- IHSG ditutup turun 0,37% ke 6.501 setelah bergerak di kisaran 6.474–6.551 pada perdagangan Senin.
- Sektor properti, kesehatan, dan perbankan menekan indeks, sementara sektor bahan baku menguat 1,38%.
- Mayoritas bursa Asia berakhir melemah, sedangkan perhatian pasar berikutnya tertuju pada rebalancing FTSE dan MSCI serta agenda ekonomi AS.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada perdagangan Senin, ditutup turun 0,37% atau 24 poin ke 6.501 setelah sempat menguat hingga 6.551 pada awal sesi dan menyentuh level terendah 6.474, menjelang libur Bursa pada Selasa untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tekanan terutama datang dari saham properti, kesehatan, dan perbankan, sementara sektor bahan baku membantu membatasi penurunan. IHSG melemah ketika mayoritas bursa Asia bergerak negatif, sedangkan dari dalam negeri, pelebaran defisit transaksi berjalan serta perubahan komposisi indeks FTSE Russell dan MSCI masih menjadi perhatian pasar.
Properti dan Kesehatan Menekan, Bahan Baku Menguat
Tekanan terlihat pada sejumlah kelompok saham. IDXPROPERT turun 1,67% ke 824, IDXHEALTH melemah 1,59% ke 1.503, dan INFOBANK15 terkoreksi 1,00% ke 853. Sebaliknya, IDXBASIC naik 1,38% ke 1.832, JII bertambah 0,63% ke 394, dan IDXMESBUMN menguat 0,77% ke 77. Nilai perdagangan saham tercatat sekitar Rp14,27 triliun dengan volume 34,23 miliar saham, sementara investor asing membukukan jual bersih Rp350,71 miliar.
Di antara saham dengan aktivitas perdagangan tinggi, pergerakannya bervariasi. BUMI turun 1,0% ke 194, setelah bergerak di kisaran 193–202. DSSA menguat 1,4% ke 1.065, dengan rentang perdagangan 1.050–1.100. Sementara itu, BBCA melemah 0,8% ke 6.400, setelah sempat turun ke 6.350 dan mencapai level tertinggi 6.450.
Mayoritas Bursa Asia Melemah, Imbal Hasil Global Tetap Tinggi
Mayoritas bursa utama Asia turut berada di zona merah pada perdagangan Senin. KOSPI Korea Selatan anjlok 3,12%, Hang Seng turun 1,89%, Nikkei 225 melemah 0,74%, Shanghai Composite terkoreksi 0,59%, dan STI Singapura turun 0,15%. ASX Australia menjadi pengecualian dengan kenaikan 0,49%. Pelemahan regional terjadi meski Wall Street pada perdagangan Jumat ditutup positif, dengan Dow Jones naik 0,98%, S&P 500 bertambah 0,44%, dan Nasdaq menguat 0,44%.
Sentimen global masih dibayangi tingginya imbal hasil obligasi dan ketidakpastian geopolitik. Kontrak berjangka saham AS melemah pada Senin di tengah rencana Departemen Keuangan AS untuk menaikkan buyback obligasi jangka panjang menjadi US$4 miliar per operasi. Imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun sebelumnya mencapai level tertinggi dalam hampir dua dekade, membatasi selera risiko.
Risiko geopolitik tetap membayangi pasar ketika AS bersiap mengumumkan “economic D-Day” terhadap Iran, berupa ofensif finansial baru yang dapat menyasar Teheran dan mitra dagangnya. Namun, harga minyak justru terkoreksi pada perdagangan Senin, dengan Brent turun 1,59% ke sekitar US$92,89 per barel dan WTI melemah 2,30% ke US$85,06, ketika pasar menunggu perincian sanksi baru tersebut.
Rebalancing FTSE dan MSCI Menjadi Perhatian
Dari dalam negeri, defisit transaksi berjalan Indonesia yang dirilis Jumat lalu melebar menjadi US$12,49 miliar atau 3,34% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal kedua, dari US$3,6 miliar atau 0,97% PDB pada kuartal sebelumnya. Namun, transaksi modal dan finansial mencatat surplus US$12,0 miliar, sehingga defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) menyempit menjadi US$0,9 miliar dari US$9,1 miliar pada kuartal pertama.
Investor juga mencermati perubahan komposisi indeks FTSE Russell dan MSCI yang berpotensi memicu penyesuaian portofolio. Dalam rebalancing FTSE untuk periode September 2026, BSDE diturunkan dari Mid Cap ke Micro Cap, sementara LPKR dan SMRA termasuk saham yang berpindah dari Small Cap ke Micro Cap. Perubahan akan efektif mulai 21 September. Sementara itu, MSCI mengeluarkan GOTO dan CPIN dari Global Standard Index dalam tinjauan Agustus, dengan perubahan berlaku efektif 1 September.
Pasar Tunggu PCE AS dan Pidato Warsh
Perhatian investor berikutnya akan beralih ke data Indeks Harga Belanja Konsumsi Perorangan (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS bulan Juli dan estimasi kedua PDB AS kuartal kedua yang dijadwalkan rilis pada Rabu, 26 Agustus. Estimasi awal menunjukkan ekonomi AS tumbuh 1,5% tahunan (annualized rate) pada kuartal II, melambat dari 2,1% pada kuartal I. Data PCE akan menjadi salah satu petunjuk utama mengenai perkembangan tekanan inflasi dan prospek kebijakan moneter The Fed.
Pasar juga menantikan pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada Jumat, terutama untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga dan kebijakan neraca bank sentral. Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed, perkembangan konflik AS–Iran, serta pergerakan harga minyak berpotensi memengaruhi selera risiko global.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Lanjutkan Reli saat Pasar Tunggu PCE AS dan Pidato Warsh di Jackson Hole
USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.705 Jelang Perincian Sanksi Iran oleh Bessent
Sepekan ke Depan: Jackson Hole dan Hasil Nvidia akan Mengalihkan Fokus dari Trump
Inilah yang saya pelajari saat trading koin meme
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Senin, 24 Agustus:
Pasar keuangan tetap relatif tenang untuk memulai pekan baru karena para investor menahan diri untuk tidak mengambil posisi besar menjelang agenda penting pekan ini. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dijadwalkan menggelar konferensi pers pada pukul 18:00 GMT (01:00 WIB) untuk mengumumkan sanksi Iran yang disebut sebagai 'economic D-Day'. Bessent menjelaskan bahwa AS bertujuan untuk “memutus setiap jalur kehidupan ekonomi” yang menopang Iran.