IHSG Melonjak 1,14% ke 6.599, Bank dan Industri Pimpin Reli di Tengah Tekanan Asia


  • IHSG naik 1,14% atau 74 poin ke 6.599, setelah bergerak antara 6.535 dan 6.608 pada perdagangan Selasa.
  • Sektor industri, teknologi, dan perbankan memimpin kenaikan IHSG, sementara BBRI naik 4%, BUMI 7,3%, dan CUAN 11%.
  • IHSG bergerak berlawanan dengan mayoritas bursa Asia, ketika pasar juga mencerna inflasi dan neraca dagang Indonesia menjelang PMI Manufaktur ISM dan JOLTS AS.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan September dengan kenaikan tajam pada Selasa, ditutup naik 1,14% atau 74 poin ke 6.599. Indeks dibuka di 6.538, sempat turun ke 6.535 sebelum melaju hingga 6.608. Saham industri, teknologi, dan perbankan memimpin penguatan, ketika pasar mencerna serangkaian data domestik yang beragam, mulai dari surplus perdagangan, kenaikan inflasi hingga PMI manufaktur yang kembali mengalami kontraksi. Pengesahan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) turut menjadi perhatian, sementara IHSG bergerak berlawanan dengan mayoritas bursa Asia yang melemah dan kontrak berjangka Wall Street yang berada di zona merah menjelang PMI Manufaktur ISM dan JOLTS AS malam ini.

Industri, Teknologi, dan Bank Memimpin Kenaikan

Penguatan IHSG dipimpin IDXINDUST yang melonjak 3,71% ke 1.666, diikuti IDXTECHNO yang naik 2,91% ke 7.034 dan PRIMBANK10 yang bertambah 2,43% ke 162. Sebaliknya, IDXINFRA turun 0,12% ke 1.919 dan IDXBASIC melemah 0,56% ke 1.822. Kenaikan indeks membawa IHSG sempat menembus 6.600 sebelum memangkas sebagian kenaikannya menjelang penutupan.

Di antara saham yang aktif diperdagangkan, BBRI naik 4% ke Rp3.380 dan berakhir di level tertinggi hariannya. BUMI melonjak 7,3% ke Rp206 setelah sempat menyentuh Rp208, sedangkan CUAN melesat 11% ke Rp905.

Surplus Dagang Kembali, tetapi PMI Masuk Kontraksi

Dari dalam negeri, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus sekitar US$0,12 miliar pada Juli, setelah mengalami defisit selama tiga bulan berturut-turut. BPS melaporkan ekspor mencapai US$26,22 miliar atau naik 6,05% secara tahunan, sementara impor melonjak 27,02% menjadi US$26,09 miliar. Surplus tersebut lebih baik dibandingkan prakiraan pasar yang sebelumnya mengantisipasi defisit. Namun, kenaikan impor yang jauh lebih cepat daripada ekspor—termasuk lonjakan impor minyak sekitar 50%—menunjukkan tekanan terhadap neraca eksternal belum sepenuhnya mereda.

Pada saat yang sama, inflasi Indonesia meningkat menjadi 3,19% YoY pada Agustus dari 2,88% pada Juli, dengan inflasi bulanan sebesar 0,21%. Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi BI sebesar 2,5% ±1%, tetapi kenaikannya terjadi ketika harga energi global kembali tinggi. Sementara itu, PMI Manufaktur Indonesia turun menjadi 49,8 dari 50,2, kembali di bawah batas 50 yang memisahkan ekspansi dan kontraksi.

Pergerakan manufaktur Indonesia berbeda dengan sebagian besar negara Asia. Reuters melaporkan permintaan global terhadap chip, komputer, dan perangkat terkait kecerdasan buatan menopang ekspansi manufaktur Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan pada Agustus. PMI manufaktur swasta Tiongkok naik menjadi 51,5, Jepang mencapai 54,9, sementara Korea Selatan bertahan di wilayah ekspansi pada 52,3.

Destry Disetujui DPR, Pasar Menanti Data AS

Dari sisi kebijakan, DPR pada Selasa menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur BI, setelah Komisi XI sebelumnya mendukung pencalonannya. Destry mengatakan stabilitas tetap menjadi prioritas bank sentral di tengah ketidakpastian global dan menegaskan kebijakan yang dinilai tepat akan dilanjutkan. Pengesahan tersebut mengakhiri salah satu tahapan penting transisi kepemimpinan BI setelah pengunduran diri Perry Warjiyo pada Juli.

Kenaikan IHSG terjadi ketika mayoritas bursa utama Asia berada di zona merah. Hang Seng turun 0,93%, Straits Times melemah 0,98%, Nikkei 225 kehilangan 0,15%, Shanghai Composite turun 0,16%, dan ASX melemah 0,10%, sementara KOSPI naik 0,23%. Bursa Wall Street juga bergerak turun, dengan Dow melemah sekitar 0,70%, S&P 500 0,33%, dan Nasdaq 0,12%.

