- IHSG mencatatkan tertinggi baru bulan ini di area 6.144, menindaklanjuti kinerja kemarin.
- Realisasi investasi Indonesia untuk Semenster I mencapai Rp1.010,6 triliun.
- Perkembangan geopolitik menuntun pergerakan pasar jelang keputusan suku bunga BI.
IHSG bergerak lebih tinggi 0,37% di 6.130,68 dari penutupan kemarin pada sesi I Jumat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia dibuka di 6.112,84 dan mencatatkan terendah dan tertinggi hari masing-masing di 6.079,31 dan 6.144,49 di awal pembukaan. Level tersebut juga merupakan level tertinggi baru Juli 2026. Indeks berupaya menindaklanjuti kenaikan lebih dari 1% kemarin di tengah kabar bahwa realisasi investasi Indonesia mencapai lebih dari Rp1.000 triliun di Semester I 2026 dan penguatan Rupiah ke level-level di bawah Rp18.000 terhadap Dolar AS. Meskipun demikian, konflik di Timur Tengah berisiko mengimbangi sentimen positif.
Hingga sejauh ini, INFOBANK15 (+2,20%) kembali menjadi indeks dengan kenaikan tertinggi, terutama diangkat oleh BBYD (+9,40%), ARTO (+7,55%), dan BBTN (+6,20%). Aksi beli para investor merupakan satu-satunya pendorong kinerja positif saham-saham di atas di tengah absennya aksi korporasi selain PT Bank Tabungan Negara Tbk. yang merilis Materi Analyst Meeting per Juni 2026.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia sekaligus Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menginformasikan pada Kamis kemarin bahwa realisasi investasi di Indonesia pada Semester I 2026 sebesar Rp1.010,6 triliun yang setara dengan 49,5% target investasi nasional. Investasi tersebut menyerap 1.448.862 tenaga kerja, naik 15% dibandingkan tahun lalu. Komposisi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) cukup seimbang, dengan perincian PMDN Rp502,9 triliun dan PMA sebesar Rp507,6 triliun. Urutan investor negara asal dari sisi besaran investasinya adalah Singapura, Hong Kong, Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat di Semester I.
Keputusan suku bunga Bank Indonesia pada Rabu pekan depan merupakan peristiwa penting terdekat dalam kalender ekonomi Indonesia. Para investor akan mengamati tindak lanjut apa yang akan dilakukan bank sentral menyusul dua kenaikan suku bunga hanya pada bulan Juni saja yang membuat BI-Rate naik menjadi 5,75% yang salah satunya untuk menjaga stabilitas Rupiah.
Mengisi kekosongan tersebut, perkembangan geopolitik di Timur Tengah mengambil alih pendorong sentimen secara umum karena memengaruhi harga minyak dunia yang pada akhirnya berefek pada kemampuan belanja masyarakat. Iran meminta milisi Houthi Yaman untuk bersiap menutup jalur minyak Laut Merah jika Amerika Serikat menyerang infrastruktur energi Iran, seperti diinformasikan oleh Reuters hari Kamis kemarin. Sebelumnya pada pekan ini, Presiden AS, Donald Trump, mengancam menyerang jembatan dan pembangkit listrik Iran pekan depan jika mereka tidak kembali ke meja perundingan. Minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di area $79,11 per barrel di seputar kabar di atas, bergerak sideways setelah naik sejak Senin lalu hingga mencapai tertinggi baru Juli di level-level di atas $80 per barrel.
Imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun berada di 7,237% yang belum berubah pada basis harian Jumat ini. Pada dasarnya, imbal hasil ini juga tidak bergerak sepanjang hari kemarin di level ini, memperpanjang pergerakan sideways jangka pendek yang terbentuk akhir bulan lalu.
Indikator Ekonomi
Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia
Keputusan Tingkat Suku Bunga diumumkan oleh Bank Indonesia. Kebijakan Moneter mengacu pada tindakan yang dilakukan oleh otoritas moneter suatu negara, bank sentral atau pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu dalam ekonomi nasional. Hal ini didasarkan pada hubungan antara suku bunga di mana uang dapat dipinjam dan pasokan total uang.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Jul 22, 2026 07.30
Frekuensi: Tidak teratur
Konsensus: -
Sebelumnya: 5.75%
Sumber: Bank Indonesia
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Yen Jepang Melemah di Tengah Pembaruan Ketegangan AS-Iran, Jepang Isyaratkan Risiko Intervensi
Dolar Australia Menjauh dari Puncak Tiga Minggu saat Prakiraan Kenaikan Suku Bunga The Fed Angkat Dolar AS
Emas Pullback sebelum Penurunan Berikutnya