- Rupiah merosot ke 16.784,4, tetap tertekan meski indeks dolar AS turun ke 96,09.
- Sorotan MSCI dan penurunan peringkat oleh Goldman Sachs memicu kekhawatiran arus keluar dana dan menekan sentimen domestik.
- Tekanan global dan domestik berlapis, dari pelemahan IHSG hingga ketidakpastian global, menahan minat risiko terhadap aset rupiah.
Kurs rupiah hari Kamis bergerak melemah, dengan USD/IDR naik ke 16.784,4 atau +0,44%, seiring tekanan eksternal yang masih terasa meski dolar AS justru cenderung melemah. Indeks dolar AS (DXY) tercatat turun ke 96,09 atau -0,25%, namun koreksi global dolar tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi penguatan rupiah, di tengah kehati-hatian investor yang masih menimbang risiko domestik, termasuk sorotan terhadap pasar Indonesia terkait isu MSCI.
Dalam konteks yang lebih luas, posisi rupiah saat ini masih berada di bagian atas rentang 52-minggu 16.085,0-16.987,5, mencerminkan sikap pasar yang cenderung menahan langkah. Investor tampak belum menemukan katalis yang cukup kuat untuk mengubah arah secara tegas, baik dari sisi domestik maupun global, sehingga pergerakan nilai tukar tetap dibayangi sentimen kehati-hatian.
IHSG Ambruk dalam Dua Hari, Sorotan MSCI dan Risiko Arus Modal Kian Menekan Rupiah
Tekanan terhadap rupiah turut diperkuat oleh pelemahan tajam pasar saham domestik. IHSG ambruk dalam dua hari beruntun di tengah kekhawatiran potensi market downgrade oleh MSCI serta meningkatnya persepsi risiko investasi Indonesia. Kondisi ini mendorong proksi risiko di pasar valuta asing, memicu pergeseran arus dana keluar dari aset berdenominasi rupiah dan menambah tekanan nilai tukar pada perdagangan hari ini.
Menurut Reuters, MSCI membekukan pembaruan entri Indonesia dalam produknya sambil berkoordinasi dengan otoritas terkait apa yang disebut sebagai “risiko investasi”, menyangkut kejelasan kepemilikan saham, perdagangan, dan pembentukan harga. Dalam laporan yang sama, Goldman Sachs menurunkan peringkat saham Indonesia dan memprakirakan potensi arus keluar dana sebesar USD 2,2 miliar hingga USD 7,8 miliar jika status pasar Indonesia diturunkan – meski skenario tersebut dinilai tidak mungkin terjadi.
Reuters juga mengutip data LSEG yang menunjukkan investor asing mencatat penjualan bersih saham Indonesia sebesar Rp13,96 triliun sepanjang 2025, terburuk sejak 2020, dengan tekanan jual berlanjut pada Januari, di tengah lemahnya konsumsi domestik, perlambatan kredit, serta defisit fiskal yang mendekati batas legal 3% dari PDB.
Tekanan Global Berlapis: Perlambatan Eropa, Geopolitik, dan Sikap The Fed Menahan Minat Risiko Rupiah
Dari eksternal, sentimen global kembali tertekan setelah Jerman memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini dan tahun depan, menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa dampak kenaikan tarif AS sejak tahun lalu masih membebani prospek ekonomi dunia. Ketegangan geopolitik juga meningkat setelah Donald Trump memperingatkan Iran agar kembali melakukan perundingan terkait nuklir, yang dibalas Teheran dengan ancaman serangan terhadap AS, Israel, dan sekutunya. Hal ini dapat menjadi salah satu alasan yang turut menahan minat risiko di pasar negara berkembang.
Sementara itu, dari sisi kebijakan moneter, Federal Reserve mempertahankan suku bunga tidak berubah, sesuai ekspektasi, meski dua pejabatnya menentang opsi pemangkasan 25 basis poin. Ketua Jerome Powell menegaskan inflasi masih jauh di atas target 2%, sementara reaksi pasar relatif tenang di tengah kekhawatiran terhadap independensi The Fed, menyusul penyelidikan kriminal terhadap Powell dan upaya memecat Gubernur Lisa Cook. Pedagang menilai The Fed akan mempertahankan kebijakan setidaknya hingga akhir kuartal ini, dengan ekspektasi dua kali pemangkasan suku bunga pada 2026 – sebuah prospek yang membatasi pemulihan dolar AS dari posisi terendah hampir empat tahun, namun belum cukup memberi ruang bagi rupiah untuk berbalik menguat.
