- Rupiah ditutup menguat tipis ke sekitar Rp17.875 pasca Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 5,75%.
- Setelah perdagangan domestik berakhir, USD/IDR berbalik naik ke atas Rp17.900 di pasar offshore.
- Keputusan BI yang lebih lunak dari ekspektasi dan risiko geopolitik tetap membatasi penguatan mata uang Garuda.
Rupiah ditutup menguat tipis di sekitar Rp17.875 per Dolar AS pada perdagangan domestik Rabu setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya. Dibandingkan kisaran penutupan Selasa di Rp17.880-Rp17.885, pasangan mata uang USD/IDR turun sekitar 5-10 poin atau 0,03%-0,06%.
Namun, penguatan tersebut tidak berlanjut setelah pasar domestik ditutup. USD/IDR berbalik naik ke sekitar Rp17.909 di pasar offshore, menguat 34 poin dari posisi penutupan domestik dan 24-29 poin atau sekitar 0,13%-0,16% dibandingkan penutupan Selasa.
Pergerakan Rupiah pada sesi perdagangan domestik berlangsung ketika Indeks Dolar AS terkoreksi dari level tertinggi pekan ini. Namun, kenaikan USD/IDR di pasar offshore menunjukkan respons terhadap keputusan BI dan perkembangan eksternal masih berfluktuasi.
BI Jeda setelah Pengetatan 100 Basis Poin
Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% dalam RDG 21–22 Juli, berbeda dari ekspektasi mayoritas pasar terhadap kenaikan 25 basis poin menjadi 6,00%. Suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility juga dipertahankan masing-masing di 4,75% dan 6,50%. Keputusan tersebut menghentikan sementara rangkaian pengetatan setelah BI menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei.
Di sisi makroprudensial, nilai insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial yang diterima perbankan mencapai Rp431,9 triliun hingga pekan pertama Juli. Pertumbuhan kredit meningkat menjadi 12,67% secara tahunan pada Juni dari 11,51% pada Mei, terutama ditopang kredit investasi yang melonjak 24,90%. BI tetap memprakirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 sebesar 8%–12%, didukung DPK yang tumbuh 10,21% dan fasilitas pinjaman yang belum digunakan senilai Rp2.490 triliun.
Dolar Pullback, tetapi Konflik Menahan Pelemahan
Indeks Dolar AS bergerak lebih rendah di atas 101 pada awal sesi Eropa setelah sebelumnya mencapai level tertinggi pekan ini di 101,21. Penguatan empat sesi sebelumnya ditopang permintaan aset safe haven, harga energi yang tinggi, dan imbal hasil Treasury yang masih menarik. Sementara itu, estimasi awal ADP menunjukkan perusahaan swasta AS menambah rata-rata 16.500 pekerjaan per pekan dalam empat minggu hingga 4 Juli, turun dari 19.250 dan menandai perlambatan perekrutan selama empat pekan berturut-turut.
Risiko geopolitik kembali meningkat setelah AS melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ke-11 berturut-turut, sementara Teheran mengeklaim membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Jalur diplomasi tetap terbuka setelah Iran menerima proposal gencatan senjata selama 10 hari, tetapi belum ada kesepakatan. Risiko gangguan pasokan turut mengangkat Brent ke sekitar USD93,98 dan WTI ke USD87,38 per barel, mempertahankan tekanan biaya impor energi bagi Indonesia.
Moody’s Menyoroti Tekanan Fiskal
Moody’s menilai keseimbangan risiko kredit Indonesia sedikit lebih negatif dibandingkan saat prospek peringkat diturunkan pada Februari, terutama karena kenaikan subsidi energi menambah tekanan fiskal. Realisasi APBN Semester I masih menunjukkan defisit terkendali sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76% terhadap PDB, dengan pendapatan negara tumbuh 21,4% secara tahunan, meski subsidi dan kompensasi melonjak 44,4% menjadi Rp233 triliun. Lembaga tersebut mengakui penyesuaian anggaran program Makan Bergizi Gratis dan rencana penghematan tambahan, tetapi mengingatkan bahwa ekspansi fiskal tanpa perluasan basis penerimaan dapat menekan profil kredit Indonesia.
Perhatian pasar selanjutnya beralih ke Klaim Tunjangan Pengangguran Awal AS pada Kamis, disusul PMI pendahuluan S&P Global menjelang akhir pekan.
