- IHSG ditutup turun 0,43% ke 6.121 pada Selasa setelah sempat terperosok ke 6.013.
- Sektor teknologi anjlok 3,37% ketika GOTO kembali menyentuh ARB, sementara sektor siklikal dan industri justru menguat masing-masing 0,70% dan 0,50%.
- Tingginya harga minyak dan imbal hasil Treasury AS masih membayangi pasar; investor kini menantikan data tenaga kerja dan inflasi AS serta inflasi Indonesia pekan ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa, 29 September 2026, turun 26 poin atau 0,43% ke 6.121, masih bertahan dalam tren bearish. Tekanan sempat jauh lebih dalam ketika indeks menyentuh 6.013, atau sekitar 2,18% di bawah penutupan Senin di 6.147, sebelum berbalik naik hingga sempat mencapai 6.150. Pemulihan dari level terendah terjadi di tengah penguatan sejumlah saham berkapitalisasi besar, tetapi tekanan pada saham teknologi serta sentimen global dari kenaikan harga minyak, imbal hasil obligasi AS, dan Rupiah yang sempat menembus Rp18.000 per Dolar AS masih membatasi pasar. Imbal hasil Treasury AS 10 tahun bahkan sempat mencapai 5,27%, tertinggi dalam sekitar 19 tahun.
Teknologi Tertekan, GOTO Kembali Menyentuh ARB
Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi yang anjlok 3,37%, disusul properti 1,32% dan energi 1,10%. Sebaliknya, sektor barang konsumen siklikal naik 0,70%, industri 0,50%, sedangkan keuangan dan infrastruktur bertahan tipis di zona hijau. Indeks LQ45 turun 0,60% ke 608 dan IDX30 melemah 0,57% ke 337. Di antara saham yang ramai diperdagangkan, BBCA turun 1% ke 6.150 dan CUAN melemah 2% ke 890, sementara BMRI naik tipis ke 4.030, BBRI menguat ke 3.170, dan TLKM berakhir di 2.380.
GOTO menjadi salah satu sumber tekanan utama pada sektor teknologi setelah kembali menyentuh batas auto rejection bawah dan turun sekitar 14% ke Rp37. Pelemahan terjadi pada hari kedua sejak BEI menurunkan batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1, kebijakan yang dimaksudkan untuk memperbaiki likuiditas dan pembentukan harga. IHSG sendiri sempat turun sekitar 2,2% pada awal sesi ketika pasar menyesuaikan diri dengan aturan baru tersebut.
Minyak dan Imbal Hasil AS Menahan Sentimen Pasar
Tekanan eksternal masih datang dari tingginya harga energi dan imbal hasil obligasi global. Wall Street pada perdagangan Senin berakhir melemah, dengan Dow Jones turun 0,67%, S&P 500 0,77%, dan Nasdaq 0,92%, ketika lonjakan minyak dan imbal hasil Treasury meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi serta prospek pengetatan The Fed. Di Asia, pergerakan juga cenderung beragam: Nikkei turun 0,60%, KOSPI 0,27%, STI 0,25%, dan Hang Seng 0,48%, sementara ASX 200 serta Shanghai Composite masing-masing naik 0,34% dan 0,18%.
Tim strategi valuta asing Scotiabank menilai minyak tetap menjadi fokus utama pasar karena besarnya kenaikan harga energi dan berapa lama kondisi tersebut bertahan dapat memengaruhi respons bank sentral. Minyak sempat menguat tajam pada awal sesi Eropa di tengah kekhawatiran pasokan Timur Tengah dan negosiasi AS–Iran yang belum menghasilkan terobosan. Sekitar pukul 15.05 WIB, WTI masih naik 0,91% ke US$93,44 per barel dan Brent menguat 1,29% ke US$106,64. Namun memasuki pertengahan sesi Eropa, keduanya berbalik melemah, dengan WTI turun ke sekitar US$92,48 dan Brent ke US$105,13 per barel.
Volatilitas tersebut muncul ketika AS dan Iran kembali melakukan pembicaraan terpisah melalui mediator, sementara ketidakpastian tetap tinggi setelah Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak proposal Iran yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz. Jika harga energi bertahan tinggi dalam waktu lama, pasar berisiko memperbesar ekspektasi kenaikan suku bunga, mempertahankan imbal hasil global pada level tinggi, dan menambah tekanan terhadap aset emerging market.
Pasar Bersiap Hadapi Short Selling dan Data Ekonomi
Dari dalam negeri, perhatian mulai beralih ke dimulainya transaksi short selling pada 1 Oktober. BEI menetapkan ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF sebagai lima saham pertama yang dapat diperdagangkan melalui mekanisme tersebut. Kebijakan ini tidak serta-merta memberi tekanan pada IHSG, tetapi dapat menambah dinamika perdagangan ketika pasar masih beradaptasi dengan batas harga minimum Rp1 dan volatilitas global yang tinggi.
Fokus investor selanjutnya juga tertuju pada sejumlah data ekonomi penting. Dari AS, pasar menantikan JOLTS, inflasi PCE, serta laporan ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) yang dapat mengubah ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed. Dari dalam negeri, perhatian akan tertuju pada inflasi Indonesia pada awal Oktober, setelah inflasi Agustus tercatat 3,19% YoY. Kombinasi data tersebut, bersama pergerakan minyak, imbal hasil Treasury AS, dan Rupiah, akan menjadi penentu penting bagi arah IHSG pada sisa pekan ini.
Pertanyaan Umum Seputar Saham Asia
Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.
Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.
Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.
Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Stabil setelah Turun Tajam saat Pedagang Menilai Prospek The Fed, Risiko Timur Tengah
Apa yang Mendorong Dolar Australia Turun di Bawah 0,7000 saat RBA Menaikkan Suku Bunga ke 4,60%?
Hari yang Sibuk Menanti
Kripto Hari Ini: Bitcoin, Ethereum, XRP Koreksi Naik di Tengah Menurunnya Arus Masuk ETF
Pasar mata uang kripto (Cryptocurrency) mempertahankan bias netral ke bullish pada hari Selasa, dengan Bitcoin semakin dekat untuk menembus di atas $84.000. Altcoin mencerminkan prospek BTC, dengan Ethereum bertahan di atas $2.700 dan Ripple mendorong melewati level $1,50 yang berhasil direbut kembali.
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Selasa, 29 September:
Dolar AS tetap tangguh terhadap mata uang utama lainnya menyusul pergerakan yang lesu pada hari Senin. Pada paruh kedua hari ini, Indeks Keyakinan Konsumen untuk bulan September dan data Lowongan Kerja JOLTS untuk bulan Agustus akan ditampilkan dalam kalender ekonomi AS. Selain itu, beberapa pengambil kebijakan Federal Reserve dijadwalkan untuk menyampaikan pidato.