Di sisi politik AS, menurut New York Times, Presiden Trump dan Senator Demokrat Chuck Schumer tengah menjajaki kesepakatan untuk merundingkan pembatasan baru terhadap agen imigrasi federal. Senat disebut berencana memisahkan pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) ke dalam undang-undang tersendiri agar sebagian besar operasional pemerintah tetap berjalan, meski langkah ini menghadapi penolakan dari sejumlah anggota DPR konservatif – menambah lapisan ketidakpastian yang ikut membentuk sentimen global terhadap aset-aset berisiko, termasuk rupiah.
Pasar Menanti Rilis Data AS Malam Ini, Arah Dolar dan Rupiah Jadi Sorotan
Pergerakan rupiah selanjutnya akan bergantung pada rilis data AS malam ini, termasuk klaim pengangguran mingguan, inflasi PCE inti, serta data belanja dan pendapatan personal. Data tersebut akan menjadi acuan pasar dalam menilai kekuatan ekonomi AS dan arah tekanan inflasi, yang pada gilirannya dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan Federal Reserve dan pergerakan dolar AS secara global.
Indikator Ekonomi
Klaim Tunjangan Pengangguran Awal
Klaim Tunjangan Pengangguran Awal yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS merupakan ukuran jumlah orang yang mengajukan klaim pertama kali untuk asuransi pengangguran negara. Angka yang lebih besar dari prakiraan mengindikasikan kelemahan di pasar tenaga kerja AS, berdampak negatif pada ekonomi AS, dan berdampak negatif terhadap Dolar AS (USD). Di sisi lain, angka yang menurun harus dianggap sebagai hal yang positif bagi USD.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Kam Jan 29, 2026 13.30
Frekuensi: Mingguan
Konsensus: 205Rb
Sebelumnya: 200Rb
Sumber: US Department of Labor
Setiap Kamis, Departemen Tenaga Kerja AS menerbitkan jumlah klaim awal minggu sebelumnya untuk tunjangan pengangguran di AS. Karena pembacaan ini bisa sangat fluktuatif, investor dapat lebih memperhatikan rata-rata empat minggu. Tren turun dipandang sebagai tanda pasar tenaga kerja yang membaik dan dapat berdampak positif pada kinerja USD terhadap para pesaingnya dan sebaliknya.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Tetap Kuat Dekat Puncak Sepanjang Masa, $5.600 Masih dalam Jangkauan
Emas (XAU/USD) mempertahankan nada permintaan yang kuat di dekat puncak sepanjang masa melalui awal sesi Eropa pada hari Kamis, mengincar level $5.600 di tengah latar belakang fundamental yang mendukung.
Valas Hari Ini: Emas, Perak Lanjutkan Rally yang Menggila, Pemulihan USD Terhambat
Prakiraan EUR/USD: Euro Berkonsolidasi Dekat dengan Dolar AS yang Dalam Ketegangan
Euro mencatat kenaikan moderat pada hari Kamis, diperdagangkan beberapa poin di bawah garis 1,2000 pada saat berita ini ditulis, setelah memantul dari terendah dekat 1,1900 pada hari Rabu. "Hawkish hold" oleh Federal Reserve (The Fed) dan komentar dari Menteri Keuangan AS Scott Bessent memberikan be
Momentum bearish Dash semakin kuat saat level $50 mulai terlihat
Dash menghadapi angin kencang yang intens, mencatat penurunan 3% pada waktu pers di hari Kamis dan memperpanjang penurunan lebih luas selama dua minggu yang menempatkan Exponential Moving Average (EMA) 50 hari di $55,93 ke sorotan.
Berikut adalah yang perlu Anda ketahui pada hari Kamis, 29 Januari
Pemulihan Dolar AS (USD) yang luas semalam terhambat menjelang pembukaan pasar Eropa karena kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve AS (Fed) dan risiko ekonomi serta geopolitik yang mengintai membayangi keputusan hold yang hati-hati oleh bank sentral AS.