- Kurs Rupiah ditutup melemah 65 poin atau 0,36% ke sekitar Rp18.000 per Dolar AS pada perdagangan Senin.
- Pengunduran diri Perry Warjiyo menambah ketidakpastian mengenai arah kebijakan dan independensi BI, meski Destry Damayanti menjanjikan kesinambungan.
- Koreksi harga minyak memberi sedikit penyangga bagi Rupiah, sementara perhatian pasar beralih ke data AS dan keputusan suku bunga The Fed.
Rupiah Indonesia (IDR) ditutup di sekitar Rp18.000 per Dolar AS (USD) pada awal pekan, melanjutkan pelemahan Jumat. Tekanan terhadap mata uang Garuda meningkat setelah Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengundurkan diri secara mengejutkan, meski penurunan harga minyak dan jeda serangan antara AS dan Iran memberikan sentimen eksternal yang lebih positif. Pasar juga bersiap menghadapi rangkaian agenda AS, termasuk keputusan Federal Reserve serta data pertumbuhan dan inflasi.
Posisi tersebut menunjukkan pelemahan Rupiah sebesar 65 poin atau sekitar 0,36% dari penutupan Jumat di Rp17.935. Usai pasar antarbank domestik ditutup, pasangan mata uang USD/IDR di pasar offshore bergerak naik ke Rp18.016, bertambah 81 poin atau 0,45% dari penutupan sebelumnya. Sementara itu, JISDOR Senin ditetapkan di Rp17.995.
Pergantian Kepemimpinan BI Menambah Ketidakpastian
Pemerintah resmi menerima pengunduran diri Perry dengan alasan pribadi, sedangkan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti ditunjuk untuk sementara menjalankan tugas gubernur. Presiden belum mengajukan calon pengganti permanen kepada DPR. Destry menegaskan BI akan menjaga kesinambungan pelaksanaan tugas serta stabilitas Rupiah dan sistem keuangan, tetapi pasar masih menilai transisi tersebut dapat meningkatkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter dan independensi bank sentral.
Dari sisi kebijakan, UOB Global Economics & Markets Research menilai BI mempertahankan BI-Rate di 5,75% pada Juli untuk memberikan waktu bagi pengetatan kumulatif 100 basis poin pada Mei–Juni agar ditransmisikan sepenuhnya ke perekonomian riil. UOB masih memprakirakan tiga kenaikan lanjutan masing-masing 25 basis poin hingga akhir 2026—dua pada kuartal ketiga dan satu pada kuartal keempat—yang akan membawa suku bunga ke level terminal 6,50%. Proyeksi itu didasarkan pada risiko terhadap Rupiah, ketidakpastian arah kebijakan The Fed, serta potensi kenaikan inflasi global akibat tingginya harga energi.
Minyak Turun, tetapi Risiko Pasokan Belum Hilang
AS dan Iran menahan serangan selama akhir pekan untuk memberi ruang bagi diplomasi, mendorong Brent dan WTI turun lebih dari 6% pada perdagangan Asia. Namun, Charlie Lay dari Commerzbank menilai risiko pasokan belum sepenuhnya mereda karena ketegangan di Teluk Persia dan ancaman terhadap pelayaran melalui Bab al-Mandab masih dapat mengganggu jalur ekspor Arab Saudi. Bagi Indonesia sebagai importir bersih minyak, kenaikan kembali harga energi dapat menambah kebutuhan valuta asing, tekanan inflasi, defisit perdagangan migas, serta beban subsidi dan kompensasi.
Pasar Menanti The Fed dan Data AS
Perhatian pasar malam ini tertuju pada Pesanan Barang Tahan Lama AS bulan Juni, terutama pesanan di luar transportasi dan barang modal nonpertahanan di luar pesawat. Fokus kemudian beralih ke keputusan The Fed pada Rabu, ketika suku bunga diprakirakan tetap di 3,50%–3,75%, disusul estimasi awal PDB AS Kuartal II dan Indeks Harga PCE Inti Juni pada Kamis. Rangkaian data dan komunikasi The Fed tersebut berpotensi menentukan arah Dolar AS dan USD/IDR menjelang akhir pekan.
Indikator Ekonomi
Pesanan Barang Tahan Lama
Pesanan Barang Tahan Lama yang dirilis oleh Biro Sensus AS, mengukur biaya pesanan yang diterima oleh produsen untuk barang tahan lama, yang berarti barang direncanakan akan bertahan selama tiga tahun atau lebih, seperti kendaraan bermotor dan peralatan. Sebagaimana produk-produk tahan lama sering melibatkan investasi yang besar mereka peka terhadap situasi ekonomi AS. Angka akhir menunjukkan keadaan kegiatan produksi AS. Secara umum, pembacaan tinggi bullish untuk USD.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Sen Jul 27, 2026 12.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 1.6%
Sebelumnya: -4.5%
Sumber: US Census Bureau
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Pertahankan Kenaikan saat Turunnya Minyak Redakan Kekhawatiran terhadap Inflasi
Rupiah Melemah ke Rp18.000, USD/IDR Naik setelah Perry Warjiyo Mundur
Bukan Hormuz Maupun Minyak di $120: Mengapa Imbal Hasil Obligasi Jepang adalah Ancaman Pasar yang Sesungguhnya
Prakiraan Harga Bitcoin: BTC Bertahan di Atas Support Utama di Tengah Arus Masuk ETF, Jeda Pengeboman AS-Iran