Pertanyaan Umum Seputar Bank-Bank Sentral
Bank Sentral memiliki mandat utama yaitu memastikan adanya stabilitas harga di suatu negara atau kawasan. Perekonomian terus-menerus menghadapi inflasi atau deflasi ketika harga barang dan jasa tertentu berfluktuasi. Kenaikan harga yang terus-menerus untuk barang yang sama berarti inflasi, penurunan harga yang terus-menerus untuk barang yang sama berarti deflasi. Tugas bank sentral adalah menjaga permintaan tetap sesuai dengan mengubah suku bunga kebijakannya. Bagi bank sentral terbesar seperti Federal Reserve AS (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB) atau Bank of England (BoE), mandatnya adalah menjaga inflasi mendekati 2%.
Bank sentral memiliki satu alat penting yang dapat digunakan untuk menaikkan atau menurunkan inflasi, yaitu dengan mengubah suku bunga acuannya, yang umumnya dikenal sebagai suku bunga. Pada saat-saat yang telah dikomunikasikan sebelumnya, bank sentral akan mengeluarkan pernyataan dengan suku bunga acuannya dan memberikan alasan tambahan terkait mengapa bank ini mempertahankan atau mengubahnya (memotong atau menaikkan). Bank-bank lokal akan menyesuaikan suku bunga tabungan dan pinjaman mereka, yang pada gilirannya akan mempersulit atau mempermudah orang untuk mendapatkan penghasilan dari tabungan mereka atau bagi perusahaan-perusahaan untuk mengambil pinjaman dan melakukan investasi dalam bisnis mereka. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga secara substansial, hal ini disebut pengetatan moneter. Ketika memotong suku bunga acuannya, maka disebut pelonggaran moneter.
Bank sentral sering kali independen secara politik. Anggota dewan kebijakan bank sentral melewati serangkaian panel dan sidang sebelum diangkat ke kursi dewan kebijakan. Setiap anggota di dewan tersebut sering kali memiliki keyakinan tertentu tentang bagaimana bank sentral harus mengendalikan inflasi dan kebijakan moneter berikutnya. Anggota yang menginginkan kebijakan moneter yang sangat longgar, dengan suku bunga rendah dan pinjaman murah, untuk meningkatkan ekonomi secara substansial semantara merasa puas melihat inflasi sedikit di atas 2%, disebut 'dove'. Anggota yang lebih suka melihat suku bunga yang lebih tinggi untuk menghargai tabungan dan ingin menjaga inflasi tetap rendah setiap saat disebut 'hawk' dan tidak akan beristirahat sampai inflasi mencapai atau sedikit di bawah 2%.
Biasanya, ada ketua atau presiden yang memimpin setiap rapat, perlu menciptakan konsensus antara pihak yang mendukung atau menentang kebijakan moneter dan memiliki keputusan akhir ketika keputusan harus diambil berdasarkan suara yang terbagi untuk menghindari hasil seri 50-50 mengenai apakah kebijakan saat ini harus disesuaikan. Ketua akan menyampaikan pidato yang sering kali dapat diikuti secara langsung, di mana sikap dan prospek moneter saat ini dikomunikasikan. Bank sentral akan mencoba untuk mendorong kebijakan moneternya tanpa memicu perubahan tajam pada suku bunga, ekuitas, atau mata uangnya. Semua anggota bank sentral akan mengarahkan sikap mereka ke pasar sebelum acara rapat kebijakan. Beberapa hari sebelum rapat kebijakan berlangsung hingga kebijakan baru dikomunikasikan, anggota dilarang berbicara di depan umum. Hal ini disebut periode blackout.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Pertahankan Penguatan Dekat Puncak Dua Pekan, Pembeli Dolar AS Absen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.875 usai BI-Rate Ditahan, USD/IDR Berbalik Naik ke Rp17.909 di Pasar Offshore
Prakiraan Harga Emas: 3 Skenario yang Dapat Menentukan Sisa Tahun 2026
Cardano: Pemulihan jangka pendek kurang didukung oleh ritel
Harga Cardano bergerak lebih rendah setelah Exponential Moving Average (EMA) 50 hari di $1,770 membatasi dua hari pemulihan berturut-turut yang terlihat awal pekan ini. Kontrak berjangka ADA menunjukkan penurunan minat ritel karena Open Interest dan volume perdagangan menurun di tengah likuidasi posisi beli yang tinggi. Prospek teknis untuk ADA bearish, karena momentum tetap lemah di bawah resistance garis tren di sekitar $0,1782.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Rabu, 22 Juli
Pasar tetap waspada di pertengahan minggu seiring ketegangan di Timur Tengah yang semakin meningkat, dengan Amerika Serikat dan Iran terus saling melancarkan serangan. Kalender ekonomi tidak akan menawarkan rilis data berdampak tinggi pada hari Rabu, memungkinkan para investor tetap fokus pada berita utama seputar geopolitik.