pasar tertuju pada pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell terkait ancaman dakwaan pidana terhadap dirinya, yang dinilai sebagai upaya memperluas tekanan politik terhadap arah suku bunga. Powell menegaskan bahwa The Fed menetapkan kebijakan berdasarkan penilaian terbaik bagi perekonomian, bukan preferensi politik, sebuah isu yang memicu pasar menilai ulang kredibilitas dan independensi bank sentral AS.
Data ketenagakerjaan AS terbaru turut memberi sinyal bercampur. Nonfarm Payrolls (NFP) Desember hanya bertambah 50 ribu, di bawah konsensus 60 ribu, sementara tingkat pengangguran turun ke 4,4% dari 4,6%. Upah per jam meningkat 0,3% (MoM) dan 3,8% (YoY), menunjukkan tekanan upah masih bertahan. Kombinasi ini menahan ekspektasi pemangkasan suku bunga agresif dan membuat pasar menunggu konfirmasi lanjutan.
Presiden The Fed Richmond Tom Barkin menyambut penurunan tingkat pengangguran, namun menilai pertumbuhan tenaga kerja masih moderat dan sempit, terutama terkonsentrasi di sektor kesehatan dan AI. Ia menilai permintaan ekonomi tetap sehat, sementara proses penurunan inflasi membutuhkan waktu, sehingga data ekonomi ke depan tetap menjadi penentu utama arah kebijakan.
Dengan minimnya rilis data penting dari AS pada awal pekan, pergerakan rupiah diprakirakan masih akan sensitif terhadap perkembangan geopolitik global, komentar pejabat The Fed, serta isu independensi bank sentral AS. Fokus pasar kini mulai beralih ke rilis inflasi AS dalam beberapa hari ke depan, yang akan sangat menentukan arah lanjutan dolar AS dan ruang gerak rupiah selanjutnya.
Pertanyaan Umum Seputar The Fed
Kebijakan moneter di AS dibentuk oleh Federal Reserve (The Fed). The Fed memiliki dua mandat: mencapai stabilitas harga dan mendorong lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menyesuaikan suku bunga. Ketika harga naik terlalu cepat dan inflasi berada di atas target The Fed sebesar 2%, Bank sentral ini menaikkan suku bunga, meningkatkan biaya pinjaman di seluruh perekonomian. Hal ini menghasilkan Dolar AS (USD) yang lebih kuat karena menjadikan AS tempat yang lebih menarik bagi para investor internasional untuk menyimpan uang mereka. Ketika inflasi turun di bawah 2% atau Tingkat Pengangguran terlalu tinggi, The Fed dapat menurunkan suku bunga untuk mendorong pinjaman, yang membebani Greenback.
Federal Reserve (The Fed) mengadakan delapan pertemuan kebijakan setahun, di mana Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) menilai kondisi ekonomi dan membuat keputusan kebijakan moneter. FOMC dihadiri oleh dua belas pejabat The Fed – tujuh anggota Dewan Gubernur, presiden Federal Reserve Bank of New York, dan empat dari sebelas presiden Reserve Bank regional yang tersisa, yang menjabat selama satu tahun secara bergilir.
Dalam situasi ekstrem, Federal Reserve dapat menggunakan kebijakan yang disebut Pelonggaran Kuantitatif (QE). QE adalah proses yang dilakukan The Fed untuk meningkatkan aliran kredit secara substansial dalam sistem keuangan yang macet. Ini adalah langkah kebijakan non-standar yang digunakan selama krisis atau ketika inflasi sangat rendah. Ini adalah senjata pilihan The Fed selama Krisis Keuangan Besar pada tahun 2008. Hal ini melibatkan The Fed yang mencetak lebih banyak Dolar dan menggunakannya untuk membeli obligasi berperingkat tinggi dari lembaga keuangan. QE biasanya melemahkan Dolar AS.
Pengetatan kuantitatif (QT) adalah proses kebalikan dari QE, di mana Federal Reserve berhenti membeli obligasi dari lembaga keuangan dan tidak menginvestasikan kembali pokok dari obligasi yang dimilikinya yang jatuh tempo, untuk membeli obligasi baru. Hal ini biasanya berdampak positif terhadap nilai Dolar AS.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Merosot dari Rekor Tertinggi; Bias Bullish Utuh di Tengah Risiko Geopolitik dan Kekhawatiran The Fed
Rupiah Tertekan Awal Pekan, Pasar Berhati-hati di Tengah Geopolitik dan Isu The Fed
Nilai tukar rupiah membuka perdagangan awal pekan dalam tekanan, di tengah penguatan dolar AS yang kembali mengemuka seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik global dan polemik terkait independensi bank sentral AS.
Prakiraan Harga Emas: XAU/USD Kembali Mencatatkan Rekor di Tengah Kekhawatiran Geopolitik dan The Fed
Emas sedang mempertahankan pullback aksi profit-taking dari rekor tertinggi baru sedikit di atas $4.600 pada hari Senin, memulai minggu dengan semangat, berkat meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran yang semakin intens terhadap independensi Federal Reserve AS (The Fed), yang keduanya menciptakan lingkungan risk-off penuh.
Solana Pemulihan di Tengah Arus Masuk ETF yang Stabil, Hackathon Berfokus pada Privasi
Solana naik tipis sebesar 2% pada saat berita ini ditulis pada hari Senin, menambahkan kenaikan hampir 3% dari hari Minggu. Aliran masuk yang stabil ke dalam Exchange Traded Funds (ETF) berbasis SOL Spot AS mencerminkan dukungan institusional yang lebih dalam untuk Solana.
Berikut adalah yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 12 Januari:
Dolar AS memulai koreksi dari level tertinggi bulanan terhadap mata uang utama lainnya pada hari Senin, tertekan oleh ancaman baru terhadap independensi Federal Reserve AS, meskipun taruhan untuk penurunan suku bunga tahun ini mulai surut.