- Rupiah ditutup menguat tipis ke sekitar 18.080 per Dolar AS ketika DXY terkoreksi setelah naik dua hari berturut-turut.
- S&P mempertahankan rating kredit Indonesia di BBB/A-2 dengan outlook stabil, sementara BI melihat Rupiah masih memiliki ruang untuk menguat.
- Kenaikan harga minyak dan prospek suku bunga The Fed tetap menjadi faktor eksternal yang dicermati menjelang rilis data inflasi AS.
Nilai tukar Rupiah ditutup menguat tipis di 18.080 per Dolar AS pada sesi perdagangan domestik Selasa ketika Dolar AS terkoreksi setelah naik dua hari berturut-turut, sementara afirmasi rating Indonesia oleh S&P menjadi salah satu perkembangan domestik yang turut dicermati pasar.
Namun, kenaikan harga minyak di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran serta menguatnya kembali ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih membayangi pergerakan mata uang Garuda.
Di pasar offshore, USD/IDR bergerak di sekitar 18.086 sore ini, turun 19 poin atau 0,10% dari penutupan Senin di 18.105. Pasangan mata uang ini dibuka di 18.066 dan sempat menyentuh 18.105, masih di bawah tertinggi Senin di 18.140.
Dari sisi Dolar AS, greenback kehilangan sebagian momentumnya pada perdagangan Selasa di awal sesi Eropa setelah menguat selama dua hari berturut-turut. Indeks Dolar AS (DXY) turun 0,12% ke sekitar 101,15 dari pembukaan 101,28, setelah sempat menyentuh 101,32 pada awal perdagangan.
S&P Pertahankan Rating Indonesia di BBB/A-2
Sementara itu, menanggapi peringkat kredit Indonesia, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai afirmasi S&P pada level BBB/A-2 dengan outlook stabil menunjukkan bahwa kepercayaan internasional terhadap stabilitas makroekonomi dan prospek pertumbuhan Indonesia tetap terjaga.
“Afirmasi S&P [...] mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan pemangku kepentingan internasional terhadap stabilitas makroekonomi,” kata Perry.
Dipertahankannya status investment grade dapat menjadi sentimen positif dari sisi persepsi risiko dan kepercayaan investor terhadap aset Indonesia. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti juga mengatakan kepada Reuters bahwa Rupiah masih berpeluang menguat lebih lanjut, didukung oleh membaiknya kepercayaan investor.
Minyak Naik, Pasar Menunggu Inflasi AS
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor eksternal yang dicermati Rupiah. WTI naik 3,02% ke USD80,50 per barel pada perdagangan Selasa, sementara Brent menguat 3,34% ke USD86,08, seiring pemberlakuan kembali blokade laut AS terhadap pengiriman Iran dan merosotnya arus kapal melalui Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump juga mengatakan Washington akan mengenakan pungutan 20% atas kargo yang melintasi jalur tersebut untuk menutup biaya keamanan.
Perhatian pasar berikutnya tertuju pada data inflasi AS, kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh di Kongres,cserta pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS. IHK Juni diprakirakan melambat menjadi 3,8% secara tahunan dari 4,2%, inflasi inti diprakirakan stabil di 2,9%, menurut kalender ekonomi FXStreet.
Menjelang rilis tersebut, Gubernur The Fed Christopher Waller pada Senin mengatakan bank sentral AS dapat mempertimbangkan pengetatan kebijakan dalam waktu dekat apabila inflasi inti kembali mencatatkan angka tinggi. Menurutnya, The Fed perlu melihat beberapa bulan data inflasi yang lebih rendah sebelum yakin bahwa tekanan harga kembali bergerak menuju target 2%.
“Ke depan, saya memprakirakan inflasi utama akan melambat seiring penurunan harga minyak, dimulai dari data inflasi yang akan dirilis pekan ini,” kata Waller dalam pidatonya di New York Association for Business Economics.
Indikator Ekonomi
Indeks Harga Konsumen (Thn/Thn)
Kecenderungan inflasi atau deflasi diukur dengan menjumlahkan harga sekeranjang barang dan jasa secara berkala dan menyajikan datanya sebagai Indeks Harga Konsumen (IHK). Data IHK dikumpulkan setiap bulan dan dirilis oleh Departemen Statistik Tenaga Kerja AS. Laporan bulanan ini membandingkan harga barang-barang pada bulan referensi dengan bulan sebelumnya. IHK Tidak termasuk Makanan & Energi tidak menyertakan komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif untuk memberikan pengukuran tekanan harga yang lebih akurat. Secara umum, angka yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sedangkan angka yang rendah dianggap sebagai bearish.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Sel Jul 14, 2026 12.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 3.8%
Sebelumnya: 4.2%
Sumber: US Bureau of Labor Statistics
Federal Reserve AS (The Fed) memiliki mandat ganda untuk menjaga stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum. Menurut mandat tersebut, inflasi seharusnya berada di sekitar 2% YoY dan telah menjadi pilar terlemah dari arahan bank sentral sejak dunia mengalami pandemi, yang berlanjut hingga saat ini. Tekanan harga terus meningkat di tengah masalah rantai pasokan dan kemacetan, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) bertahan di level tertinggi multi-dekade. The Fed telah mengambil langkah-langkah untuk mengekang inflasi dan diprakirakan akan mempertahankan sikap agresif di masa mendatang.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Data IHK AS Diprakirakan Menunjukkan Inflasi Melambat pada Juni akibat Anjloknya Harga Bahan Bakar
Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke 18.080 saat Dolar AS Terkoreksi jelang IHK AS
Kembali ke Level Tekanan
Altcoin Utama: XRP, ADA dan SOL tetap rentan seiring genggaman bearish yang menguat
Altcoin-altcoin utama di pasar kripto, seperti Ripple, Cardano, dan Solana, diperdagangkan di zona merah pada hari Selasa, memperpanjang penurunan mereka sebesar 2% hingga 3% dari hari sebelumnya. Prospek teknis untuk XRP, ADA, dan SOL menunjukkan kecenderungan bearish jangka pendek, dengan harga bergerak di bawah EMA 50 hari masing-masing.
Inflasi AS Diprakirakan Mereda dari Level Tertinggi Tiga Tahun yang Ditetapkan pada Bulan Mei
Laporan diprakirakan akan menunjukkan penurunan inflasi konsumen, didorong oleh meredanya harga Minyak Mentah menyusul pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Para ahli kami akan menganalisis reaksi pasar terhadap peristiwa tersebut hari ini pada pukul 12:00 GMT (19:00 WIB)