- IHSG turun 0,38% atau 24 poin ke 6.436 dan ditutup tepat di level terendah harian, setelah sempat menguat hingga 6.535.
- Infrastruktur, teknologi, dan konsumer siklikal menjadi pemberat utama, sementara BBCA dan BMRI masing-masing turun sekitar 1%.
- Mayoritas bursa Asia menguat menjelang keputusan The Fed, meski Wall Street sebelumnya melemah di tengah kekhawatiran terhadap harga energi dan stagflasi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Rabu, turun 0,38% atau 24 poin ke 6.436 dari 6.461 pada Selasa. IHSG dibuka di 6.453 dan sempat menguat hingga 6.535, tetapi berbalik turun dan ditutup tepat di level terendah harian. Saham perbankan, teknologi, dan infrastruktur membebani indeks ketika pasar masih mencermati arah kebijakan fiskal di bawah Menteri Keuangan Suahasil Nazara. Dari eksternal, mayoritas bursa Asia menguat menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed), meski kekhawatiran terhadap harga energi dan risiko stagflasi tetap membayangi setelah Wall Street kembali melemah.
Saham Bank dan Teknologi Membebani IHSG, Arah Fiskal Masih Dicermati
Mayoritas sektor berakhir di zona merah. Infrastruktur (IDXINFRA) turun 1,39%, diikuti teknologi (IDXTECHNO) dan konsumer siklikal (IDXCYCLIC) yang masing-masing melemah 1,14% dan 1,12%. Energi terkoreksi 0,62%, sedangkan sektor keuangan turun 0,42%. Sebaliknya, sektor industri (IDXINDUST) menjadi penahan utama dengan kenaikan 0,91%, sementara konsumer primer menguat tipis 0,11%.
Tekanan juga terlihat pada saham-saham berkapitalisasi besar. LQ45 turun 0,58%, IDX30 melemah 0,71%, dan IDX80 terkoreksi 0,67%. BBCA turun sekitar 1% ke Rp6.325 dan BMRI melemah sekitar 1% ke Rp4.260. BBRI relatif bertahan di Rp3.330, sedangkan AMMN menguat sekitar 1% ke Rp5.150. Pelemahan saham bank turut tercermin pada PRIMBANK10 dan INFOBANK15 yang turun, masing-masing 0,82% dan 0,94%.
Sementara itu, pasar masih mencermati arah kebijakan fiskal setelah Suahasil Nazara dilantik sebagai Menteri Keuangan. Commerzbank menilai profil teknokrat Suahasil dan penekanannya pada kehati-hatian fiskal memberi sedikit ketenangan kepada pasar, tetapi investor masih menunggu bukti bahwa kepemimpinan baru di Kementerian Keuangan akan menghasilkan kebijakan fiskal yang lebih kredibel dan dapat diprediksi. Suahasil sendiri telah menegaskan komitmen menjaga kesehatan dan kredibilitas APBN, termasuk mempertahankan defisit di bawah 3%.
Bursa Asia Menguat, Wall Street Masih Tertekan
Pergerakan IHSG berbeda dengan mayoritas pasar saham regional. KOSPI naik 1,37%, Shanghai Composite 0,71%, Nikkei 225 0,69%, ASX 0,28%, dan Hang Seng 0,19%, sementara STI turun tipis 0,06%. Penguatan Asia terjadi setelah tekanan di Wall Street pada sesi sebelumnya, ketika Nasdaq turun sekitar 0,78%, Dow Jones 0,63%, dan S&P 500 0,45%.
Henry Allen dan tim analis Deutsche Bank mencatat bahwa S&P 500 telah turun ke posisi terendah dalam enam pekan, ketika kenaikan harga energi memperbesar kekhawatiran terhadap kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan yang melemah. Menurut mereka, pelemahan saham AS berlangsung cukup luas, meski saham semikonduktor mulai stabil. Deutsche Bank menilai telah terjadi “pergeseran momentum yang jelas” dibandingkan awal Agustus.
Menjelang keputusan The Fed, Deutsche Bank mencatat pasar memperhitungkan sekitar 94% probabilitas kenaikan suku bunga, sementara ekonom bank tersebut juga memprakirakan langkah serupa. Fokus investor berikutnya akan tertuju pada panduan Ketua The Fed dan pembaruan dot plot. Tekanan pasar sedikit mereda di Asia setelah kontrak berjangka Brent turun 1,03% ke sekitar US$107,63 per barel dan imbal hasil Treasury AS 10-tahun turun sekitar 1,6 basis poin ke 4,99%, tetapi ketidakpastian mengenai arah suku bunga AS tetap membatasi selera risiko.
Indikator Ekonomi
Keputusan Suku Bunga The Fed
Federal Reserve (The Fed) berunding tentang kebijakan moneter dan membuat keputusan tentang suku bunga pada delapan pertemuan yang dijadwalkan sebelumnya per tahun. The Fed memiliki dua mandat: untuk menjaga inflasi pada 2%, dan untuk mempertahankan lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai hal ini adalah dengan menetapkan suku bunga – baik di mana The Fed meminjamkan ke perbankan dan perbankan saling meminjamkan. Jika The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga, Dolar AS (USD) cenderung menguat karena menarik lebih banyak arus masuk modal asing. Jika The Fed memangkas suku bunga, hal ini cenderung melemahkan USD karena modal mengalir keluar ke negara-negara yang menawarkan pengembalian yang lebih tinggi. Jika suku bunga dibiarkan tidak berubah, perhatian beralih ke nada pernyataan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC), dan apakah FOMC hawkish (mengharapkan suku bunga masa depan yang lebih tinggi), atau dovish (mengharapkan suku bunga masa depan yang lebih rendah).
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Sep 16, 2026 18.00
Frekuensi: Tidak teratur
Konsensus: 4%
Sebelumnya: 3.75%
Sumber: Federal Reserve
Informasi mengenai halaman-halaman ini berisi pernyataan berwawasan untuk masa mendatang yang melibatkan risiko dan ketidakpastian. Pasar dan instrumen yang diprofilkan di halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai rekomendasi untuk membeli atau menjual sekuritas. Anda harus melakukan riset secara menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi apa pun. FXStreet tidak menjamin bahwa informasi ini bebas dari kesalahan, galat, atau salah saji material. Juga tidak menjamin bahwa informasi ini bersifat tepat waktu. Berinvestasi di Forex melibatkan banyak risiko, termasuk kehilangan semua atau sebagian dari investasi Anda, dan juga tekanan emosional. Semua risiko, kerugian dan biaya yang terkait dengan investasi, termasuk kerugian total pokok, merupakan tanggung jawab Anda.
Berita Terkini
Pilihan Editor
Emas Konsolidasi di Bawah US$4.350 Jelang Keputusan The Fed
USD/IDR: Rupiah Berbalik Menguat ke Rp17.675 Jelang Keputusan The Fed
Pratinjau FOMC: Kenaikan Suku Bunga Sudah Diperhitungkan saat Pasar Menunggu Panduan Kebijakan
Penembusan bearish Cardano memperingatkan risiko penurunan 15%
Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Rabu, 16 September:
Dolar AS datar di dekat level tertinggi dua pekan di sekitar 99,60 pada awal perdagangan Eropa. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun acuan diperdagangkan di 4,992% setelah mencoba menguji kembali level 5%, yang merupakan level tertingginya sejak 2007. Federal Reserve AS akan mengumumkan keputusan suku bunganya pada hari Rabu nanti, diikuti oleh konferensi pers oleh Ketua The Fed Kevin Warsh.