Tekanan global masih datang dari harga Brent yang berada di atas US$91 per barel dan kenaikan imbal hasil Treasury AS ketika pasar meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko inflasi. Fokus selanjutnya beralih ke PMI Manufaktur ISM dan data JOLTS AS malam ini, yang dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed dan sentimen pasar berikutnya.

Indikator Ekonomi

PMI Manufaktur ISM

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Institute for Supply Management (ISM), yang dirilis setiap bulan, merupakan indikator utama yang mengukur aktivitas bisnis di sektor manufaktur AS. Indikator tersebut diperoleh dari survei terhadap eksekutif pemasok manufaktur berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan di organisasi masing-masing. Respons survei mencerminkan perubahan, jika ada, pada bulan ini dibandingkan bulan sebelumnya. Angka di atas 50 menunjukkan bahwa ekonomi manufaktur secara umum berkembang, yang merupakan tanda bullish bagi Dolar AS (USD). Angka di bawah 50 menandakan aktivitas pabrik secara umum menurun, yang dipandang sebagai bearish bagi USD.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Sel Sep 01, 2026 14.00

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 55.2

Sebelumnya: 55.6

Sumber: Institute for Supply Management

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Institute for Supply Management (ISM) memberikan pandangan yang andal terhadap keadaan sektor manufaktur AS. Data di atas 50 menunjukkan bahwa aktivitas bisnis berkembang selama periode survei dan sebaliknya. IMP dianggap sebagai indikator utama dan dapat menandakan pergeseran siklus ekonomi. Hasil cetak yang lebih kuat dari perkiraan biasanya berdampak positif pada USD. Selain IMP utama, data Indeks Ketenagakerjaan dan Indeks Harga yang Dibayar diawasi dengan cermat karena keduanya menyoroti pasar tenaga kerja dan inflasi.

Bagikan: Pasokan berita

Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.

Ikuti kami di Telegram

Dapatkan pembaruan semua berita

Gabung Telegram

Berita Terkini


Berita Terkini

Pilihan Editor

Lowongan Kerja JOLTS AS Diprakirakan Menunjukkan Pasar Tenaga Kerja yang Stabil

Lowongan Kerja JOLTS AS Diprakirakan Menunjukkan Pasar Tenaga Kerja yang Stabil

Biro Statistik Tenaga Kerja AS memiliki agenda yang padat pekan ini, dengan serangkaian rilis data ketenagakerjaan penting. Rangkaian tersebut akan dimulai pada hari Selasa dengan publikasi Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) bulan Juli pada pukul 14:00 GMT (21:00 WIB).
USD/IDR: Rupiah Bertahan di Rp17.710, Surplus Dagang Imbangi Minyak jelang ISM dan JOLTS AS

USD/IDR: Rupiah Bertahan di Rp17.710, Surplus Dagang Imbangi Minyak jelang ISM dan JOLTS AS

Rupiah Indonesia (IDR) mengakhiri perdagangan Selasa tanpa perubahan terhadap Dolar AS (USD), dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.710, sama dengan posisi Senin. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI), di sisi lain, menguat 19 poin menjadi Rp17.727 dari Rp17.746.
Valas Harian: Dolar Sulit Melepaskan Diri dari Tema Debasement Trade

Valas Harian: Dolar Sulit Melepaskan Diri dari Tema Debasement Trade

Dolar gagal mempertahankan kenaikan pasca-Jackson Hole. Kami menduga kinerja yang lebih lemah pada imbal hasil AS tenor panjang menjaga pasar tetap waspada terhadap lebih banyak intervensi Treasury, sehingga mendorong debasement trade.
Lowongan Kerja JOLTS AS Diprakirakan Menunjukkan Pasar Tenaga Kerja yang Stabil

Lowongan Kerja JOLTS AS Diprakirakan Menunjukkan Pasar Tenaga Kerja yang Stabil

Biro Statistik Tenaga Kerja AS memiliki agenda yang padat pekan ini, dengan serangkaian rilis data ketenagakerjaan penting. Rangkaian tersebut akan dimulai pada hari Selasa dengan publikasi Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) bulan Juli pada pukul 14:00 GMT (21:00 WIB).
Berikut yang perlu Anda ketahui pada Selasa, 1 September:

Berikut yang perlu Anda ketahui pada Selasa, 1 September:

Aksi di pasar finansial tetap relatif tenang pada hari perdagangan pertama bulan September karena perhatian para investor beralih ke angka inflasi pendahuluan bulan Agustus dari Zona Euro dan rilis data makroekonomi tingkat menengah dari Amerika Serikat.

MATA UANG UTAMA

INDIKATOR EKONOMI

ANALISA